“The hardest thing to understand in the world is the income tax.”
— Albert Einstein
Kalimat ini selalu terasa relevan setiap bulan Maret di Indonesia.
Karena Maret = musim lapor SPT pajak pribadi.
Apalagi tahun ini pertama kali kita pakai Coretax.
Kpd Presiden Prabowo Subianto, Menkeu Purbaya, dan para pembuat kebijakan:
apakah sistem pajak kita tanpa sadar memberi penalti pd keluarga produktif?
Kalau ingin lbh banyak perempuan ikut berlari dlm maraton ekonomi, jgn tambah beban di ranselnya.
“The hardest thing to understand in the world is the income tax.”
— Albert Einstein
Kalimat ini selalu terasa relevan setiap bulan Maret di Indonesia.
Karena Maret = musim lapor SPT pajak pribadi.
Apalagi tahun ini pertama kali kita pakai Coretax.
Beberapa hari lalu juga baru Hari Perempuan Internasional.
Banyak diskusi tentang kepemimpinan perempuan, kesempatan kerja, dan kesetaraan.
Semua itu penting.
Tapi mungkin ada satu topik lain yang juga layak dibahas:
bagaimana sistem pajak mempengaruhi perempuan karier.
banyak sekali miskonsepsi akan alumni LPDP, seakan akan lulusan S2 atau bahkan S3 UK/US/ manapun itu manusia sakti yang bisa berkontribusi “langsung” kepada bangsa.
Dalam dunia akademik, overwhelming majority of lulusan PhD itu hanyalah seorang bayi yang masih menyusu; belum pernah membuktikan diri sebagai periset independen. They are nobody without the incubator. “Pulanglah, berbakti bangun negeri” - by doing what exactly?? An experimental physicist cant work without a synchrotron; NMR etc.
Perlu dimengerti bahwa standard global research is extremely high; Indonesian institutions must compete with groups that have multiple postdoctoral experiences from all around the world. Most Indonesian researchers even in ITB/UI/UGM never even secured a postdoc positions! they came back straightaway after PhD!
Mereka adalah korban romantisasi kebijakan dan narasi emosional; seakan akan negara itu seorang Ibu yang sekarat menjual seluruh hartanya untuk membiayai anak yang durhaka.
this “Ratu Adil” syndrome/narrative membuat kita benci akan sesama, curiga akan mereka yang mendapat kesempatan untuk mengkultivasi dirinya.
Sejak kapan kita menjadi bangsa yang penuh dendam akan sesama?
To those who get the opportunity to be sent abroad - help if you can; or otherwise, SHUT UP! - you’re nobody yet.
@iyntwitt Heueue haloo, orang Indonesia ada yg lebihh duluan dari saya, biasanya temen2 blogger, twitter awal2 disebut platform microblogging, ga semua masih aktif tapi
https://t.co/JC24xWjQQ7