Saya heran, ada orang yang sudah 2 kali ketangkap KPK tapi masih saja ada yang mau berhubungan dalam soal "makelar-memakelari" perijinan kementerian. Mosok gak ada rasa waswas gitu?
Endgame Town Hall 2026
Satu hari, beragam gagasan. Bergabung bersama Karlina Supelli, Rocky Gerung, SBY, Dino Patti Djalal, Leila S. Chudori, Reza Rahadian, Fahruddin Faiz, dan para intelektual lintas bidang.
19 September 2026
Kartini Expo, Balai Kartini
Baca selengkapnya: https://t.co/IDa3Ug1FGa
Sebanyak 352 siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG di Lombok Tengah, Jumat (11/9/2026).
~MS #KeracunanMBG#MBG#LombokTengah
Kepada Sdr Wapres @gibran_tweet, berkunjung ke lokasi problem spt dalam video ini sama sekali tak membantu. Ini gaya politiknya Bapakmu. Anda khan milenial. Masak gini? Kuajarkan caranya: Panggil Menteri @KementerianESDM, Kapolri, Menteri @KemenkeuRI dan K/L terkait. Tanyakan, Kenapa masalah ini berulang, apa jalan keluarnya, dimana hambatannya, siapa bertanggungjawab apa, mana skala prioritas, dll. Lalu, buat skenario jangka pendek sambil merancang skenario menengah panjang. Lalu laporkan ke Presiden. Kawal skenario dgn ketat. Jika berhasil, jadikan skenario baku jika peristiwanya berulang. Jika gagal, cari cara baru. Reaksi yg cepat harus diutamakan sebab warga makin tersiksa. Catatan: jadikan kejadian ini bahan utk mengukur kinerja menteri. Usulkan ke Presiden utk ganti menteri gombal. Begini cara Wapres yg bisa membantu. Berkunjung tanpa agenda penyelesaian spt ini hanya menyenangkan kelompok pendukung Anda yang tak sabar menunggu 2029.
Laporan mendalam tvOne News hari ini menyajikan kenyataan pahit yang makin tak terbantahkan: masyarakat Indonesia resmi bergeser dari fase "Makan Tabungan" menuju taraf yang jauh lebih mengerikan, yaitu "MAKAN UTANG" demi sekadar menyambung hidup sehari-hari.
Ketika Istana terus mengagungkan klaim pertumbuhan ekonomi di atas kertas, data riil di lapangan membongkar borok yang menghancurkan kelas menengah-bawah :
1. Utang Konsumtif Tembus Rp156 Triliun.
Akumulasi utang rakyat lewat pinjaman online (pinjol) dan paylater melonjak fantastis menembus angka Rp156 Triliun. Ekonom senior INDEF (Tauhid Ahmad) menegaskan ini bukan lagi untuk belanja modal atau gaya hidup, melainkan murni untuk membiayai beras, minyak goreng, dan telur akibat pendapatan riil yang tak lagi cukup.
2. Tabungan Ludes, Terjebak Bom Waktu Bunga Pinjol.
Setelah tabungan keluarga terkuras habis selama 2 tahun terakhir dihantam inflasi pangan, rakyat kini dipaksa masuk ke lubang utang ber bunga tinggi dan denda akumulatif yang menciptakan bom waktu finansial massal.
3. Disparitas Upah vs Inflasi Pangan akibat Ugal-ugalan Fiskal.
Pemicu utamanya sangat jelas: gaji/upah stagnan, tetapi harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Di saat yang sama, APBN justru dibakar ratusan triliun untuk proyek-proyek sentralistis pemborosan (seperti MBG & Kopdes), sementara kelas menengah dibiarkan terjepit tanpa jaringan pengaman sosial.
Vonis untuk Pengelola Negara:
Mengelola ekonomi itu diukur dari terisinya piring dan isi dompet rakyat di akar rumput, bukan dari retorika pidato dan manipulasi angka statistik! Ketika rakyat harus berutang pinjol hanya untuk makan beras, di situ rezim telah gagal total menjaga kedaulatan ekonomi warga.
Stop pemborosan APBN demi proyek kosmetik, tekan inflasi pangan, dan kembalikan daya beli rakyat sebelum krisis utang konsumtif ini meledak menjadi krisis finansial nasional.