Gua Rutin Membaca Buku Supaya Gak Stress Karena Baca Jurnal Ini
Tahukah kalian bahwa hanya dengan membaca 4 buku rekreasional per tahun saja, risiko mengalami stres psikologis, kecemasan, dan gejala depresi bisa turun secara signifikan?
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of American College Health (Levine et al., 2022) terhadap 231 mahasiswa di Kanada menunjukkan bahwa membaca buku untuk kesenangan (recreational reading) berasosiasi dengan penurunan psychological distress melalui mekanisme mengurangi need frustration (frustrasi kebutuhan psikologis dasar).
Efeknya juga didapatkan dari penurunan risiko depresi dan ansietas.
Konsisten membaca berasosiasi dengan pikiran lebih tenang, kecemasan berkurang, dan keluhan depresi menurun, tanpa biaya mahal atau terapi intensif.
Di tengah hiruk-pikuk kota besar, deadline kerja, dan tekanan sehari-hari, membaca buku bisa jadi "reset" sederhana yang sangat powerful untuk kesehatan mental.
Coba deh ambil satu buku yang benar-benar kalian penasaran, baca 15–20 menit sehari.
Gue pribadi sekarang lagi baca The Death of Expertise tulisan Tom Nichols. Kalau kalian lagi baca buku apa?
Dirut PLN : kami minta maaf atas pemadaman listrik bergilir jawa bali karena ketersediaan batu bara menipis
RAKYAT TELAT BAYAR SEJUTA ALASAN LISTRIK DI PUTUS
PERUSAHAAN LISTRIK MONOPOLI MALAH KAGAK ADA DUIT BELI BATU BARA ?
DUIT PEMBAYARAN KWH RAKYAT DI KEMANAKAN ? yap!
PENELITIAN TERBARU!!!
Ternyata ada 19 kanker yang diketahui berhubungan erat dan risikonya meningkat pada orang obesitas.
5 kanker dengan risiko tertinggi antara lain:
1. Endometrium (58%)
2. Kerongkongan (47%)
3. Ginjal (30%)
4. Kandung empedu (27%)
5. Lambung (23%)
Persentase di atas adalah peningkatan risiko untuk setiap peningkatan indeks massa tubuh 5 kg/m2.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
-Adiposity and cancer: systematic review and meta-analysis
"Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain di dunia, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat."
Ini adalah prinsip yang gue selalu pegang. Sebisa mungkin, jangan merepotkan orang lain. Kalo gak bisa, minimal jangan buat beban mereka tambah berat.
Gue juga baru tahu kalo ternyata ada penelitian yang menunjukkan bahwa berbuat baik ke orang lain bukan cuma bikin mereka senang, tapi juga punya efek luar biasa buat diri kita sendiri!
Penelitian ini melibatkan 122 orang. Terdapat kelompok orang yang diminta untuk melakukan perbuatan baik, kemudian dibandingkan dengan orang yang melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Orang-orang antara kelompok tersebut kemudian dibandingkan gejala kecemasan dan depresinya, serta kualitas hidupnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
melakukan perbuatan baik berasosiasi dengan peningkatan koneksi sosial yang dapat berujung pada:
- Perbaikan keluhan terkait kecemasan dan depresi
- Peningkatan kualitas hidup
Bagaimana bisa?
Ternyata, berbuat baik meningkatkan koneksi sosial, membuat kita merasa lebih terhubung, lebih dihargai, dan pada akhirnya membantu memperbaiki kondisi mental kita.
Artinya, setiap kali kita menolong orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri!
Yuk berbuat baik!
Sumber:
Cregg. 2023. Healing through helping: an experimental investigation of kindness, social activities, and reappraisal as well-being interventions.
[Weekly Updated] El Niño capai 0,8°C (Nino3.4) pada pekan pertama Juni. Nilai ini mengalami akselerasi dari pekan sebelumnya 0,6°C. Diprediksi El Niño berubah dari lemah menjadi moderat pada bulan Juni 2026. Lanjut menuju kuat pada Juli 2026.
Saya memohon maaf bila pernah share cerita tentang pasien yang tidak etis di sini.
Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa bahkan cerita yang “dianonimkan” sering kali masih bisa diidentifikasi ulang, terutama di komunitas kecil atau dengan detail unik.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa dari 754 tweet dokter dan tenaga kesehatan yang menceritakan pasien lain, 98% tidak menyebut nama sekali, tapi 32,1% bisa diidentifikasi oleh keluarga/teman, dan 46,6% kemungkinan bisa diidentifikasi oleh pasien itu sendiri.
Selain itu, 84% pasien menyatakan kepercayaan mereka menurun drastis pada dokter yang menceritakan atau menarasikan pasien dengan tidak hormat. Namun ada potensi peningkatan kepercayaan pada 35% yang membaca narasi hormat dokter pada pasiennya.
Selain itu, berbagi data pasien di media sosial memiliki risiko privasi yang ternyata signifikan, meskipun tujuan awalnya adalah edukasi.
Dampak tertinggi dapat dirasakan pada pasien rentan, seperti ODHA/HIV, kesehatan mental, atau isu seksual. Narasi negatif pada mereka bisa memperburuk stigma, ketakutan, dan menghalangi orang mencari pengobatan.
Sekali lagi saya mohon maaf bila pernah melakukan hal seperti itu.
Terima kasih.
Sumber:
-Public Disclosure on Social Media of Identifiable Patient Information by Health Professionals: Content Analysis of Twitter Data
-Risks and benefits of sharing patient information on social media: a digital dilemma
They turned all the CCTV off at central Jakarta following students protest today. Please protect yourself, each other, & your personal phone as well, guys.
VERIFIED!
Listrik kita mati berjam-jam bukan karena PLN nggak mampu, tapi supaya kuota batubara dijaga ketat, harga tetap tinggi, dan para taipan tetap happy.
Kita yang bayar tagihan, kita juga yang nanggung gelapnya.