HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
@tempodotco Pak @prabowo:
1. Anda belum jg move on dr pilpres.
2. MBG menggunakan uang negara, bkn uang pribadi, jd tdk perlu merasa jd pahlawan.
3. Anda senggol Aceh dan Sumbar, bukti Anda tdk iklas utk negara, anda cari pengakuan dr yg tdk memilih Anda, itu namanya dendam pak.🤦♂️
Ramai soal polri baiknya dibawah presiden atau kementerian, kalo sy lebih suka dgn pendapat bpk ini.
Polri dibawah siapa itu ga penting, yg penting itu kualitas, kinerja dan prilaku polri itu sendiri.
@bestinformm Wah ini cara berfikir yg absurd.
Kesukarelaan vs Kewajiban.
(Pemerintah Malaysia vs Pemerintah Indonesia)
Spt ... bantuan dari Tetangga vs kewajiban Orang Tua
"Menteri Terbaik"
Sri Mulyani itu bukan orang yang butuh jabatan menteri. Kita yang butuh Menteri Keuangan sepintar dan sebaik dia.
Apa yang dia putuskan selama jadi menteri itu wujud dari kebijakan presiden. Kalau tidak suka kebijakannya, jangan salahkan dia, salahkan Presiden yang menyuruh dia membuat kebijakan itu.
Yang harus kita tahu, dia menjalankan kebijakan Presiden dengan sangat baik. Andai bukan dia, bisa saja hasil kebijakan dari Presiden itu makin buruk dampaknya ke masyarakat.
Saat pergantian Presiden dari Jokowi ke Prabowo, satu-satunya Menteri yang saya harapkan tetap dipakai adalah: Sri Mulyani. Dan saya senang karena waktu itu harapan saya terwujud.
Tapi sekarang beliau mundur karena negara tak melindungi dia secara pribadi. Dia seperti dijadikan kambing hitam atas kebijakan yang memang harus dia ambil.
Dia mau bantuin (beberapa) Presiden jadi menteri ya karena dia punya kecintaan pada negeri ini. Kalau mau mikir diri sendiri, dia sama sekali nggak butuh jabatan menteri.
Ingat, kita yang butuh dia.
Mojokerto, 9 September 2025
Hasyim Muhammad
Pak @prabowo rakyat akan percaya pemerintahan yang Bapak pimpin jika kabinetmu bersih dari Genk Solo.
1. Segera Bapak Copot Kapolri @ListyoSigitP
2. Pecat Semua Menteri Antek² @jokowi
3. Makzulkan Segera Anak Haram Konstitusi si @gibran_tweet
Jika Hal Itu Bapak Lakukan Maka Yakinlah Rakyat Akan Percaya Pada Bapak, Namun Jika Hal Itu Tidak Bapak Lakukan Maka Rakyat Akan Menganggap Bapak Sebagai "BONEKA" @jokowi dan Gelombang Perlawanan Rakyat Akan Terus Membesar Hingga Pemerintahan mu Di Tumbangkan.
Ingat Pak Dulu Alm Soeharto Yang Juga Mertuamu di Tumbangkan Rakyat, Padahal Saat Itu dia didukung ± 80% Anggota MPR / DPR dan Juga ABRI Sangat Loyal Padanya, Tapi Hanya Hitungan Bulan Semua Itu Berubah dan Beliau Dilengserkan dari Kekuasaannya.
https://t.co/maayVeGEft
Kita buka dulu Bagaimana awal Grup Tempo mengajukan surat tawaran kerjasama "menyukseskan" Program keberhasilan pemerintah di Kominfo.
Surat tertanggal 20 September 2024.
Mereka akan mengkampanyekan #terimaKasihJokowi 🤣
Kalau ada yang pingsan, knp yah orang2 heboh banget supaya korban cepet2 siuman dg cara:
- ditepok2
- ditampar2
- dikasih minyak kayu putih seleher sebadan
- didudukin
- dikasih minum
Ngapain?
Ga usah! Malah bahaya.
Otak sengaja biar badan pingsan dulu, eh malah dipaksa bangun.
Jika 𝗔𝗶𝗿𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗛𝗮𝗿𝘁𝗮𝗿𝘁𝗼, 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗛𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗶𝗺𝗶𝗻 𝗜𝘀𝗸𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿, 𝗞𝗵𝗼𝗳𝗶𝗳𝗮𝗵 𝗜𝗻𝗱𝗮𝗿 𝗣𝗮𝗿𝗮𝘄𝗮𝗻𝘀𝗮, 𝗘𝗺𝗶𝗹 𝗗𝗮𝗿𝗱𝗮𝗸, 𝗗𝗶𝘁𝗼 𝗔𝗿𝗶𝗼𝘁𝗲𝗱𝗷𝗼, 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗺𝗼𝗻𝗴 𝗗𝗲𝘀𝗮 terlibat tindak pidana korupsi dan/ atau tindak pidana lainnya, mestinya ditindak saja.
Tak perlu dijadikan sandera, lalu dimanfaatkan Pinokio Solo yg masih berkuasa, pun dengan daya rusaknya sungguh luar biasa.
.
.
Penegakan hukum & politisasi hukum itu dua hal yg berbeda.
Politisasi hukum itu seperti sianida yg diteteskan pada kopi yg diseruput Kapolri, Jaksa Agung hingga Ketua KPK, sebelum mereka briefing pagi.
Penguasa bisa berganti, datang dan pergi, lalu binasa, tapi institusi penegak hukum tetap harus ada (selamanya).
.
.
"𝙉𝙞𝙡𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖, 𝙧𝙪𝙨𝙖𝙠 𝙨𝙪𝙨𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙨𝙖"
.
.
#cenasuwok
Tak satu pun komandan militer Iran dan Korps Garda Revolusi terlihat selama upacara doa untuk jenazah Ismail Haniyeh di Teheran.
Ini hanya bisa berarti satu hal...