Guys, ada pernyataan dari Anies Baswedan yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang sesuatu yang jarang diakui secara terbuka oleh mantan pejabat manapun.
Anies menyebut kata yang selama ini hanya bisik-bisik di kalangan orang dalam: kriminalisasi.
Dan dia tidak hanya bicara tentang dirinya sendiri.
Pertama fakta yang paling mengejutkan:
Selama Anies menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta KPK menggelar perkara atas kasusnya sebanyak 19 kali.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Sembilan belas kali.
Jaya Suprana pendiri MURI bahkan sempat nyeletuk:
"Mas, kenapa enggak diusulkan masuk MURI aja?"
Karena normalnya gelar perkara itu dilakukan sekali atau dua kali.
Kalau tidak ketemu kasusnya selesai.
Ini 19 kali. Dan hasilnya: lewat semua.
Dan ini yang paling penting Anies menyebut kata kriminalisasi secara terbuka:
"Tantangan soal berada di pemerintahan itu akhir-akhir ini adalah kriminalisasi. Dan itu fakta.
Saya pun merasakan proses itu.
Teman saya merasakan juga.
Tom Lembong dan yang lain-lain
sekarang sedang merasakan juga."
Ini bukan tuduhan tanpa nama.
Ini disebut langsung.
Tom Lembong mantan Menteri Perdagangan era Jokowi yang kini tersangka disebut sebagai contoh konkret.
Dan yang paling berat dari kalimat itu:
Anies tidak bilang ini sebagai keluhan.
Dia bilang ini sebagai fakta
yang perlu diakui dan dihadapi.
Dan ini tentang strategi bertahan yang paling praktis bukan teori:
Anies tidak curhat panjang lebar.
Dia langsung ke pelajaran konkret dari 19 kali gelar perkara yang dilewatinya.
Pertama: ketaatan pada SOP.
Ini adalah satu-satunya perisai
yang benar-benar bisa dipegang.
Kalau setiap keputusan dibuat sesuai prosedur ada argumen yang bisa dipertahankan di manapun, termasuk di hadapan penyidik yang mencari celah selama berbulan-bulan.
Kedua: menangkan hati bawahan.
Pejabat dan pemimpin itu dua hal berbeda.
Pejabat: kata-katanya diikuti karena ada otoritas. Pemimpin: kata-katanya diikuti karena dipercaya.
Ketika bawahan benar-benar percaya pada apa yang dikerjakan mereka menjadi bagian dari perlindungan itu. Mereka tidak mudah dipakai untuk menjatuhkan atasan.
Ketiga: berteman dengan semua termasuk lawan.
Bukan berarti setuju dengan semua.
Tapi berinteraksi dengan semua.
Karena di Indonesia jaringan pertemanan adalah mata uang yang paling nyata dalam navigasi politik dan birokrasi.
Dan ini yang paling miris dari seluruh gambaran yang Anies lukiskan:
Dia menggambarkan masuk ke birokrasi Indonesia setelah bertahun-tahun di sistem yang efisien di Amerika seperti: "
Habis naik kendaraan di jalur cepat tiba-tiba pindah ke jalur lambat."
Dan pilihannya cuma dua:
tetap ngebut dan nabrak semua orang atau melambat dulu sambil pelan-pelan mengajak yang lain untuk tambah kecepatan.
Yang kedua jauh lebih sulit.
Tapi yang pertama tidak menghasilkan apa-apa
selain kecelakaan.
Dan ini yang paling relevan dengan kondisi sekarang:
Anies berbicara tentang kriminalisasi pejabat bukan sebagai fenomena yang baru.
Tapi sebagai pola yang sudah terlihat dan terus berulang di mana mereka yang berani membuat keputusan di dalam sistem sering kali justru menjadi sasaran ketika angin politik berubah.
Tom Lembong bukan satu-satunya contoh.
Anies sendiri mengalami 19 kali gelar perkara.
Dan pertanyaan yang tidak dia ucapkan tapi menggantung di udara:
berapa banyak pejabat lain yang kompeten dan berintegritas yang akhirnya memilih tidak masuk ke sistem karena risikonya terlalu besar?
Sistem yang mengkriminalisasi pejabat yang bekerja sesuai prosedur dan membiarkan yang korup berjalan bebas adalah sistem yang sedang memilih siapa yang akan bertahan di dalamnya.
Dan pilihan itu punya konsekuensi jangka panjang:
yang kompeten akan berpikir dua kali sebelum masuk.
Yang tidak punya integritas tapi pandai bermain akan terus ada.
Anies lewat dari 19 kali gelar perkara.
