"Bapak, Iqra punya uang 18 ribu. Ayo makan bakso. Tapi bapak bayar sendiri."
"Uang dari mana?"
"Iqra kan di sekolah ga jajan."
"Terus mama gimana?"
"Ya bapak lah yang bayarin."
"Iqra, cuci dulu piringnya," tegur mamanya.
"Ah....," protes Iqra. "Besok kalau Iqra udah punya rumah sendiri, mama ga bisa lagi nyuruh-nyuruh Iqra," sungutnya.
"Iya, tapi disuruh-suruhnya sama istrimu," timpalku sebelum menyeruput kopi.
Algerian law does not recognize or respect the civil rights of LGBT persons. Officially, there are no gay-friendly establishments and no political organization is allowed to campaign for LGBT rights.
https://t.co/kEJMHgJvjZ
A young female boxer has just had everything sheโs worked and trained for snatched away because you allowed a male to get in the ring with her. Youโre a disgrace, your โsafeguardingโ is a joke and #Paris24 will be forever tarnished by the brutal injustice done to Carini.
"Bapak, kalau bermain bersama teman tu sesuai sila berapa?" tanya Iqra yg tengah mengerjakan PR.
"Sila 3," jawabku.
"Bukan Sila 2? Kan harus adil?"
"Ya bisa ga sesuai Pancasila kalau pada curang."
"Ah, ga jelas pertanyaannya," gerutunya.
"Badan kecil kyk bpk ini yg ga ada penyakit," kata tetangga menepuk pundakku. "Coba yg lain. Mulai bnyk pikiran, mulai kambuh tu gula, tensi, lambung."
"Ga juga, pak. Ini sakit ni kalau lg bnyk pikiran," imbuhku menunjuk pangkal buku jari.
"Rematik?"
"Gebukin sansak."