Danan, Cahyo, dan Dirga mendengar benturan pertama dari kejauhan.
Mereka sudah berlari hampir beberapa ratus meter dari rumah itu, menembus gang-gang sempit desa yang gelap, sebelum suara ledakan pertama mengguncang langit di belakang mereka. Kilat merah menyambar ke atas, bukan dari awan, tapi dari dalam desa sendiri.
Cahyo berhenti. Tangannya masih menekan perutnya di tempat kutukan itu sempat masuk sebelum Wanasura mengurungnya.
"Brotoguno menyerang Wagiatma," Ucapnya.
"Aku dengar," jawab Danan.
Ia berdiri di tengah jalan tanah, menatap ke arah cahaya merah yang bergerak di langit seperti makhluk yang sedang mencari mangsa.
Dirga berdiri di sisinya, mengelap darah kering dari bibirnya.
"Kita manfaatkan ini?" tanya Dirga.
Danan tidak langsung menjawab. Ia mengenal dirinya sendiri cukup untuk tahu bahwa pertanyaan itu bukan tentang strategi. Melainkan tentang apakah ia siap kembali ke tengah sesuatu yang bahkan tadi mereka baru saja kabur darinya.
"Warga," ucapnya akhirnya.
"Apa?"
"Di sini masih ada warga yang belum sempat pergi." Ia menoleh ke arah Cahyo. "Jul. Lukamu."
"Aku bisa jalan."
"Aku tanya lukamu, bukan kakimu."
Cahyo diam sebentar. Wanasura di dalam tubuhnya berdenyut, bukan dengan nyaman, melainkan dengan peringatan pelan yang terasa seperti seseorang yang mengingatkan bahwa kita sudah memaksa diri terlalu jauh namun belum cukup jauh untuk menyerah.
"Wanasura masih menahanya," jawab Cahyo jujur. "Tapi tidak tahu sampai kapan."
Danan menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk.
"Kita masuk, Selamatkan dulu warga yang masih bisa bergerak,” ucap Danan.
Dirga mengangguk. Mereka menuju rumah anak yang mereka temui sebelumnya, dan mencoba memulihkan luka gaib beberapa warga yang bisa di selamatkan sembari menunggu keadaan Cahyo lebih baik.
Rumah pertama yang mereka datangi sudah kosong. Pintunya terbuka, mejanya masih ada makanan yang belum selesai dimakan.
Rumah kedua juga kosong, tapi ada darah di lantai dapurnya. Tidak banyak. Namun cukup untuk membuat Dirga berhenti dan menatapnya beberapa detik sebelum melanjutkan langkah.
Rumah ketiga.
Cahyo mendengarnya duluan… suara napas tertahan dari balik lemari besar di sudut ruangan.
Ia mendekat, berlutut, membuka daun lemari paling bawah dengan pelan.
Dua anak kecil meringkuk di sana. Yang besar mungkin sepuluh tahun, yang kecil mungkin lima. Keduanya memeluk satu sama lain dengan mata yang sudah tidak menangis bukan karena tidak takut, melainkan karena sudah kehabisan air mata.
"Hei," ucap Cahyo pelan. "Bapak ibu kalian mana?"
Yang besar menggeleng.
Cahyo menatap Danan sebentar.
Danan sudah berdiri di pintu, matanya menyapu jalan di luar. "Bawa mereka."
Cahyo menggendong yang kecil. Yang besar ia pegang tangannya. Mereka bergerak keluar melalui pintu belakang, melewati kebun yang sudah gelap, menuju ujung desa di mana seharusnya lebih aman.
Namun seharusnya malam itu tidak berlaku dengan cara biasa.
Namun dari arah utara, seseorang lain memasuki desa.
Bukan Elang. Bukan dari Trah Wagiatma.
Gendra Wangsapati muncul dari balik kabut tipis yang tidak ada sebelumnya. Kabut yang ia bawa sendiri, yang merayap di antara kaki-kaki rumah seperti sesuatu yang hidup.
Di belakangnya, barisan mayat hidup bergerak dengan langkah yang kaku dan teratur, kepala tertunduk, tangan tergantung, namun matanya. Mata yang seharusnya sudah tidak bisa melihat terlihat bergerak. Mencari…
Gendra tidak datang untuk menonton pertarungan Wagiatma dan Brotoguno.
Ia datang untuk sesuatu yang spesifik.
"Keris Dasasukma," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, seperti seseorang yang sudah menghitung ulang rencananya berkali-kali dalam perjalanan ke sini. "Kekuatan yang belum memilih tuannya.
Kekuatan yang justru menentukan semuanya."
