Pejuang Gaza merilis video perjalanan assyahid Suleiman Abu Khdier selama pertempuran di kamp Al-Shati.
Terlihat dalam video bagaimana sosok pemuda tersebut tidak hanya mahir dalam menggunakan berbagai jenis senjata, namun juga memiliki keteguhan hati yang tidak tergoyahkan oleh dentuman bom yang dijatuhkan oleh zionis secara bertubi-tubi.
Keterampilan bergerak dalam formasi kecil (3-4 personil) yang sangat mengagumkan, menunjukkan bahwa para pejuang Gaza menguasai skill level pasukan elit.
Tidak terbesit sedikitpun rasa takut di wajahnya, kendati deru tembakan musuh bergemuruh di sekitarnya. Tak heran jika pasukan zionis merasa cemas ketika ditugaskan di wilayah Gaza, karena mereka seolah sedang digiring untuk berhadapan dengan musuh dengan kemampuan diatas rata-rata.
Semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam kehidupan akhirat di tempat yang sama dengan para mujahid Palestina.
🤲
Iran merilis lagi video bergaya Lego, dijamin bikin AS Israel meriang lagi
Narasinya memakai surah Al-Fiil
Udah ketebak kan siapa yg dijadiin pasukan Gajahnya.
Keren.
Untuk verifikasi, saya unduh videonya, saya transkripsikan dan terjemahkan dengan bantuan AI.
Berikut isi video di bawah ini:
Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, mengakui bahwa penyebaran paham Wahabi yang keras oleh negaranya merupakan permintaan dari pihak sekutu, dalam rangka menghadapi meluasnya pengaruh dan penetrasi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya telah menempuh jalur penyebaran paham Wahabi yang ketat. Ia menegaskan bahwa kini saatnya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang semestinya.
Dalam pernyataan yang sarat pengakuan, Muhammad bin Salman menyebut bahwa penyebaran paham Wahabi oleh negaranya merupakan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kepentingan serta tekanan Barat terhadap Riyadh, guna membendung ekspansi pengaruh Uni Soviet selama Perang Dingin.
Akar dari investasi Saudi dalam pembangunan sekolah dan masjid bermula pada periode Perang Dingin, ketika sekutu meminta Arab Saudi untuk memanfaatkan sumber dayanya demi mencegah Uni Soviet memperluas pengaruhnya di negara-negara Islam. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa Islam itu rasional dan sederhana, tetapi ada pihak-pihak yang mencoba membajaknya.”
Dengan demikian, Perang Dinginlah yang, menurut pernyataan Putra Mahkota, mendorong Riyadh melakukan kebijakan tersebut. Namun, saat ini Riyadh harus menanggung konsekuensi dari pemanfaatan dana-dananya oleh Barat dalam perang melawan ideologi komunis.
Di sisi lain, terdapat pengakuan terbuka dari sang pangeran muda bahwa berbagai tuduhan yang diarahkan kepada rezim Al Saud, terkait pendanaan kelompok ekstremis dan teroris secara ideologis, merupakan akibat dari arah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang benar. Pendanaan terhadap paham Wahabi saat ini, menurutnya, sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga swasta yang berbasis di kerajaan, bukan dari pemerintah. Ia juga menyebut bahwa dialog dengan institusi keagamaan telah berlangsung lama.
Yang mencolok dari pernyataan-pernyataan ini adalah adanya kontradiksi yang jelas dengan fondasi Wahabi yang menjadi dasar berdirinya Arab Saudi modern. Penafsiran-penafsiran fikih yang khas dari lingkungan Saudi, yang di masa lalu turut memicu konflik dan bahkan menyeret sejumlah negara ke dalam perang saudara multidimensi, seperti di Aljazair pada tahun 1990-an, kini kembali menjadi sorotan.
Hal ini memunculkan pertanyaan: apa dampak dari pernyataan Mohammed bin Salman terhadap masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair?
Guys sekutu Arab Amerika sedang marah besar.
Dan alasannya menarik banget untuk dicermati.
Negara-negara Teluk Saudi, UAE, Qatar, Kuwait, dan kawan-kawan baru saja komitmen investasi hampir 4 triliun dolar ke Amerika. Itu angka yang hampir tidak masuk akal besarnya.
Dan sekarang mereka fuming istilah WSJ karena ternyata investasi sebesar itu tidak memberi mereka pengaruh apapun terhadap kebijakan Trump.