Tapi tidak semua orang punya ketahanan dan jejaring yang sama untuk melewati proses itu.
Dan selama sistemnya tidak berubah pola ini akan terus berulang.
Potret para pejabat yg sedang menonton kesengsaraan rakyatnya dr tempat yg mewah, nyaman dan tentunya dengan sajian makanan mahal dr uang pajakmuโค๏ธ
Bayangin biayanya bikin acara begini berapa mahal
Bayangin ya
Terus bayangin sebelum bapak ini jadi presiden, biayanya 0 krn acara2 gak perlu begini.
Padahal dulu dia yg bilang acara seremoni2 gak perlu, makanya ada efisiensi
๐๐๐
Ini sudah keterlaluan.
PP terbaru Danantara (PP 19/2026 Pasal 31A) buka jalan APBN suntik modal ke holding Danantara lewat pintu belakang.
Dividen BUMN hilang dari APBN,
tapi Danantara boleh minta injeksi dana negara seenaknya.
Negara gak boleh dapat duit dari BUMN, tapi Danantara boleh minta duit negara?
Udah gila bener ini negara. Uang pajak rakyat diputar untuk kepentingan apa?
https://t.co/bBwHo9hQGy
Halo, presiden biadab @prabowo. Saat mengundang 7 pemred kenamaan ke Hambalang sampean dicecar perihal keberlanjutan embege di saat negara berpotensi menghadapi problema moneter dan fiskal karena perang yang berkecamuk di timteng. Dengan lantang sampean mengatakan, "Tetap saya jalankan! Lebih baik saya memberi makan rakyat saya daripada uang itu dikorupsi!"
Lihat ini. Pemberian makan sampean tak sesuai target, tak bergizi, yang diamanahkan ketahuan basah korupsi, dan ekonomi negara yang sampean pimpin carut-marut!
Mundur!
DIKALA DADAN DI TANGKAP,
PRABOWO KUMPULKAN 14000 ORANG PIC SPPG SELURUH INDONESIA DI SENTUL,
HABISKAN BIAYA HINGGA 55 MILYAR RUPIAH SEHARI !!!
INI AGENDA APA LAGI?
DULANG SUARA DI 2029?
BONUS ADA JOGET2 ALA2 KA SPPG, ENAK YA MAKAN DUIT RAKYAT
Uraian biaya yg dihabiskan oleh acara prabowo tsb :
1. SEWA GEDUNG SICC
Website resmi SICC di https://t.co/h41ywn50kv tidak mencantumkan tarif publik โ harga hanya diberikan via konsultasi langsung.
SICC dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan skala acara nasional, estimasi sewa berkisar:
Main Auditorium + Hall pendukung + ruang VIP/VVIP + area parkir = Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar (1 hari penuh)
2. TIKET PESAWAT PULANG PERGI
Asumsi 14.000 peserta dari 38 provinsi seluruh Indonesia. Sebagian besar dari luar Jawa, sebagian dari Jawa dan sekitar Jabodetabek.
Pesawat dari luar Jawa (Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, NTT, Sumatera): tiket PP minimal Rp1,5 juta hingga Rp4 juta per orang.
Pesawat dari Jawa dan sekitar: Rp300 ribu hingga Rp800 ribu.
Asumsi rata-rata gabungan Rp2 juta per peserta x 14.000 orang = Rp28 miliar
3. AKOMODASI / HOTEL
Berdasarkan data https://t.co/kPSnRCrKKJ, harga rata-rata hotel bintang 3 di Kabupaten Bogor adalah Rp1.362.109 per malam, dan hotel bintang 4 sekitar Rp2.589.851 per malam.
Asumsi 10.000 peserta dari luar daerah menginap 1 malam di hotel bintang 3 rata-rata Rp1,2 juta per kamar, isi 2 orang per kamar = 5.000 kamar x Rp1,2 juta = Rp6 miliar
4. TRANSPORTASI DI LOKASI (BUS/SHUTTLE)
Peserta dari berbagai hotel menuju SICC dan kembali butuh armada bus. Untuk 14.000 orang dengan kapasitas bus 40 penumpang = minimal 350 bus PP. Sewa bus per hari sekitar Rp3-5 juta per unit.
350 bus x Rp4 juta = Rp1,4 miliar
5. KONSUMSI (MAKAN SIANG + 2X SNACK)
Untuk acara pemerintah skala nasional, standar katering per orang per paket (snack pagi + makan siang + snack sore) sekitar Rp100.000-150.000.
