@nocturnalcutie kakkk ceritanya reminds me so much of this substack post!!! mungkin hari ini ceritanya juga find its way towards us just to remind us once again that we’ll be okay and everything will just be fine
"Papa punya tanah gak...?" (tanah buat taneman)
👨🏻 "Ada disimpen, nanti aja dikeluarin"
"Ok"
*Gak lama kemudian*
"......... Papa gak mikir misal tanah yang aku maksud itu tanah rumah?"
👨🏻 "Mana mungkin ada percakapan begitu di kita"
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Cara praktis buat “Brain Dump” pas kepala udah overload banget
Tujuannya satu: ngeluarin isi pikiran yang numpuk di otak biar nervous system ikut lebih rileks.
Gimana caranya? sini gue kasih tau :
Jam 3 sore. Tiba-tiba pengen banget ngemil entah jajan, cokelat, atau yang manis-manis.
Awalnya nahan, tapi tetap aja kepleset. Padahal sebenarnya itu badan lagi ngasih sinyal.
gue bakal jelasin gimana cara baca sinyal ini:
Kalau seseorang pernah ngalamin stres berat, trauma, atau tumbuh di lingkungan yang nggak stabil, otaknya bisa masuk ke “mode hypervigilance”.
Jadi selalu siaga, terus-menerus nge scan sekitar, perhatiin ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang, dan sering banget udah keburu...
Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!
Nemu kalimat tercantik pembangkit energi yang harus kamu baca berulang-ulang.
“maka, bertumbuhlah dengan sangat cantik. biarlah luka-luka itu menjadi perjalanan yang perlahan membentukmu menjadi akar yang kuat.
lalu, jika nasi telah menjadi bubur, buatlah bubur yang enak. barangkali hidup memang bukan tentang memilih apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana kita mengolahnya menjadi sesuatu yang tetap layak dijalani.”
Pernah baca kutipan disalah satu platform yg isinya kurang lebih seperti ini “ibu adalah pinjaman dari Allah yg paling indah”
is the best kind of words that literally make me cry🙁🙁❤️
Ya gimana ya.... Banyak orang yg dari kecil mindsetnya udah dibiasain terus²an dalam Survival Mode 🥹
Tiap mau explore:
"Dek, jangan nakal..."
"Jangan nangis.."
"Jangan suka coret-coret!"
"Jangan dimainin!"
Tiap mau eksplorasi, dilarang.
Mau ekspresi, disuruh diam.
Sambil diberi ketakutan/ancaman yg intens... dipelototin, diteriakin, atau bahkan disentil, dicubit, yg bikin kita dulu kehilangan rasa aman tiap mau eksplorasi...
Akhirnya ya.. pas gede, energi kita habis cuma buat "menjaga diri" supaya nggak salah langkah, supaya Papa - Mama ngga marah, supaya perasaan orang lain terjaga,
energinya habis untuk memastikan kita tidak melakukan kesalahan atau tidak mengecewakan orang lain
sampai dewasa masih kebawa: lupa gimana caranya lari ngejar mimpi, demi menjaga agar diri kecil kita ini tetap merasa aman 🥹🥹🥹
Berdasarkan observasi, cara paling efektif (dan paling “manusiawi”) supaya seseorang bisa jatuh cinta kepada kita itu bukanlah dengan trik manipulasi, bukan dengan menjadi sempurna, bukan dengan love bombing. Cara paling ampuh ialah:
“kita membuatnya merasakan versi paling hidup, paling utuh, dan paling bebas dari dirinya sendiri hanya ketika dia berada di dekat kita.”
Buat para people pleaser, saya menemukan kutipan yang bagus banget dari Quora.
"Jangan terlalu menimbang rasa sungkan.
Hingga ubi yang kau tanam di ladangmu sendiri enggan kau nikmati demi menjaga perasaan seekor babi."