Ia berjalan menembus desa dari utara, membiarkan mayat-mayat hidupnya menyebar ke sisi kiri dan kanan seperti jaringan yang dilempar, bukan untuk menyerang, melainkan untuk merasakan. Menemukan jejak energi yang ia cari.
Salah satu mayat berhenti. Lalu menoleh ke arah timur. Gendra mengikuti arah itu.
Dirga merasakannya pertama kali sebagai rasa gatal di telapak tangannya, tangan yang menggenggam Keris Dasasukma.
Ia berhenti berjalan.
"Mas Danan.."
Danan yang sedang menuntun anak-anak itu menoleh.
"Ada yang menyadari keberadaan keris Dasasukma" tanya Danan langsung.
Dirga mengangguk.
Danan menatap ke utara. Dalam gelap itu tidak ada yang terlihat, namun ada tekanan halus yang datang dari arah itu, seperti tatapan seseorang yang tidak kelihatan wajahnya.
"Simpan keris itu di tasmu, lilit dengan kain," perintahnya.
"Itu tidak akan…"
"Aku tahu itu tidak akan menghentikan mereka. Tapi setidaknya kerismu tak terlihat begitu saja.."
Dirga menyarungkan keris itu, melilitnya, dan menyembunyikannya di dalam tasnya, mendekat ke kulitnya. Getaran itu tidak hilang, tapi melemah sedikit.
Cukup. Untuk saat ini, cukup. Hanya itu yang bisa mereka lakukan sekarang.
Di lapangan utama desa, pertarungan antara Buto Bhayak dan Ki Krobong sudah tidak bisa disebut pertarungan lagi.
Itu lebih tepat disebut bencana.
Setiap kali Buto Bhayak mengayunkan tangannya, tanah terbelah. Setiap kali Ki Krobong merespons, gelombang kutukan menyebar ke segala arah tanpa peduli apa yang ada di jalurnya . Pagar rumah, pohon pisang, sumur warga, dan sebuah balai desa kecil yang sudah berdiri sejak dua generasi lalu.
Elang berdiri di pinggiran pertarungan itu, mengendalikan Buto Bhayak dari kejauhan. Kerisnya berputar pelan di tangannya, setiap putarannya memberi energi tambahan pada raksasa di depannya.
Nyai Sakmo tidak mengendalikan dari jauh. Ia ada di tengah, bergerak di antara serangan-serangan Ki Krobong dan Buto Bhayak dengan keanggunan yang tidak wajar, selendangnya mengalihkan setiap arus energi yang nyasar ke arahnya.
Nyi Wagitayub melayang di atas semua ini, matanya yang hitam menyapu sekitar, mencari celah, menunggu momen.
Dong!!!
Suara gong terdengar, dan buto Bhayak tersungkur. Namun dengan kibasan Keris milik Elang, Buto Bhayak kembali bangkit dan mengurung Ki Krobong dalam bayangannya.
Mereka sudah saling serang. Mereka sudah saling menjatuhkan. Namun tidak ada yang tumbang, karena dua kekuatan yang setara yang membentur satu sama lain tidak menghasilkan pemenang, hanya menghasilkan kerusakan yang semakin besar.
Dan kerusakan itu menyebar ke seluruh desa.
Seorang warga yang mencoba berlari melalui jalan utama terpelanting oleh gelombang dari benturan Ki Krobong dan Buto Bhayak, meski ia tidak diserang oleh satu pun dari keduanya. Pagar besi di sisi jalan roboh menimpanya.
Cahyo melihat itu dari kejauhan.
Ia menyerahkan anak yang digendongnya pada Dirga. "Jaga mereka."
"Jul—"
Ia sudah berlari.
Danan tidak mencegahnya. Ia tahu bahwa mencegah Cahyo dalam kondisi seperti itu sama artinya dengan mencegah angin bertiup. Yang bisa ia lakukan hanya mengikutinya.
Ucapan itu membuat Dirga langsung menahan diri. Ia mundur perlahan, menjaga jarak dari sosok yang memanggilnya. Namun sebelum ia benar-benar bisa menjauh, seseorang mendorongnya keras hingga ia terjatuh ke dalam semak.
Tubuhnya menghantam tanah dengan kasar, membuat napasnya tercekat sesaat. Dengan sigap ia bangkit, bersiap menghadapi apa pun yang menyerangnya, tetapi sekali lagi ia justru melihat Cahyo berdiri di hadapannya.
Kebingungan mulai merayapi pikirannya. Dua kejadian yang berulang dengan sosok yang sama membuatnya sulit menentukan mana yang nyata.
