< dengan kenyataan buruk ketidakhadiran Ethan. Dan di tengah kegelapan, ia membisikkan doa dalam hati, permohonan pengampunan dan penebusan di dunia yang terkoyak oleh tragedi.
< hadir menelisik seperti dengung lebah, terlihat Emery masih menangis sejadi-jadinya saat peti mati perlahan ditutup.
Yang mati tak akan pernah kembali.
Pada akhirnya, saat hujan terus turun, Eden tetap terjebak dalam siklus penyesalan dan kerinduan, tak mampu berdamai >
< antara yang hidup dan yang mati. Eden menyesali kepergian Ethan karena meninggalkannya, sebagian dari Eden akan merindukan kepulangannya. Rasa sakit karena kehilangan menggerogoti jiwa, meninggalkan luka menganga yang tak kunjung sembuh.
Suara dari tangisan orang-orang yang >
< Pikiran Eden berputar-putar dalam luapan emosi, mulai dari ketidakpercayaan, kemarahan, hingga kesedihan yang luar biasa.
๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐, umpat Eden, suaranya hilang di tengah suara hujan yang menggema dari luar. Ia merutuki >
< diri sendiri karena gagal melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Terkulai lemas di atas lantai, Eden menggendong boneka beruang dan karangan bunga mawar hitam, dengan berat hati, ia meletakkan persembahan di dalam peti mati Ethan, upaya sia-sia untuk menjembatani jurang >
< terjebak dalam kungkungan peti mati yang dingin dan tak kenal ampun. Ethan seharusnya masih hidup, tawanya memenuhi udara dengan kehangatan dan kegembiraan.
Tapi takdir telah bertindak kejam, mematikan cahaya Ethan dan hanya menyisakan gema hampa dari apa yang terjadi. >
< bernyawa di dalamnya. Ethan yang terkasih telah terbaring dalam diam, sebuah pengingat kejam akan kehidupan yang dipersingkat oleh kekerasan yang tidak masuk akal.
Penderitaan mencakar hati Eden saat ia masih berjuang memahami kebenaran yang tak terduga bahwa Ethan tengah >
Awan gelap menggantung rendah di langit, menimbulkan bayangan suram pada pemandangan di bawah. Air mata bercampur dengan gaung rintik hujan yang menikam, simfoni kesedihan yang menyelimuti pemakaman.
Eden berdiri di depan peti mati, pandangannya tertuju pada sosok tak >
< graciously. Despite the rejection, Eden's generosity prevailed as he added, "If you need anything, I can help. Don't forget about that." @YOO_chanyeol
"If you have free time, I'd like to invite you to join me for a drink." Lately, his mind has been preoccupied, so he extended a spontaneous invitation. "Bills on me, don't worry."
@YOO_chanyeol "Didn't I offer to take you out?" He scowled, acknowledging that despite being the bar's owner, He didn't want to trouble him. But Eden persisted even after his initial offer was declined, after a long sigh, he said, "It would be an honor for me, then." he expressed >
< fragments of Eden's heart.
"Please don't leave me." He clung to Ethan desperately, as if the intensity of his embrace could anchor them both against the abyss. In that fleeting moment, on the precipice of despair, Eden found a sanctuary in Ethan's armsโa sanctuary that >
< shared silence. Eden, fueled by a mixture of love and desperation, implored Ethan to reconsider the irreversible step he was contemplating.
"You promised to spend the night together." Eden's voice trembled, he extended his arm towards Ethan, who was on the verge of >