14.000 orang x Rp125.000 = Rp1,75 miliar
6. SERAGAM / BAJU PUTIH
Terlihat dari foto, seluruh peserta mengenakan seragam putih seragam. Harga kaos atau kemeja putih polos berlogo untuk acara pemerintah biasanya Rp50.000-100.000 per potong.
14.000 orang x Rp75.000 = Rp1,05 miliar
7. PRODUKSI ACARA (PANGGUNG, LED SCREEN, SOUND SYSTEM, LIGHTING)
Dari foto terlihat panggung besar dengan layar LED raksasa, tata cahaya profesional, dan sistem audio untuk lebih dari 10.000 orang. Biaya produksi skala ini untuk event nasional pemerintah:
Estimasi: Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar
8. DOKUMENTASI, MC, PENGISI ACARA
Videografer, fotografer profesional, drone, MC nasional, penampilan hiburan atau paduan suara:
Estimasi: Rp300 juta hingga Rp800 juta
9. KEAMANAN DAN PROTOKOL
Koordinasi pengamanan untuk acara lembaga negara melibatkan petugas keamanan, protokol, hingga koordinasi TNI/Polri:
Estimasi: Rp200 juta hingga Rp500 juta
10. BIAYA TAK TERDUGA DAN ADMINISTRASI (10%)
Dari total semua komponen di atas, biasanya ada buffer 10% untuk kebutuhan mendadak, cetak materi, spanduk, backdrop, souvenir peserta, dll:
Estimasi: Rp4-5 miliar
TOTAL ESTIMASI KESELURUHAN
Sewa gedung: Rp500 juta - Rp1,5 miliar
Tiket pesawat PP: Rp28 miliar
Hotel: Rp6 miliar
Transportasi lokal: Rp1,4 miliar
Konsumsi: Rp1,75 miliar
Seragam: Rp1,05 miliar
Produksi acara: Rp2,5 miliar
Dokumentasi + MC: Rp800 juta
Keamanan: Rp500 juta
Buffer admin 10%: Rp5 miliar
TOTAL ESTIMASI: Rp47 miliar hingga Rp55 miliar
SUMBER DANA: UANG SIAPA INI?
BGN adalah lembaga negara.
Seluruh kegiatan operasional dan acara nasionalnya dibiayai oleh APBN alias uang pajak rakyat Indonesia.
Ini soal prinsip:
setiap rupiah uang rakyat wajib digunakan secara transparan, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan apalagi di tengah fakta bahwa pimpinan lembaga yang sama kini sudah mengenakan rompi pink tahanan Kejagung.
Publik berhak tahu:
apakah acara ini sudah melalui mekanisme lelang pengadaan yang benar?
Apakah anggarannya tercatat dan bisa diakses publik?
Atau ini bagian dari pola yang sama anggaran besar, minim awas
Sebelum jadi Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri adalah Wakil Bendahara TKN Prabowo-Gibran dan petinggi DPP Gerindra.
Nol pengalaman pimpin BUMN.
Dia masuk Pertamina sebagai Komisaris Utama , dan hanya 5 bulan kemudian langsung dilontarkan jadi Direktur Utama perusahaan energi terbesar Indonesia.
Baru 3 bulan jadi Dirut, skandal korupsi tata kelola minyak mentah Pertamina meledak.
Kejagung menemukan: petinggi anak usaha Pertamina beli RON 90, bayar harga RON 92, lalu oplos di depo sebelum distribusi , selama 5 tahun penuh (2018โ2023). Kerugian negara: Rp193,7 triliun.
Kasusnya sudah masuk sidang.
Respons Simon? Dia sengaja menghilang ,pengakuannya sendiri di depan media.
Baru muncul beberapa hari kemudian untuk minta maaf.
Hukumannya? Nol.
Di RUPS Juni 2025, Simon tetap dipertahankan sebagai Dirut.
Ini bukan soal satu orang korup.
Ini soal sistem yang menempatkan orang partai di kursi korporasi, lalu melindunginya ketika semuanya meledak.
๐คฃ๐คฃ
Habis ini jg Kita akan mendengar pidatonya bang @pandji
Mungkin besok ato lusa stlh "kunker" katanya di Prancis kmrn..
Nanti tinggal kita hitung brp Kali frasa ini muncul ๐ฅฑ
Kita ingin
Kita harus
Kita ga boleh
Kita jangan sampai
- Ke Brazil โ Ingin bahasa Portugis diajarkan di sekolah-sekolah
- Ke Russia โ Siapkan kandidat untuk ikut program kosmonot Rusia.
