Ini beneran terjadi di kantor gue 11 tahun yang lalu. Jadi, Payroll Officer di kantor gue kongkalikong dgn Head of Personalia. Mereka bikin 2 slip gaji pegawai di kantor gue, satu untuk laporan ke bag. keuangan dan satu ke pegawai yang bersangkutan. Tiap slip gaji beda 500rb - 2 juta. Ketauannya pas boss gue bikin acara outing, ada acara feedback dari karyawan ke jajaran pimpinan. Di situ ada karyawan bilang gajinya cuma 6 juta sementara tanggung jawab yang dia kerjakan itu Job desc 2 department. Kagetlah kepala bagian keuangan gue. Akhirnya pulang outing crosscheck semua karyawan harus menyerahkan slip gaji terakhir kemudian dicocokkan sama slip gaji yang dilaporkan Payroll officer di sistem payroll (komputer). Dari total 148 karyawan, ditemukan ada selisih nyaris 250 juta tiap bulannya. Gila kan ? Nih konspirasi 2 orang ya dzholim ke karyawan ya dzholim ke perusahaan ๐ก๐ก๐ก
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000โRp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000โRp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Dulu di kantor, ada senior namanya Pak Agus. Hubungan gue sama beliau tu sebel-sayang. Sering saling jadi menyebalkan satu sama lain, tapi tiap ada makanan, selalu disisihkan untuk gue. Tiap istrinya masak makanan enak, selalu diselundupkan cuma untuk gue (soalnya nggak enak sama yang lain karena nggak kebagian). Kalau gue sendirian di ruangan, beliau selalu nungguin karena tahu gue penakut akut.
Gue tahu makanan apa yang beliau boleh makan dan nggak. Hampir setiap hari beliau minta dibelikan fish and fries ke gue karena cuma itu yang bisa beliau makan. Gue selalu ngomel kalau beliau lemburnya bablas karena gue tahu rumahnya jauh, dan beliau sudah nggak lagi bugar.
Beliau tipikal bapak-bapak teduh. Jalannya pelan, tertawanya renyah, kalau ngomel judes banget tapi sepersekian detik lunak lagi.
Ingat banget dulu satu unit ke Dufan, dan beliau cuma ikutin rombongan gue main, nunggu di depan wahana sambil lihatin kita. Kalau di suruh istirahat, nggak mau, bilangnya, โUdah main aja, bapak lihatin kalian.โ
Gue nggak peduli sebete apa orang-orang ke beliau kalau menyangkut kerjaan, bagi gue beliau adalah โBapaknya gue.โ
Sampai satu hari beliau meninggal. Di rumah duka, gue memperkenalkan diri ke istrinya, lalu di depan Pak Agus gue janji, โAku nggak akan lupa sama keluarga kecil Bapak.โ
Keluarga kecil yang selalu beliau banggakan. Cerita perjalanan cintanya yang selalu beliau ulang-ulang ke gue tiap jam 5 sore. Kesombongan beliau soal makanan istrinya yang enak. Kebanggaan beliau soal anaknya yang cerdas. Keluarganya kecil, hanya ada istri dan satu anak. Kalau dari cerita si Bapak, mereka berbahagia dalam sunyi.
Sampai hari ini, hubungan gue sama istrinya sangat baik. Dari anaknya masih SMP sampai sekarang sudah kuliah, jalinan silaturahim kita nggak terputus. Kalau ada apa-apa, istrinya selalu menghubungi. Tiap natal, beliau selalu kirim ayam bakar buatan sendiri dan tiap hari raya, gue selalu kirim nastar buatan Mamah.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Lebaran kemarin, istrinya kirim teflon buat Mamah. Katanya tiba-tiba ingat kalau si Mamah suka masak. Tahun kemarin, beliau kirim satu set sprei biru buat gue, katanya biar gue tidur nyenyak ๐ฅน
Gue bersyukur atas ikatan sederhana ini. Simpulnya nggak rumit tapi erat dan nggak terputus meskipun si penghubung utamanya hilang. Sebab setelah kepergian Bapak, kita punya penghubung baru. Kebaikan Pak Agus yang kita lestarikan bersama-sama.
Gue setuju dengan kalimat, โPanjang umur kebaikan.โ Orangnya memang mati, tapi baiknya terus hidup di sela-sela kehidupan kita yang masih bernapas di sini.
Wkwk gw jg pernah diginiin akhirnya oleh2 punya dia gw ambil lg. Terus dia kaget. Gw bales.
โKan lo gak mau? Bisa beli sendiri? Yaudah gw ambil lg buat yg mau2 aja.โ
Lagian ya orang beliin oleh2 sekecil apapun tuh berarti lo diinget sama orang itu. Bayangin dia pas pergi inget lo, masih effort handcarry.
Didi (Chinese Uber driver receives a warning from the platform for chatting with a female passenger.
This should make things clearer for you guys,
China is a literal dystopia.
You have zero privacy or freedom.
Beberapa hari lalu aku ngobrol sama penjual tahu crispy langganan. Aku tanya ke dia kenapa tempat jualannya tiba-tiba berubah. Dia awalnya malu-malu buat jawab tapi akhirnya dia buka juga. Ternyata, alasannya adalah karena ada preman yang minta jatah di tempat pertama. Padahal lokasi yang pertama itu milik salah satu sekolah. Banyak penjual yang menyewa tempat di lokasi tersebut ke sekolah, slot jualan hampir penuh. Cuman karena bahkan kepala sekolahnya takut sama ancaman preman, akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk tidak memperpanjang semua penjual di lokasi.
Preman adalah musuh negara. Preman harus dibasmi apapun caranya. Preman membunuh semua bisnis baik yang besar bahkan yang baru merintis. Ini masalah serius yang jangan sampai luput.