1. Friendship is a ship that could sink. Makin tua, kita akan makin sadar mana yang pantas dipertahankan, mana yang memang sudah waktunya dibuang jauh-jauh. Sometimes, it’s best to part ways with people who doesn’t treat you as good as you treat them.
2. Stop being a “yes man”, stop thinking you should please everybody. Start saying “no” without having to explain yourself, and without feeling guilty afterwards. It’s OKAY to say no. It’s OKAY not to give the reasoning behind your “no”. “Hi, boleh pinjam uangnya nggak?” “Hi, nggak dulu, ya.” There. Simple.
3. Semakin bertambah umur, semakin kita sadar skala prioritas kita ada di mana. Your family, your best friends, your significant other, your mental health should be on top of your priority list.
4. Your work is not your whole life. Punya hidup di luar lingkup kerjaan akan membantu kita lebih waras. Work smart, not just work hard. Jangan sampai menyesal mendedikasikan sebagian besar waktu untuk bekerja dan dapet capeknya doang, tanpa ada waktu yang cukup untuk diri sendiri.
5. Hidup itu udah ribetnya setengah mati. Jadi kalau ada perkara yang bisa disederhanakan, don’t complicate them. Kadang kita bukannya nggak bisa langsung ambil keputusan, kita terlalu sering overthinking dan takut jika keputusan itu salah. It doesn’t have to be like that.
6. Arguing with strangers on the internet? Why would anyone want to waste their time doing that, I wonder? Even if you say 2+2=7, i’d agree with you. You’re right. It’s seven. Now let me carry on with my life.
7. Masih nyambung dengan poin no 6, waktu yang kita simpan dengan tak meladeni orgil di internet bisa kita gunakan untuk meningkatkan soft skill. Belajar merajut? Menggambar? Public speaking? Belajar bahasa baru you’ve been wanting to do since forever? Go for it.
8. Membandingkan hidup dengan orang lain? Sure, why not? However, ada gak yang bisa kita ambil dari perbandingan itu? Does it ignite your passion to be better for yourself? Because if comparing your life with other people only make you feel miserable, why would you torture yourself? It doesn’t make sense. In short: ubah iri jadi motivasi. Kalau cuma dapet iri dan dengki doang, ya mending rebahan aja dan halu dan delulu-in bias/idol, gak sih?
9. Your fear? It doesn’t mean you’re weak. Justru rasa takut itu wajar. After all, we’re humans with emotion. Rasa takut membuat kita lebih waspada, lebih memperhitungkan langkah, dan membuat kita belajar banyak hal baru termasuk lebih mengenal diri sendiri dan di mana batas mental kita. Fear, is good. Rasa takut membantu kita selamat.
10. I don’t believe in too late, or too old. Hidup itu bukan perkara berkompetisi dengan orang lain; hidup adalah perkara bagaimana kita berkontribusi untuk hidup yang lebih baik. Mau kuliah lagi? Go for it. Gak ada istilah ketuaan. Mau coba usaha baru? Go for it. Gak ada istilah udah telat. Teman-temanmu udah nikah dan punya anak selusin? Good for them but it’s their life, not yours. When it’s meant to be yours, it will be yours. Believe in God’s timing.
Anjir panjang bener. Hope this helps!
hari ini aku ikut workshop dried flower candle class🪔🌺
sangat menyenangkan bisa saling kenalan dan cerita. kelas ini bisa join secara private, dan hari ini aku join sendiri. oiya, mereka juga ada gift shop. sangat kurekomendasikan! cek ig: @/vert.erre✨☘️
📍Vert Terre
Buku anak, tapi orang dewasa juga harus tahu 🥲👍🏻
"(Jati diri) kita tidak ditentukan oleh perasaan kita."
"Perasaan itu seperti cuaca, datang dan pergi."
Ternyata emotional validation lebih mudah kalo dijelaskan pakai perumpamaan. "Marah, di dadaku kayak ada api."—
Selama 7 tahun berkarir, gue menganggap stress itu buruk
Sehingga gue berusaha mati-matian untuk menghindarinya
Sampai-sampai gue pernah punya goal "Hidup bebas dari stres"
Ternyata persepsi dan pendekatan ini salah
Utas 🧵
Jujur gw ngerasa ada yg hilang dari "Jatuh Cinta Seperti di Film-Film", soal sumber egoisme bagus dan masa lalu Hana.