- Ke Korea selatan โ ingin memperbanyak konser K-Pop
- Ke perancis โ ngin bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah
- Di Indonesia โ pidato selau tidak suka asing
HEY ANTEK-ANTEK ASING
Di tengah gemuruh ruangan, suara tegas Ibu Anik menggema jernih: โSaya usaha sendiriโฆ modal sendiriโฆ tanpa campur tangan pemerintah.
Tapi begitu berhasilโฆ tiba-tiba mereka datang minta pajak.โ Ia bukan sekadar bicara.
Ia mewakili jutaan pengusaha yang membangun dari nol dengan keringat dan tekad. Kisah sukses yang dibayar mahal dengan โpajak mendadakโ.
Apakah ini bentuk keadilan yang seharusnya?
#KisahPengusahaSejati
@aniesbaswedan@Pita_MFP Jenis pemimpin masa depan yang kita harapkan akan membawa kemaslahatan yang luas untuk manusia, kemanusiaan dan kesejahteraan yang berkeadilan. Salam hormat.
Guys, Raymond Chin baru curhat
tentang keresahan dia dengna pemeritah sekarang
Dan isi curhatnya menurut gue adalah paling berani yang pernah diucapkan oleh seorang content creator bisnis besar Indonesia tentang kondisi negara kita sekarang.
Judulnya: "Gw Muak Dengan Komunikasi Pemerintah Sekarang."
Dan dia bukan oposisi.
Bukan aktivis.
Bukan pengamat politik.
Dia adalah orang yang selama ini fokus ngajarin anak muda Indonesia soal bisnis dan AI.
Tapi ada satu titik di mana diam tidak lagi bisa dipertahankan.
Dan ini yang Raymond katakan langsung, tanpa filter:
"Harusnya dari jajaran pemerintah sadar bahwa praktik ini bukan lagi borderline menyesatkan.
Ini sudah manipulasi narasi. Cherry picking."
The Economist nulis Indonesia lagi di rute yang sangat berbahaya.
Dan respons pemerintah:
Majalah bego. Enggak sepintar gua.
Instansi pemerintah bilang ke reporter:
'Anda tidak mengerti ekonomi. Anda bodoh.
Belajar lagi.
Logikanya di mana?
Kalau tim Anda kuat jelaskan duluan.
Ternyata enggak kuat-kuat amat
Dan ini yang paling menohok dari seluruh videonya
Raymond menyebut dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan.
Kemungkinan pertama yang terbaik:
Pemerintah tahu ada masalah besar.
Tapi sengaja komunikasi bahwa semua baik-baik saja untuk menenangkan warga.
Di balik layar mereka sedang kerja keras mencari solusi.
Kemungkinan kedua yang terburuk:
Pemerintah bilang tidak ada masalah dan mereka benar-benar percaya tidak ada masalah.
Tidak ada yang fokus memikirkan solusi karena mereka yakin tidak ada yang perlu diselesaikan.
"Itu menurut gua kebodohan paling fatal yang bisa dilakukan oleh instansi Republik Indonesia."
Dan dari semua pernyataan pejabat yang sudah kita lihat selama ini Purbaya bilang fundamental kuat, Perry mengganti definisi stabilitas, Prabowo bilang orang desa tidak pakai dolar pertanyaan Raymond sangat relevan:
Mereka pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu?
Dua-duanya berbahaya.
Tapi yang kedua jauh lebih mengerikan.
Dan ini soal narasi rupiah melemah yang katanya bagus:
Ada yang bilang:
rupiah melemah itu bagus karena ekspor kita jadi lebih kompetitif.
Devisa masuk lebih banyak.
Raymond langsung potong:
Justru ekspor kita melambat growth-nya dan impor naik.
Angka dari mana bilang pelemahan rupiah itu bagus?
70% bahan baku produk jadi sehari-hari di Indonesia adalah impor.
Artinya: rupiah melemah bahan baku impor makin mahal biaya produksi naik harga barang naik daya beli rakyat turun.
Dan narasi yang bilang rupiah melemah itu bagus adalah narasi yang hanya masuk akal kalau kita tidak melihat data ekspor yang sebenarnya.
Alias: cherry picking.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh situasi:
Raymond menunjukkan video Perdana Menteri Singapura yang sedang viral:
"I cannot promise that there will be no disruption.
We may not be able to protect every job.
But we will protect every worker."
Singapura yang katanya lebih otoriter dari Indonesia bisa lebih jujur dari kita.
Bisa bilang ada masalah.
Bisa bilang ada yang perlu diperbaiki.
Bisa bilang tidak semua akan aman.
Dan itu justru yang membangun kepercayaan.
Bukan karena Singapura sempurna.
Tapi karena pemimpinnya tidak berpura-pura sempurna.