Mereka sudah bayar mahal. Tapi tidak dapat apa yang mereka beli.
Dan ini yang perlu dipahami konteksnya.
Qatar kena 14 rudal balistik dari Iran. Fasilitas LNG Ras Laffan rusak ekstensif. Saudi dapat ancaman serangan ke kilang minyaknya. UAE diserang rudal dan drone. Bahrain yang jadi markas Armada ke-5 Amerika terus diserang.
Mereka adalah negara-negara yang paling langsung menanggung konsekuensi dari perang yang Amerika mulai.
Dan mereka sudah investasi 4 triliun dolar ke Amerika sebagian besar dengan harapan bahwa uang itu membeli pengaruh. Membeli jaminan keamanan. Membeli kepastian bahwa Trump akan dengarkan kepentingan mereka.
Ternyata tidak.
Israel menyerang South Pars tanpa koordinasi Amerika. Iran balas ke Qatar. Dan Qatar yang sudah komitmen investasi ratusan miliar ke Amerika dan jadi tuan rumah pangkalan militer terbesar Amerika di Timur Tengah kena serangan karena salah lokasi.
Dan Trump tidak bisa atau tidak mau mencegah itu terjadi.
Ini pelajaran geopolitik yang sangat pahit.
Uang tidak selalu beli pengaruh. Apalagi kalau yang menerima uangnya adalah Trump yang cara pengambilan keputusannya tidak bisa diprediksi bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri.
Dan untuk Indonesia ini relevan langsung.
Kita sedang dalam proses membangun hubungan dagang dengan Amerika lewat ART yang sudah digugat di PTUN. Danantara sedang cari investasi dari berbagai arah. Dan posisi Indonesia di tengah konflik ini belum jelas.
Kalau negara yang sudah investasi 4 triliun dolar saja tidak punya pengaruh seberapa besar posisi tawar yang bisa kita harapkan?"
Ini benar2 "gila"!
Dan ni lebih menakjubkan dari yg kita bayangkan.
NASA lewat satelit "SWOT*" memetakan dasar laut dgn detail yg belum pernah ada sebelumnya, pakai gravitasi samudra yg membuat permukaan air "membengkak" tipis di atas gunung bawah laut.
Hasilnya? "Abyssal hills".. bukit2 kecil di dasar samudra ternyata menutupi sekitar 70% lantai samudra global.
Itu artinya bentuk tanah paling dominan di Bumi bkn gunung Himalaya atau dataran luas, melainkan lanskap tersembunyi di bawah 4 km air yg selama ini kita anggap "kosong".
Fakta ini bkn sensasi murahan, ini dikonfirmasi publikasi di jurnal "Science" (2024) dan ratusan ribu bukit baru terdeteksi, resolusi hingga ~8 km.. jauh lebih tajam dari sonar kapal tradisional.
Kita hidup di planet yang 71% permukaannya samudra, tapi baru sekarang kita benar2 "melihat" mayoritas daratannya.
Selama ini kita buta terhadap 70% planet kita sendiri.
Jadi kalau manusia merasa sudah menguasai Bumi.. sebenarnya kita baru mengintip permukaannya saja.
Kamu masih yakin kita mengerti "rumah" kita sendiri?
Atau kita hanya tinggal di atap planet yg basement-nya masih misteri besar? 🤔🤔
Siaran terakhir Radio RRI di Timor Timur sesaat sebelum memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
Jangan ada lagi sejengkalpun tanah yang berpisah dari NKRI
Kawan-kawanku Eksponen Angkatan Reformasi 1998. Sudh 25 tahun kita melakukan reformasi dan sdh banyak diantara kita yg menggengam kekuasaan.
Yuk, berhati-hati memelihara kekuasaan sebagai amanah. Jangan sewenang-wenang dan jangan korupsi, baik korupsi uang maupun korupsi politik. Jangan sampai kita terjebak ke dalam situasi spt sedang menunggangi singa liar.
Menunggangi singa liar itu mengerikan.
Mau turun takut diterkam singa, mau terus di punggung singa pasti takkan kuat dan pasti ada batasnya. Terkadang banyak juga yang memanah singa tetapi nyasar ke penunggangnya.
Agar tak sampai masuk ke situasi menunggangi singa liar, jagalah kekuasaan dgn menegakkan konstitusi dan membangun demokrasi yang berkeadaban. Semoga Tuhan selalu memberkati Indonesia🇮🇩.