padahal keberhasilan harus diliat berdasar tujuan programnya. dan setau gue tujuan mbg intinya meningkatkan kualitas sdm, bukan sekadar nyediain makanan layak.
maka, angka keracunan gabisa dijadiin patokan keberhasilan, tapi bisa jadi warning, dan harusnya itu yang dibahas, wok.
YANG KERACUNAN SAMPAI HARI INI, DARI 3 KOMA SEKIAN JUTA, DI BAWAH 200 ORANG.
YANG RAWAT INAP HANYA 5 ORANG!
JADI BISA DIKATAKAN YANG KERACUNAN NOL KOMA NOL NOL LIMA.
BERARTI KEBERHASILAN MBG ADALAH 99.99%!!!
- PRABOWO, 5 MEI 2025.
emg gaada niatan ambil hati rakyat kayanya.
di saat public distrust lagi tinggi gini malah ngasih janji baru, bukannya maksimalin realisasi janji yang udah ada.
akibatnya? publik makin distrust, wacana sekolah gratis direspon negatif, mbak tedi jadi merasa harus tampil lagi.
Baca di sini: https://t.co/sfM54uqky2
Seskab Teddy Indra Wijaya menyebut Presiden Prabowo Subianto mendorong pendidikan negeri gratis mulai TK hingga perguruan tinggi, disertai perbaikan fasilitas sekolah dan peningkatan kesejahteraan guru.
~IQ #Prabowo#sekolahgratis [2026092122464381]
ipk kuat sebagai parameter (harusnya).
ipk lemah sebagai parameter itu karena sistem.
contoh, cumlaude seharusnya jadi label eksklusif, tapi sekarang terasa inklusif karena sistem yang memudahkan.
soal beginian sering diributin ya, bosen juga sih.
kata gw, mengingat bahwa kompas moral orang beda beda, baiknya berpacu pada regulasi yang ada, pahami siapa aja yang jadi prioritas. gausah bawa soal empati lah, apa lah. ribet sendiri jadinya.
karena dengan kompas moral yang variatif, maka "penumpang prioritas"nya pun pasti variatif.
kendati demikian, gaada larangan buat kasih kursi kita ke orang lain yang lu anggep lebih membutuhkan. ini bisa melayani persoalan kompas moral lu sendiri.
gw pribadi yakin, regulasi terkait penumpang prioritas, dibuat dan dipajang bukan biar kita ngerti. karena kesannya kek bego banget kita mesti ditunjukkin mana yang prioritas mana yang engga. regulasi itu dibuat buat jadi definisi kolektif bahwa penumpang prioritas adalah a,b,c,d
konsekuensi indoktrinasi "pahlawan tanpa tanda jasa".
slogan absurd yang selalu digaungkan dan ditanamkan secara sublim bahkan sejak usia sd. pada akhirnya eksploitasi upah pendidik selalu punya semacam "legitimasi" untuk berlanjut.
@easypslove Jangan menjadi jiwa rendah seperti ini, ingat mas kalo alamatmu tersebar, rumahmu bisa disahronikan warga, ini orang ngamok gara2 ojol dilindas, ojol punya massa.
ga ngaku jg orang paham. polisi cuma peralatan presiden. apapun, jelas kesalahan harus ditimpalin ke presiden.
kalopun ga atas perintah presiden, tetep presiden mesti disalahin. kenapa bisa lepas kontrol.
kalo begini kan keliatan cemen, nyeret pihak lain biar ga jatoh sendiri.
apa yg diharapkan dari masyarakat yang basisnya udah patriarkis?
dalam isu semacam ini tentu mereka lebih memilih membebani si perempuan untuk membungkus rapat tubuhnya ketimbang membebani si laki2 untuk membungkus bersih otaknya.