Sementara Indonesia yang mengklaim dirinya demokratis justru merespons kritik media internasional dengan menghina kecerdasan reporternya.
Dan ini yang paling fundamental dari seluruh video Raymond:
"Kalau ekonomi melambat, kalau rakyat lagi susah ya udah so be it.
Memang lagi susah.
Tapi kalau itu ditambah dengan komunikasi yang ugal-ugalan, instansi yang merendahkan rakyat dan menyalahkan cara berpikir kritis di situ baru menurut gua negara ini sudah dung."
"Siapa yang mau tinggal di Indonesia?
Siapa yang mau berkarya di Indonesia?
Siapa yang mau masuk ke pemerintahan?
Ujung-ujungnya bukan yang pintar lagi tapi yang sekedar mau mengeruk dari sistem yang sudah rusak."
Ini bukan ancaman
Ini adalah pernyataan tentang bagaimana brain drain terjadi.
Orang-orang terbaik Indonesia pergi bukan karena tidak cinta negara tapi karena sistem yang tidak menghargai kejujuran dan pemikiran kritis tidak punya ruang untuk mereka.
Dan yang tersisa:
mereka yang mau masuk bukan untuk memperbaiki tapi untuk mengambil bagian dari yang sudah rusak.
Dan ini yang paling relevan dengan semua yang sudah kita bahas:
Mahfud MD:
Proses bubarnya negara berjalan di atas distrust lalu disobedience lalu disintegrasi.
Dr. Tirta:
Kebodohan struktural.
Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin warga yang pintar.
Ahok:
Yang paling dikhawatirkan oknum pejabat jangan ada yang punya ide nolong rakyat.
Karena kalau ada ide ini rakyat akan tanya: kenapa dia bisa, lu enggak bisa?
Dan Raymond Chin 3,4 juta subscriber, fokus pada bisnis dan AI terpaksa bikin video tentang komunikasi pemerintah.
Bukan karena dia mau jadi oposisi.
Tapi karena ada titik di mana diam sudah menjadi bagian dari masalah.
"Ada satu titik tertentu di mana kata-kata yang harusnya menenangkan itu jadi manipulatif dan menyesatkan.
Itu tidak boleh.
Rupiah di Rp17.700.
IHSG di level terendah sejak COVID.
Investor kabur.
Ekspor melambat.
Impor naik.
Daya beli turun.
Dan respons resmi:
ekonomi sehat,
fundamental kuat,
orang desa tidak pakai dolar,
The Economist bego,
yang mengkritik tidak mengerti ekonomi.
Di satu sisi ada rakyat yang setiap hari membuka dompet dan merasakan semua angka itu.
Di sisi lain ada pejabat yang setiap hari membuka podium dan mengatakan semua baik-baik saja.
Jarak antara dua realita itu semakin hari semakin lebar.
Dan semakin lebar jarak itu semakin dalam lubang yang sedang digali.
Bukan karena masalahnya tidak bisa diselesaikan. Tapi karena yang seharusnya menyelesaikan masalah sibuk meyakinkan semua orang bahwa tidak ada masalah.
Waspadai tindakan @prabowo dlm kaitannya dng kebijakan perang AS. Track tecordnya sejak jd Presiden adalah mengkhianati negara. Mulai dari gabung dlm BoP, jual kedaulatan negara dng perjanjian dagang, membiarkan pesawat AS melintasi udara RI, kini menjadikan RI pusat pemeliharaan pesawat militer AS. Arahnya bisa2 ia menjadikan RI sbg pangkalan militer AS. Tolak RI dijadikan obyek kebijakan AS. Tolak kolonialisme AS.
#StopPengkhianatanNegara
#IndonesiaBukanNegaraBagianAS
Guys, Ferry Irwandi baru merilis video yang menurut gue paling berbahaya untuk reputasi Purbaya sebagai Menteri Keuangan.
Bukan berbahaya karena mengandung fitnah.
Tapi berbahaya karena menggunakan matematika.
Dan matematika tidak bisa dibantah dengan narasi.
Tidak bisa dibantah dengan wawancara di TV One.
Tidak bisa dibantah dengan bilang "Anda tidak mengerti ekonomi."
Matematika hanya bisa dibantah dengan matematika yang lebih benar.
Apa yang Purbaya klaim:
Pertumbuhan ekonomi 5,61%
adalah capaian yang membanggakan.
Fundamental kita kuat.
Konsumsi yang menjadi komponen terbesar bukan government spending yang menggerakkan pertumbuhan itu.
Kalimat Purbaya yang paling terkenal soal ini: pertumbuhan 5,61% tidak digerakkan oleh belanja pemerintah yang besar.