Cahyo yang berdiri di depannya segera memperingatkan bahwa Sangkaratuh memiliki kemampuan untuk meniru siapa pun, bahkan hingga ke suara dan keberadaan energinya. Penjelasan itu sempat membuat Dirga merasa sedikit lega, seolah ia mulai memahami apa yang sedang terjadi.
Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.
Sebuah pikiran lain muncul di benaknya, kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.
Jika Sangkaratuh bisa meniru siapa pun… lalu bagaimana ia bisa yakin bahwa Cahyo yang ada di depannya adalah yang asli?
“Nggak…” Ia menatap curiga pada Cahyo yang mendorongnya. Dan benar saja, kini di hutan di hadapannya terlihat banyak wujud Danan dan Cahyo yang mendekat ke arahnya.
“Dirga! Ayo lari!”
“Jangan ikuti dia!”
“Dirga! Amankan keris Dasasukma!”
“Selamatkan dirimu!”
Suara mereka saling bersahutan, memanggil, memperingatkan, bahkan memerintah. Setiap suara terdengar begitu nyata, hingga sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang hanya tipuan. Bahkan lebih dari itu, Dirga dapat merasakan aura yang sangat familiar dari masing-masing sosok tersebut, kehadiran kekuatan Keris Ragasukma dan Wanasura seolah benar-benar ada pada mereka.
Keadaan itu membuat Dirga semakin terdesak. Ia mundur perlahan, berusaha menjauh dari kepungan yang kian rapat. Setiap langkahnya dipenuhi keraguan, karena ia tidak lagi bisa mempercayai apa yang dilihat maupun didengarnya. Dunia di sekitarnya terasa seperti jebakan besar yang siap menelannya kapan saja.
Tanpa ia sadari, langkahnya membawanya semakin jauh hingga mencapai ujung pulau. Ketika ia berhenti dan menoleh ke belakang, ia baru menyadari bahwa di hadapannya terbentang jurang curam.
Debur ombak terdengar keras dari bawah, menghantam karang dengan kekuatan yang menggetarkan.
Di antara suara-suara yang terus memanggilnya, salah satu sosok Cahyo kembali melangkah maju dan memintanya untuk berhenti, menyuruhnya menenangkan diri.
Namun Dirga tidak lagi bergerak. Ia tidak memiliki cara untuk memastikan apakah sosok itu benar-benar Cahyo, atau hanya bagian lain dari tipuan yang sama.
Di tengah kebingungan dan tekanan yang semakin menyesakkan itu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Keris Dasasukma di tangannya mulai berdenyut.
Getarannya halus pada awalnya, namun perlahan menjadi semakin kuat, seolah memiliki kehidupan sendiri. Denyut itu tidak sekadar terasa di telapak tangannya, tetapi merambat hingga ke seluruh tubuhnya, menyatu dengan detak jantungnya yang semakin cepat.
Dari balik hutan yang bergoyang diterpa badai, sebuah sosok perlahan melangkah keluar.
Di antara wujud-wujud palsu Danan dan Cahyo yang masih mengepung, kehadirannya terasa berbeda—lebih nyata, lebih berat, dan jauh lebih menekan.
Raden Argoyo.
Tatapannya jatuh pada Dirga, dan untuk sesaat ekspresinya berubah, seolah baru menyadari sesuatu.
“Anak kecil…?”
Nada suaranya merendah, bukan karena ragu, melainkan karena meremehkan.
“Jadi… kekuatan itu ada padamu.” Ia tersenyum tipis. “Seharusnya ini akan mudah.”
Angin kencang berputar di antara mereka, namun Dirga tetap berdiri di tempatnya. Meski tubuhnya gemetar, ia menggenggam erat keris di tangannya. Nafasnya berat, tetapi matanya tidak goyah.
Ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya.
Ia tahu betapa besar kekuatan yang dihadapi.
Namun ia juga tahu—ia tidak punya pilihan selain melawan.
“Aku… bukan orang yang bisa kau remehkan,” ucapnya pelan, namun tegas.
LAUT SELATAN
Cuaca di pulau kecil di selatan Pulau Jawa itu berubah liar tak menentu, seakan langit sendiri kehilangan kendali. Angin berputar tanpa arah, hujan turun seperti ditumpahkan dari langit, dan petir menyambar tanpa jeda, membelah kegelapan malam.
Pulau itu… seolah sedang menanggung sesuatu.
Sesuatu yang telah lama terkubur.
Empat kekuatan terkutuk, yang terpendam selama ratusan tahun, kini telah menemukan tuannya, dan untuk pertama kalinya… berkumpul di satu tempat yang sama.
Udara terasa berat. Tanah bergetar pelan, seperti menahan amarah yang tak lagi bisa dibendung.
