jujur.....gue suka banget tidur....soalnya kalo tidur gue ga overthink......kepala gue ga berisik......gue ga melihat/membaca hal2 yg triggering.....jadi ya gue menghilang aja gitu.....tapi ga meninggal......i'm not existing for a while......menikmati hari.....istirahatin pikiran
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
waktu gue kecil nyokap suka marah-marah, “punya 2 anak gadis ga bisa bantuin mama,” “anak gadis harus bisa blablablabla,” didikan nyokap keras ke anak perempuannya.
sekarang 2 anak gadisnya udah nikah, sisa adek gue yang bungsu laki-laki doang di rumah, keluyuran mulu sepulang kerjanya.
lalu nyokap ngeluh ke gue, “adek kamu kerjanya bangun siang, mandi, pergi kerja, pulang tengah malem tidur gitu lagi, ga pernah bantuin apa gitu di rumah.”
gue jawab aja, “ya lagian yang dimarahin anak perempuan mulu sih.”
“kok kamu jawabnya gitu sih?”
lah…..
Kalau lo tipe yang tiap habis ngobrol langsung overthink terus, kayak:
“anjir tadi gue salah ngomong gak sih…”
“dia kepikiran gak ya sama omongan gue?”
“kenapa gue awkward banget barusan 😭”
nah itu namanya...
-rl maaf numpang curhat, katanya kalo ada sesuatu harus dikomunikasikan tapi kalo tiap diomongin malah jadi berantem dan di matanya aku salah mulu, jadi aku harus apa lagi ya kira kira..... pindah ke hidungnya?
Mental health itu nyata. Bunuh diri itu nyata. Depresi juga nyata. Jadi hal-hal seperti ini tidak seharusnya dianggap sepele.
Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar. Mereka tetap bekerja, tetap tertawa, tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, mereka sedang menghadapi tekanan, kelelahan mental, atau perasaan yang sangat berat. Tidak semua luka terlihat secara fisik, tapi bukan berarti rasa sakitnya tidak ada.
Coba tonton Daily Doze of Sunshine. Cara gambarin orang depresinya dapet bgt. Kalo ada yg nganggep obat depresi itu keluarin duit, berarti dia ga bisa bedain yg namanya depresi dan sedih biasa
Jangankan keluar rumah, buat buka mata aja susah. Rasanya ga ada energi buat bangun dr kasur. Gw bahkan pernah ga makan dan mandi sampe lima hari sebelum akhirnya mutusin ke psikiater wkwk
Jd jangan sepelekan depresi dan melihat fenomenanya secara material
menurut gw titik tertinggi bucin itu ketika lo bisa compromising things. ketika dua orang tetap milih untuk saling ngerti, bahkan di hal-hal kecil, dan agree untuk adjusting biar bisa ketemu di tengah. thats love + maturity, and honestly i'm a sucker for that!!!
:(((((( setelah kenal stray kids, pandanganku terhadap hal bahagia atau menyenangkan tuh jadi kayak apa yang seungmin bilang... sesimple minum minuman seger dihari yang panas, makan buah enak😭 huhuhu suka banget buah (jadi TMI) dan banyak hal kecil lainnya dikehidupan sehari2 yang bisa buat seneng🥹💙
Gw ada temen, dia tuh bisa seharian di rumah cuma ngegame atau baca buku. Gak keluar, gak ngobrol sama siapapun, gak ngehubungin siapapun.
Dan dia baik baik aja.
Gw pernah chat dia siang, gak dibales. Sore, gak dibales. Malem baru muncul, 'oh sorry gw lagi asik.'
Asik ngapain? Ngegame sendirian. Atau baca buku sampe ketiduran.
Bukan karena dia lagi sedih. Bukan karena ada masalah. Emang itu hari normalnya dia.
Gw yang justru heran sendiri kok bisa ya? Gw sejam aja di rumah tanpa ada suara orang udah mulai gak karuan.
Tapi dia? Tenang. Gak gelisah. Gak ngerasa ada yang kurang.
Akhir-akhir ini kerjaan lagi gila-gilanya, dan teman gue jokingly said “udah lah dunia aja ini” 😭 walaupun bercanda tapi kayak jadi mantra gue menghadapi semuanya bcs indeed ini semua cuma dunia jadi jangan takut guys kita punya ALLAH (ngetik sambil nangis besok senin)
I’ve seen men walk away from 5–10 year relationships, then turn around and marry a woman they’ve known for 6 months suddenly doing all the things their ex begged for years. Word of advice, stop preaching to these men. They hear you. He’s just never going to become the man you want him to be because you’re not the woman he wants to be with. People don’t change for love in general, they change for who they truly want.
ada yg ngerasain/ngalamin gini gasih, tidur lu cukup, tapi tetep ngantuk. kalo kurang tidur, kelewatan ngantuknya. kelebihan tidur, tetep ngantuk dan walau dalam keadaan tidur pun lu tetep ngantuk. pokoknya dikit-dikit ngantuk, ada gasih?
Self calm itu skill dan bisa diasah, kalau dari diri sendiri selalu membenarkan panikkan dan gak mau belajar, akan terus seperti itu.
Lalu gimana latihannya? Tertekan dalam environment yang terkontrol, misalnya, memberikan deadline ke diri sendiri untuk melakukan sesuatu dan focus into it.
Bahkan hal seperti presentasi di depan kelas, lalu takut dipanggil guru/dosen untuk menjelaskan itu salah satu definisi tertekan dalam environment yang terkontrol.
Tujuannya apa? Membiasakan awareness diri sendiri untuk paham bahwa "hal beginian bisa dihadapi dengan cara tenang dan berpikir", sayangnya masih banyak yang lebih suka kabur daripada ngadepin masalah.