Konsumsinya 54,36% jauh lebih besar dari government spending yang hanya 6,72%.
Kedengarannya masuk akal.
Sampai Ferry Irwandi membuka spreadsheet dan mulai menghitung.
Dan inilah yang sebenarnya terjadi dan ini yang membuat gue berhenti:
Ferry tidak membantah bahwa konsumsi lebih besar dari government spending secara persentase komposisi GDP. Itu benar.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Yang Ferry bantah adalah logika yang digunakan Purbaya untuk menarik kesimpulan.
Karena yang penting bukan porsi komposisi tapi kontribusi persentase poin terhadap pertumbuhan.
Dan ketika dihitung dengan benar:
Konsumsi menyumbang 2,94 persen poin dari 5,61%. Investasi menyumbang 1,79 persen poin.
Government spending menyumbang 1,26 persen poin.
Sekarang pertanyaannya:
government spending naik berapa persen untuk menghasilkan kontribusi 1,26 persen poin itu?
21,81%.
Kenaikan tertinggi dalam sejarah modern republik ini. Dalam 10 tahun terakhir range normalnya antara 3 sampai 6 persen. Tidak pernah 21,81%.
Dan Ferry Irwandi melakukan sesuatu yang sangat mematikan:
Dia menghitung counter faktual.
Pertanyaannya: kalau government spending tumbuh normal sesuai rata-rata 10 tahun terakhir yaitu 4,8% bukan 21,81% berapa pertumbuhan ekonomi kita yang sesungguhnya?
Dengan akuntansi: 4,63%.
Dengan ekonometrika memasukkan multiplier effect dari konsumsi dan investasi yang ikut terpengaruh: antara 4,23% sampai 4,43%.
Bukan 5,61%.
Tapi sekitar 4,2 sampai 4,6 persen.
Dan ini yang paling mematikan dari seluruh analisis Ferry:
Purbaya bilang 5,61% adalah salah satu yang tertinggi. Perlu dirayakan. Perlu dibanggakan.
Ferry Irwandi berkata dengan sangat dingin:
"Kalau government spending-nya normal ini bukan salah satu yang paling tinggi.
Ini salah satu yang paling buruk."
Selama 10 tahun terakhir dengan government spending yang normal pertumbuhan 4,2 sampai 4,6% itu ada di bawah rata-rata historis Indonesia.
Jadi yang sedang dirayakan Purbaya setelah dibedah sebenarnya adalah pertumbuhan di bawah rata-rata yang dimanipulasi tampilannya dengan belanja negara yang tidak berkelanjutan.
Dan ini yang bikin gue benar-benar tidak bisa tidur:
Dari mana uang belanja pemerintah yang naik 21,81% itu?
Pendapatan negara naik 10%.
Belanja naik 31,8%. Defisit Q1 saja sudah Rp240 triliun ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
Artinya: pertumbuhan 5,61% yang dirayakan itu sebagian besar dibeli dengan utang. Bukan dihasilkan dari aktivitas ekonomi organik rakyat.
Dan utang itu harus dibayar. Dengan bunga. Oleh generasi yang sekarang masih sekolah.
Rakyat yang tabungannya turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta yang kelas menengahnya menyusut dari 57 juta ke 46 juta tidak merasakan pertumbuhan itu.
Karena pertumbuhan itu bukan untuk mereka.
Pertumbuhan itu adalah angka di kertas yang dibiayai dari kantong masa depan anak-anak mereka.
Dan sementara Ferry Irwandi membuktikan ini dengan ekonometrika:
Purbaya tetap keliling media bilang fundamental kita kuat. Gubernur BI mengganti definisi stabilitas supaya rupiah yang di Rp17.600 bisa disebut stabil. Presiden bilang "mau dolar berapa ribu kek." Dan Ketua Komisi XI DPR bilang yang terdampak orang kaya saja.
Market tidak percaya. D
olar tetap ngacir.
IHSG tetap ambruk.
Investor asing terus kabur.
Karena market membaca data bukan narasi.
Dan yang paling telak dari Ferry Irwandi:
"Kalau memang ada yang salah dari matematika saya mohon dikoreksi.
Dengan keilmuan yang benar.
Pak Purbaya kan sering ngaku ekonom.
Tentu ekonom tidak bernarasi.
Tentu Menteri Keuangan tidak beropini.
Jawablah dengan data."
Sampai hari ini belum ada jawaban dengan data.
Yang ada hanya wawancara di TV One.
Narasi tentang fundamental kuat.
Dan kalimat yang menurut Ferry sendiri tidak perlu direspons tapi tetap menggelikan: "
Anda tidak mengerti ekonomi."