Taunya mereka sengaja "nyembunyiin" kepingan ceritanya di dua MV: Bercinta Lewat Kata & Sudut Memori.
Gw baru tau hari ini dan langsung merinding sebadan-badan.
"Kapan dong kamu nikah? kasian banget sampe sekarang sendirian terus" Ujar seseorang yang sering cekcok perkara rumah tangganya.
"Jadi kapan kamu kerja? masa abis lulus ga ngapa-ngapain" ujar seorang yang sering mengeluh soal pekerjaannya.
Kenapa ya, ada aja orang yang kebiasaannya bahas pencapaian dia terus?
Padahal, belum tentu dia unggul di aspek-aspek yang lain.
Ini berkaitan sama teori social comparison atau perbandingan sosial. Teori ini pertama kali dikenalkan tahun 1954 oleh psikolog, Leon Festinger.
Perbandingan sosial terbagi atas dua jenis:
Upward Comparison:
Perbandingan ini dilakukan dengan menjadikan pihak yang dianggap lebih unggul dan superior sebagai perbandingan.
Downward Comparison
Sebaliknya, perbandingan ini dilakukan dengan menjadikan pihak yang dianggap kurang unggul sebagai perbandingannya.
Perbandingan sosial ini memegang peranan dalam pembentukan self-esteem pada individu. Kalo kita mengaitkan dua jenis perbandingan tadi dengan contoh di keseharian adalah, downward comparison seringkali menjadi alasan kebiasaan seseorang mengunggulkan diri dan mengulik kelemahan kita (atau malah sebenernya bukan kelemahan, itu cuma penilaian subjektif mereka). Misalkan saat kumpul keluarga, ada aja saudara jauh yang udah menikah tiba-tiba memojokkan dengan pertanyaan kapan nikah. atau saat ada reuni, seseorang berlomba menunjukkan pencapaian mereka. Padahal mereka yang menikah duluan mungkin secara finansial pun masih berjuang. Mereka yang secara karier dan finansial unggul pun bisa sama tersinggungnya saat diberikan pertanyaan lain berkaitan insecurity mereka.
Jangan marah dulu ya, sebenernya mereka melakukan hal tersebut tanpa sadar. Seringkali orang yang suka memberi pertanyaan menyudutkan itu justru orang-orang yang insecure. Kadang, cara mereka untuk merasa lebih aman adalah dengan membahas hal yang mereka anggap jadi keunggulan bagi mereka. Tapi ya mereka ga sadar padahal itu menyakiti orang yang mereka tanya-tanya juga.
Nah, perbandingan sosial ini juga yang menjadi alasan kenapa mudah sekali merasa tertekan melihat pencapaian orang lain.
Apalagi bagi yang sejak kecil terbiasa dibanding-bandingkan oleh orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Dulu perbandingan hanya dilakukan dengan saudara, teman sekelas, atau anak tetangga sebagai pembanding. Sekarang di era media sosial, semua bisa terasa seperti saingan.
Terus gimana cara mengatasinya?
1. Ingat soal dikotomi kendali, dan fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan.
2. Jangan terus-terusan melihat orang lain sebagai alasan berkompetisi, namun ubahlah menjadi alasan untuk berkolaborasi (mengutip kata dokjim @jiemiardian) sehingga kalian ga merasa semuanya seperti lawan, tapi teman untuk bekerja sama.
3. Latihan jurnaling, termasuk dengan melihat hal-hal kecil yang menjadi pencapaian diri setiap hari untuk meningkatkan penghargaan diri.
4. Kamu ga berkewajiban memuaskan semua orang dengan pencapaianmu, ataupun jawabanmu (dikutip dari pemaparan @ndreamon)
5. Ambil sisi positif perbandingan, untuk mengubah outputnya menjadi motivasi.
6. Jangan hanya fokus menjadikan orang lain sebagai objek perbandingan. Jadikanlah the old version of yourself untuk perbandingannya.
menutup November dengan nonton jatuh cinta seperti di film - film, menjadi satu keputusan yang baik. keren pake banget banget. habis nonton, 1 bioskop tepuk tangan, mau nonton lagi!😭😍🤍🙌🏻
"Enak banget ya jadi anak sosmed, kerjaannya cuman scrolling, bikin konten, sama haha hihi."
Dear mas-mba bombastic side eye... kerjaan kami keliatannya emang "gitu doang". Tapi proses di baliknya bikin pengen ngubur diri.
Misalnya bikin content plan, prosesnya serumit ini👇