novel eka kurniawan, “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas.” terinspirasi dari kutipan di anna karenina-nya tolstoy: vengeance is mine, i will repay. tapi, itu fakta yang semua orang tahu, karena eka juga berkali-kali cerita soal itu. tere liye, entah kenapa, terobsesi untuk jadi si paling original. defensif mulu. enggak tahu, deh. apa sebenarnya yg berusaha dia sembunyikan 😂
@tanyarlfes Rata-rata pacaran emang penghambat masa depan anak muda, pertemanan jadi hancur, dan strict pacaran lebih ga logis daripada strict parents. Soalnya yg pacaran diancem bundirlah atau bahkan anu-anukan. Berujung ke psikiater mereka :)
Nasehat emang ga berguna.
Dan perilaku itu erat kaitannya juga dengan genetik atau traits selain lingkungan. Jadi klo memang kekurangan genetik maskulin yah seorang pria akan lebih feminim begitu juga sebaliknya.
Saya dulu pembaca Tere Liye. Ada beberapa buku yg saya baca, saya paling suka buku Rindu. Bahkan gebetan saya (sekarang jadi istri) saya bawain buku ini sebagai hadiah saat wisudanya.
Setelah berjalan waktu, saya kecewa dengan blio. Ada beberapa pasal:
Ga cuma h*ngry group mnrt gw ayam bang dav* group pun annoying parah, asli.
Mana cloud kitchen-nya deket kost gw, tiap mau nyari makan bala banget hrs scroll sampe bawah. Ibarat kata ada feature block udah gw block biar ga muncul😅
@NarjuSyafaat2@sosmedkeras punten banget kak, mana baru masuk lagi notif nya nih x, lanjutannya mereka gajadi nikah kakk karena jelas ditentang keras sama org sekitar yg tau😭
Kemarin ada satu coffee shop yang bikin campaign "NGENTOT", katanya singkatan "Ngenal Total".
Menu kopinya dikasih nama-nama cewek.
Jadi pas barista nanya "mau pesan apa?", pelanggan jawab "mau pesan Nadia."
Lucu? Kreatif? Nggak sama sekali. Ini pelecehan yang dikemas jadi marketing.
Seolah-olah harga diri perempuan bisa dibeli seharga kopi.
Yang bikin gue lebih kesel: "permintaan maaf" mereka kayak ga niat gini.
Cuma tulisan doang. Ga ada video. Ga ada statement langsung dari yang bertanggung jawab.
Gak ada penjelasan kenapa ini bisa lolos. Gak ada akuntabilitas. Cuma damage control yang berasa template dan malah lanjut jualan.
How the fuck was this approved by the higher ups? Did they hire misogynist perverts?
💚 GK BERHENTI KETAWA LIAT INI. BAJU BAPAK SAMA ANAKNYA KEBOLAK 😭😭😭😭 HARUSNYA BAPAKNYA YG PAKE JAS TAPI INI MALAH BAPAKNYA YANG PAKE BAJU PENGANTIN 😭😭😭😭😔😔 MANA ROMBONGANNYA GAADA YG NYADAR LAGI SI PENGANTIN COWOKNYA JUGA SAMA ANTENG2 AJA. GAKUAD 😩😩✋🏻
Salah satu alasan mengapa mahasiswa teknik perlu lebih sering mengkaji persoalan sosial dan humaniora adalah karena 2 hal: Kredibilitas keilmuan mereka hampir selalu hanya bertumpu pada kemampuan memberi prediksi dan peringatan dini bukan komentar retrospektif. Dan yang paling penting: mereka terbiasa berakuntabilitas langsung akan hasil kerjanya.
Jika seorang insinyur sipil merancang bangunan dan bangunan itu roboh, ia bisa dipenjara. Ia harus memprediksi kegagalan struktural. Ia tidak bisa bersembunyi di balik niat baik, konteks sosial, atau alasan bahwa “implementasinya kurang sempurna”.
Sekarang bandingkan dengan seorang ekonom yang, melalui rekomendasi atau prediksinya, berkontribusi pada kebangkrutan sebuah negara. Apakah ia masuk penjara? Hampir tidak pernah. Kegagalan biasanya dijelaskan ulang sebagai kesalahan aktor, situasi global, atau kurangnya komitmen bukan kegagalan model analisisnya.
Ini BUKAN seruan untuk menutup fakultas-fakultas sosial dan humaniora. Ini adalah upaya menjelaskan apa yang seharusnya dihargai masyarakat sebagai mata uang keilmuan: Tantangan intelektual yang sesungguhnya bukanlah seberapa fasih kita menjelaskan setelah kejadian, melainkan apakah kerangka analisis yang kita gunakan mampu mengantisipasi hasil sebelum peristiwa itu terjadi. Akuntabilitas itu penting dan itu bukan hanya ranah orang teknik. In fact, sophisticated soshum scholars understand this very well.
Dari kemarin kutahan2, tapi tindakan goblok2 in orang selevel dosen dan subspesialis di medsos apalagi dosennya jelasin baik2 itu dah tindakan bajingan
Mencetak 1 dokter subspesialis yg berkenan mengajar itu sulit. Kok waton dibantah.
Koe ning ngarepku tak idoni su.