Sementara rupiah terus melemah. Defisit terus melebar. Dan orang yang disebut tidak mengerti ekonomi itu punya 2,3 juta subscriber yang menonton matematikanya dan tidak ada satu pun angka yang bisa dibantah.
Purbaya bilang pertumbuhan 5,61% adalah bukti fundamental kuat.
Ferry Irwandi membuktikan dengan ekonometrika bahwa tanpa government spending yang naik 21,81% angka itu tidak akan tercapai.
Dan kalau spending-nya normal pertumbuhannya salah satu yang paling buruk dalam satu dekade.
Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang jujur dengan data.
Dan ketika Menteri Keuangan memilih cherry picking angka untuk membuat kondisi terlihat lebih baik dari kenyataan bukan hanya dia yang menanggung akibatnya.
Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tidak tahu bahwa pertumbuhan yang dirayakan itu sebagian besar adalah utang yang sedang dicicilkan ke masa depan mereka.
Guys, hari ini IHSG jatuh 3,08% ke level 6.396 hanya dalam satu sesi perdagangan.
Dan penyebabnya bukan karena perang.
Bukan karena krisis global.
Bukan karena berita buruk dari Amerika atau China.
Penyebabnya adalah satu rumor.
Satu kabar yang belum dikonfirmasi resmi.
Satu isu yang seliweran di antara pelaku pasar.
Dan itu saja sudah cukup untuk menghancurkan triliunan nilai saham dalam hitungan jam.
Apa isu yang beredar:
Pemerintah sedang menggodok aturan ekspor komoditas satu pintu melalui satu badan khusus bentukan negara.
Batu bara,
minyak kelapa sawit,
mineral logam semua eksportir kemungkinan diwajibkan menjual produk mereka kepada entitas baru ini dulu.
Baru entitas itu yang menangani ekspor ke luar negeri.
Belum dikonfirmasi.
Belum ada aturan resmi.
Masih rumor.
Tapi market langsung bereaksi dengan sangat keras.
Dan ini hasilnya dalam satu sesi:
BUMI โ saham batu bara Bakrie jeblok 9,22%. Dalam setengah hari.
AMMN โ Amman Mineral jeblok 10,14%. Salah satu saham tambang terbesar Indonesia.
AADI โ Adaro Andalan jeblok 9,78%.
Total nilai transaksi yang didominasi tekanan jual dalam satu sesi: Rp12,9 triliun.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Market tidak bereaksi terhadap aturannya.
Market bereaksi terhadap kemungkinan aturannya ada.
Terhadap sinyal bahwa pemerintah sedang berpikir ke arah sana.
Itu artinya kepercayaan investor terhadap kepastian kebijakan di Indonesia sudah sedemikian rapuhnya sehingga rumor saja sudah cukup untuk memicu kepanikan jual sebesar ini.
Ini bukan pasar yang sehat.
Pasar yang sehat tidak ambruk 3% karena rumor yang belum dikonfirmasi.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi sebelumnya:
BYD buka pabrik insentif pajak dihilangkan mendadak.
Komisi ojek online dipaksa turun dari 20% ke 8% tanpa kajian matang.
Royalti tambang dinaikkan tiba-tiba.
Bunga Mekaar diperintahkan turun dari 24% ke di bawah 9% dengan satu instruksi tanpa roadmap yang jelas.
Setiap kali ada kebijakan baru tidak ada yang tahu apakah itu final atau akan berubah lagi besok.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada predictability.
Investor asing yang sudah gue ceritakan sebelumnya Swiss, Prancis, UEA semuanya kabur karena alasan yang sama: tidak ada kepastian hukum dan regulasi.
Dan hari ini bahkan rumor tentang kemungkinan aturan baru sudah cukup untuk menghapus Rp12,9 triliun nilai pasar dalam setengah hari perdagangan.
Dan ini yang paling ironis:
Prabowo hari ini bilang "kalau tidak beres copot sederhana."
Gubernur BI Perry bilang "rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Purbaya bilang "fundamental kita kuat."
Sementara IHSG jatuh 3% karena satu rumor kebijakan yang belum pasti ada.
Kalau fundamental memang kuat mengapa satu rumor saja cukup untuk menghancurkan kepercayaan pasar sebesar ini?
Karena fundamental yang kuat tidak ambruk karena rumor.
Yang ambruk karena rumor adalah sistem yang sudah kehilangan kepercayaan investor sejak lama dan hanya menunggu satu trigger untuk jatuh.
IHSG hari ini bukan sekadar angka.
