Dunia ini tidak ada kata maklum bagi mereka yang mendiskreditkan diri orang lain. Kamu harus kaya saya blabalab, kamu kan juga makan nasi, yang gagah, pemberani, penuh tanggungjawab, berkharisma. Ah, setan
2019 masuk semester 3 masih belum percaya dengan perkuliahan, bukan kehendak sebenarnya. Namun, demi apa jika aku harus membangkang kehendak orang tua. Kumantapkan diri ini untuk terus melanjutkan, 2020 benar diambang kekacauan
Ya, emng segampang itu mereka yang tak tau dirimu. Dalih lagi dengan bahasa defender my self, ya gimana lagi udah mentok. Ujung-ujungnya balik ke pepatah Jawa sawang sinawang.
Di pinggir pantai itu aku termenung
Menunggu kepastian diriku
Kapan untuk beranjak memulai
Atau aku berputar balik
Menengok kebelakang sedikit
Untuk menanti jawab dariku
Kapan aku mau melanjutkan perjalanan ini.
tak tahu mana arah kawan
disitu ragamu merecok
decak kagum ingin melawan
tapi lupa diri ini tertawan
Kau haus mencari lawan
untuk berdebat dalam Kalam
sekali lagi ingin kulawan
kau sudah lari melanglang
Ayo Sandy, tahun ini kamu harus bisa menerjang kemalasanmu untuk mengambil puing-puing ketertinggalan yang sering kau abaikan kemarin.
Tidak usah gusar, apalagi menyalahkan perkara yang kemarin kau tinggalkankan. Ayo, ambil lagi serpihan itu, susun ulang.
Ada yang memberi minta applaus stangding dan merasa menganggap dirinya lah pahlawan. Tapi, tidak apa. Semua orang layak berbuat itu, karena manusia sifat yang lemah. Dalam megah nan gagahnya, banyak jiwa yang kosong.
Orang-orang sekarang pada gila. fomo, semua ambil alih validasi maya. Maya semu, manifes dari orang-orang lemah yang ingin menunjukkan kegagahannya, orang-orang lemah yang gila minta belas kasih, semua kemudian iba padanya, ironisnya yang mengasihani lebih miris jiwanya.