I don't know man, call me a pessimist, tapi udah berapa banyak cara dan acara upgrade diri? Tapi kita ttp susah cari kerja. Zaman orangtua kita rasanya gk sesusah ini. Kapan kita mengakui kalau ini masalah de-industrialisasi
Banyak laki-laki yang memilih untuk terlihat jelek, kumis lele, bau asem, mulut bau rokok, dan cuman pake kaos item belel bolong2 cuman karena gamau dicap "boti".
Untuk para cewek homofobik:
Nikmatilah ciuman dengan laki-laki bau jigong samsoe tersebut.
ada pelecehah oleh gay, lu attack orientasinya. ada ibu2 nyetir meleng, lu ketawain gendernya. trus ada orang misbehave di transum, lu olok2 latar belakangnya. emang gak becus argue tanpa ad hominem aja lu tuh. ga becus addressing sesuatu tanpa carried away dan nyerang personal.
Bayangin ada laki-laki hetero yang obsessed demen sama elo tapi lo nolak gak mau sama dia, bisa tuh dia ngancem nuduh lo lesbi biar lo di penjara atau milih nikah sama dia 💀
Buat yang terbiasa dapat priviles, k3setaraan itu seperti penjajahan
Kalo biasa punya keistimewaan, begitu disamain haknya selayaknya manusia, langsung ketar ketir
Too late disni tuh maksudnya kita udah kebentuk gitu loh. Ibarat pohon, batangnya udah keras, udah gabisa dibengkok²in diarah²in lagi. Trus mereka lembut² ke kita tuh buat apa coba? Percuma it's too late. They gotta enjoy what they cook all those years ago
Yg gw bingung tuh, kenapa ketus dan galaknya tuh pas kita kecil, when all we need was security, comfort and gentleness? Tapi 3 hal itu malah dikasih sama mereka pas kita udah dewasa when it's already too late
Anak LGBT bukan aib dan bukan penyakit. Mereka tetap manusia yang layak dihormati. Menyalahkan orang tua karena memiliki anak LGBT sama seperti menyalahkan orang tua karena anaknya terlahir kidal. Yang dibutuhkan keluarga adalah kasih sayang dan pengertian, bukan stigma. Bagaimana menurut anda?
Gue lebih takut jenis PHK dari industri tekstil dan apparel
Tahu ga kenapa?
Pertama, sebagian besar buruh industri itu dari lower class. Mereka nganggur, dampaknya langsung ke daya beli lower class..
Kedua, survival mereka lebih sulit. Buruh yang di-PHK kemungkinan besar akan lari ke pekerja informal. Dan ini akan ngaruh ke kesejahteraan mereka
Ketiga, pabrik tekstil itu menyerap pekerja perempuan. Kalau pekerja perempuan di-PHK, itu berdampak ke independensi perempuan itu sendiri dan juga bisa memperkuat potensi KDRT.
Keempat, tutupnya pabrik bakal berdampak ke ekonomi lokal dan informal. Ini akan langsung ngaruh ke pendapatan warung makan, kontrakan, ojek, laundry, toko kecil, pedagang asongan dll.
Kelima, buruh tekstil dan apparel tidak mudah pindah ke sektor formal lain. Skill mereka itu sangat spesifik, sehingga ga mudah direkrut oleh industri lain.
Akhirnya banyak yang turun kelas...
Dari pekerja bergaji tetap menjadi pekerja informal dengan pendapatan tidak pasti. Atau malah beneran jadi pengangguran.
Lama kelamaan, ini bakal ngaruh ke naiknya tingkat kriminalitas di daerah tersebut.
FOTO: ANTARA/Rosa Panggabean/Dok
Ini alasan tokoh “Mamdani Indonesia” itu ga ada
Mamdani, tripel minoritas di US: imigran, non kulit putih, non kristen, mengerti kalau perjuangan kaum marjinal & teropresi itu interseksional, krn itu berani mendukung hak lgbt DAN pro-palestina
Politisi Indo mana bisa