Endingnya dinilai kurang memuaskan, sutradara #TheScarecrow bilang kalau mereka emang sengaja gak bikin ending yang melegakan atau penuh balas dendam manis ala drama kriminal pada umumnya.
Karena in real casenya, korban pun gak bener bener mendapat keadilan. Pelaku dan orang orang yang terlibat banyak yang gak dihukum dengan layak, jadi menurut mereka gak masuk akal kalau dramanya tiba tiba kasih ending super memuaskan cuma demi penonton.
Drama ini sendiri terinspirasi dari kasus pembunuhan berantai Hwaseong. Sutradaranya pernah bertemu langsung dengan korban salah tuduh yang dipaksa ngaku sampai dipenjara 20 tahun, juga keluarga korban pembunuhan asli. Setelah ketemu mereka, dia memutuskan bikin drama yang fokus ke luka dan hidup orang orang yang ditinggalkan tragedi itu, bukan sekadar cari sensasi siapa pelakunya.
Makanya di The Scarecrow, rasa sesak dan frustrasinya sengaja dipertahankan sampai akhir. Bahkan awalnya pihak studio dan stasiun TV sempat request minta ending yang lebih sat-set memuaskan, tapi sutradaranya nolak. Dia bilang, "Masa iya penjahatnya tiba-tiba mati kesambar petir atau kecelakaan?"
the scarecrow ngeri banget daaah. tingkat akurasinya mencapai >90% kali yaa. kelakuan polisi sama jaksanya bener2 berasa rillll di tahun ituuu. KEREN BGT
Anies cuma capres gagal.
Ada mantan presiden alumni juga (katanya), tapi gapernah diundang buat acara sebesar ini yak.
UGM apa nggak bangga ya punya alumni mantan presiden.
Triset kemeja panjang kotak-kotak biru
size L
Hj : 299k
Hb : 65k (on shopee, incl admin fee)
LD : 100 cm
PB depan : 70 cm
PB blkang : 78 cm
πlink : https://t.co/ddo98YdMlS
GILAAAK ini, in real casenya malah lebih sedih π₯Ή
Artikel tahun 2022:
33 tahun yang lalu, ada siswi SD di Hwaseong yang hilang saat pulang sekolah. Polisi waktu itu bilang ke keluarganya kalau anak itu cuma kabur dari rumah, dan orang tuanya mempercayai itu selama lebih dari 30 tahun.
Tapi pada 2019, setelah kasus pembunuhan berantai Hwaseong diselidiki ulang dan Lee Chun Jae mengaku sebagai pelakunya, barulah terungkap kalau anak itu sebenarnya dibunuh.
Hasil penyelidikan ulang juga menemukan fakta mengejutkan: polisi dulu ternyata sudah menemukan tulang belulang dan barang milik korban, tapi malah menyembunyikannya.
Dua detektif diduga memanipulasi kasus itu dan mengubahnya jadi kasus anak hilang biasa. Ayah korban yang akhirnya tahu kebenaran sampai berkata:
"Yang membunuh memang pembunuhnya, tapi yang menutupi kasus ini rasanya lebih kejam lagi."
Sayangnya, para polisi yang menutupi kasus itu tidak bisa dihukum karena masa tuntutan hukumnya sudah habis.
Keluarga korban lalu menggugat negara pada tahun 2020. Dan pengadilan akhirnya memutuskan kalau polisi memang melakukan: penutupan kasus secara terorganisir, manipulasi penyelidikan, serta melanggar hak keluarga korban untuk mengetahui kebenaran dan berkabung dengan layak.
Negara akhirnya diperintahkan membayar ganti rugi sekitar 220 juta won kepada keluarga korban.
Yang paling sedih, kedua orang tua korban meninggal dunia sebelum sempat melihat putusan pengadilan keluar. Ibunya meninggal pada 2020, lalu ayahnya menyusul pada 2022, hanya dua bulan sebelum sidang putusan pertama selesai.
https://t.co/BGTUIdQCoa
BREAKING: media Jepang menyebut pemerintah Indonesia memakai buzzer untuk membungkam publik dengan cara menuduh warga yang kritis sebagai "antek-antek asing"
---
Antek-antek asing mendunia guys.