IHSG hari ini adalah cermin dari berapa besar kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah Indonesia.
Dan cermin itu menunjukkan gambar yang sangat jelas:
kepercayaan itu sudah sangat tipis.
Begitu tipisnya sehingga satu rumor yang belum dikonfirmasi tentang kemungkinan aturan ekspor satu pintu sudah cukup untuk memicu kepanikan Rp12,9 triliun dalam setengah hari.
Sementara presiden berdiri di podium bilang ekonomi kita kuat.
Sementara Menteri Keuangan bilang pertumbuhan kita membanggakan.
Sementara Gubernur BI mengganti definisi stabilitas agar kondisi yang buruk bisa disebut baik.
Market tidak mendengarkan pidato.
Market membaca sinyal.
Dan sinyal hari ini sangat jelas:
yang perlu dicemaskan bukan hanya rumornya tapi betapa mudahnya pasar Indonesia ambruk ketika ada rumor apapun yang muncul.
Pemerintah dan BUMN belum Memiliki Laporan Keuangan Tahun 2025 - Ada Apa ?
Oleh : Muhammad Said Didu.
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2025, harusnya sudah diselesaikan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada bulan Maret 2026, tapi sampai saat ini (akhir Mei) belum selesai atau belum dipublikasikan. *Keterlambatan ini bisa menimbulkan banyak spekulasi dan bisa menimbulkan banyak ketidakpastian - termasuk terhadap pengelolaan BUMN oleh Danantara.*
Seperti diketahui bahwa LKPP memuat : (1) Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga, (2) Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota), dan (3) Laporan Keuangan BUMN. *Dengan belum selesainya LKPP Tahun Anggaran 2025 oleh BPK, berarti Pemerintahan Prabowo belum memiliki Laporan Keuangan.
Laporan Keuangan BUMN.
Terkait dengan isu bahwa sampai saat ini belum terbitnya laporan keuangan BUMN (konsolidasi) yang dibuat oleh Danantara, diuraikan sbb :
1) sesuai ketentuan perundangan bahwa laporan keuangan BUMN (unaudited) tahun buku sebelumnya paling lambat selesai 15 Februari dan disampaikan ke BPK pada akhir Februari. Laporan keuangan BUMN (audited) disampaikan dan dipublikasikan pada bulan Juni.
BPK harus menyelesaikan Laporan Keuangan Pemeriintah Pusat (LKPP) tahun anggaran sebelumnya paling lambat bulan Maret tahun berikutnya, termasuk Laporan Keuangan BUMN (unaudited). *Kenapan BPK belum menyelesaikan ?*
2) Biasanya masing-masing BUMN menyelesaikan laporan keuangan (unaudited) tahun buku sebelumnya yang pada bulan Januari tahun berikutnya dan disampaikan ke Kementerian BUMN (dulu) - skrg ke Danantara. KemBUMN/Danantara menyampaikan laporan konsolidasi ke BPK pada awal Maret.
Setelah saya cek informasi secara sampling di beberapa BUMN, mereka sudah menyampaikan laporan keuangan (unaudited) sesuai jadwal tersebut.
3) Badan Pemeriksa Keuangan, sesuai jadwal menyelesaikan laporan keuangan negara pemerintah pusat (LKPP) tahun sebelumnya pada bulan Maret tahun berikutnya, termasuk laporan keuangan BUMN (unaudited).
Namun sampai saat ini BPK belum menerbitkan LKPP tahun anggaran 2025 - ada apa dengan BPK ?
4) belum dipublikasikannya Laporan Keuangan BUMN (unaudited) bisa jadi, yang terjadi saat karena keterlambatan BPK meyelesaikan LKPP yg harusnya selesai bulan
Maret. Sementara laporan keuangan BUMN secara konsolidasi harus sesuai dg hasil audit BPK.
5) terkait laporan keuangan masing-masing BUMN dengan status terbuka berjalan sesuai ketentuan UU Pasar Modal.
Mari kita tunggu dan berharap agar laporan keuangan BUMN (konsolidasi) segera disampaikan ke publik.
Hal yang menjadi pertanyaan besar adalah, kenapa semua yang terkait dengan penyelesaian LKPP Tahun Anggaran 2025 yaitu Pemerintah dan DPR hanya diam ?
Demi transparasi dan menghilangkan munculnya berbagai spekulasi serta untuk meningkatkan kepercayaan - termasuk kepercayaan ke BUMN - diharap agar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera menyelesaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2025.
Pemimpin itu menjelaskan langkah apa yang akan diambilnya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, bukan denial dan yapping dan tantrum kayak anak kecil yang kehilangan mainan.