“Jadi… kau sudah mengambil kekuatan itu dari pulau ini?”
Suara Raden Argoyo terdengar dingin, penuh tekanan. Tatapannya tertuju tajam pada sosok dukun dari Trah Wangsapati yang berdiri tak jauh darinya.
Dukun itu tersenyum tipis. Matanya menyala oleh kesombongan yang lama terpendam.
“Sejak awal… kekuatan ini memang ditakdirkan untuk kami, Argoyo!” suaranya meninggi, menantang. “Kau pikir kami akan terus hidup di bawah bayang-bayangmu?”
Di sisi lain, Elang berdiri membeku.
Ia masih belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi di hadapannya.
Baru saja ia mengerahkan kekuatan Buto Bhayak untuk menandingi Sangkaratuh, kekuatan yang ia kira sudah cukup untuk mengakhiri segalanya.
“Siapa! Siapa kau?! Jangan campuri pertarungan kami!” Teriak Elang.
Deg.
Seketika seluruh pandangan Elang berubah hitam, semua inderanya mati. Ia sadar bahwa itu adalah perbuatan dari makhluk pengikut orang dari Wangsapati itu.
“Jangan remehkan aku!”
Dengan kekuatan dari kerisnya, kutukan itu hanya terjadi beberapa detik dan musnah. Namun saat matanya kembali bisa melihat, tepat di hadapannya wajah mayat hidup itu sudah di hadapannya.
“Aku Gendra Wangsapati! Pemangku tahta tertinggi di Trah keramat Wangsapati. Bocah sepertimu tak pantas menerima kekuatan itu!”
“Tak pantas?”
Jlebbb!!
Tiba-tiba keris yang berada di tangan elang menghilang, dan muncul menancap di jantung Gendra Wangsapati.
Tatapan Gendra berubah, dia tak menyangka akan hal itu. “Ka—kau?”
“Trah Wangsapati… memang selalu bodoh.”
Suara Raden Argoyo menyusup di tengah ketegangan. Tenang, namun penuh ejekan.
“Meremehkan Trah Brotoguno adalah kesalahan besar. Meski dia hanya bocah ingusan… warisan mereka tidak pernah bisa dianggap remeh.”
Tubuh Gendra terhuyung.
Sosok mayat di belakangnya melayang perlahan mendekat, seperti bayangan setia yang tak memiliki kehendak sendiri.
“Aku… meremehkan kalian…” gumam Gendra.
Ia mencabut keris itu dari dadanya.
Namun begitu tangannya menyentuh bilah pusaka itu, kulitnya seketika terbelah, seolah menolak keberadaannya.
Ting!
Keris itu terlepas, jatuh… lalu dalam sekejap melayang kembali ke tangan Elang. Suasa sunyi sejenak, hanya suara alam yang terdengar diantara mereka. Namun senyap itu tidak bertahan lama.
“Tapi… kalian juga meremehkanku.”
Perlahan… luka di dada Gendra menutup. Tak ada bekas. Tak ada darah. Tangannya yang tadi terluka kembali utuh. Seolah kematian tidak pernah menyentuhnya.
“Tak satu pun dari kalian… bisa membunuhku.”
Elang mengerutkan rahang. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya, namun ia juga mengerti. Sosok itu bukan lawan biasa.
Ia adalah pewaris kekuatan yang tak tunduk pada hukum kematian.
“Sayangnya… masih ada satu lagi..” ucap Gendra.
Raden Argoyo dan Elang tak mengerti apa yang dimaksud Gendra.
“Masih ada satu lagi pemilik kekuatan seperti kita di pulau ini…” ucapnya.
Deg.
Seketika Dirga merasakan bahwa perbincangan itu mengarah pada dirinya.
Teror Lepas Tali Pocong
A Horror Thread
Pernah ada kejadian di desaku yang membuat warga tak pernah lagi berani bermain-main dengan urusan pemakaman.
Semua bermula dari sebuah liang lahat yang tak bisa digali selama lima hari...
#bacahorror
Teror Kepala Desa
Kalian pernah denger nggak si? Soal cerita tali pocong yang nggak dilepas bakal bikin arwahnya gentayang, terus neror warga minta dibukakan tali pocongnya.
Ini terdengar nggak masuk akal, tapi beneran terjadi di desaku saat aku kecil dulu.
@bacahorror
Warung Mbak Katirah
Ini tentang tetanggaku, Mbak Katirah, yang usaha warung makannya harus gulung tikar karena ulah orang-orang terdekatnya.
Mbak Katirah adalah ibu rumah tangga muda, awal usia 30-an. @bacahorror