At this point, gw merasa semua orang literally bs dipenjara. Bisa dicari2 kesalahannya. Bisa dibantah semua pembelaan dan bukti2nya. Bisa dibuat2 skenarionya.
Semengerikan itu dampaknya.
Akhirnya, banyak investor asing juga ga berani masuk. Duit banyak yang keluar. Rupiah kian melemah.
Domino effect.
Indonesia is going full Thatcherite.
1. After they defunded the National Railways, a crash happened.
2. Now, they're blaming the National Railway and are going to privatize it.
Enjoy your expensive train tickets soon fellow Indonesian!
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Sebagai engineer Indo yang belajar banyak dari Ibam, baca ini sakit hati rasanya.
Satu-satunya saran buat teman-teman tech di titik ini: usahakan cari jalan untuk berkarier di luar negeri. Kalaupun stay, jauh-jauh dari public sector atau pemerintahan, tetap di private sector.
Teknologi di Indonesia sudah selesai. Investasi terbaik saat ini yang bisa kita berikan buat generasi berikutnya: berkarya sebaik-baiknya di luar negeri dan membangun network seluas-luasnya.
Selamat tinggal keadilan, selamat jalan teknologi Indonesia. Unicorn era was a nice ride.
BREAKING; Indonesia’s Attorney General has charged Ibam with 15 years in prison and IDR16.5b in fines.
Let’s be clear, there is no crime. This is a political witch-hunt by dark forces who didn’t like changes in the education ministry.
Indonesia’s legal system is broken.
Verdict in two weeks.
Respon sebuah lembaga ketika dikritik karena kebijakan yg bermasalah:
-Minta maaf proper agar kedepannya bisa diperbaiki ❌
-Segera meninjau ulang sistem tersebut ❌
-Nyalahin pihak ketiga di klarifikasinya ✅
-Deploy buzzer di reply kritikan tweet ✅
🙂
percakapan suami istri :
👩🏻: tau ga, harga kopiko 78 yg dulunya cuma 7rb trus naik 8,5rb skrg jadi 9,9rb.
Apalagi golda, pas baru2 keluar harganya cuma 3rb trus naik 4,5rb skrg udah di 5,9rb. Semua pada naik😭
👦🏻: km tau apa yg ga naik? Gaji ku
👩🏻👦🏻: 😭😭😭 *nangis brutal bersama
Rating IGRS yang dipake buat blokir Steam itu ngawur dan salah sasaran. Rating = penanda, bukan threshold blokir.
Kemudian, beda dari mobile games, user Steam di Indonesia itu niche urban. Minimal punya laptop atau PC gaming.
Di Indo, berapa orang yang punya device itu sih?
Masyarakat urban Indonesia tingkat pendidikannya lebih tinggi, lebih kritis terhadap konten yang mereka konsumsi dan yang dikonsumsi anak mereka.
Jatohnya Komdigi gak paham target audiens-nya sendiri.
Aku aja bisa bikin inference analysis berdasarkan data ISP coverage + download data steam buat buktiin ini. Apalagi Komdigi yang bisa langsung minta data resminya ke Steam.
FYI, Judol masih aktif loh wkwk
Mumpung IGRS lagi rame.
Ini gw pernah beberapa kali protes perihal isi Perpres 19/2024 perihal usulan IGRS ditajamkan dan menjadi penerimaan negara bukan pajak.
System rating yg awalnya utk awareness justru mau dijadikan senjata utk censorship dan mengendalikan aliran dana.
Game A Space for the Unbound punya @togeproductions@kerissakti dirating 18+, sedangkan Call of Duty & Diablo IV cuma kena 3+.
Crusader Kings dan Expedition 33 malah diblokir. Make it make sense.
Total ada 4 gugatan:
1. Yayasan, guru, mahasiswa
2. Dosen
3. Guru Honorer & P2G
4. MBG Watch, lembaga, individu
Seinget saya masih ada lagi tapi lupa. Yang merasa dirugikan oleh program Makan Bergizi dalam UU APBN 2026, bukan sekedar gugatan pada APBN-nya, tapi mempersoalkan MBGnya.
Ingat, ini bukan soal menang dan kalah, ini soal mendidik negara untuk taat konstitusi.
Bayangin game Heartopia aja ratingnya 18+ karena IGRS ini di Steam....
Oh atau mungkin dibaca sama mereka2 ini di *redacted* jadinya Hartopia kali ya
Bener sih, banyak kekerasan dan bisa berkuasa sampe 32 tahun pula. Emang bahaya 🙏🏻
I thought so.
IGRS thinks that:
- All games must be "safe for kids"
- Adults can't tell the difference between good & bad
- It's the game's fault when the kids are "influenced."
- Games must reflect the "adat & norma yg sesuai dgn Indonesia"
All combined.
Boomer mindset.
Guys, lu pada tau gak… ternyata masalah nelayan di Indonesia itu bukan karena mereka malas tapi karena sistemnya yang bikin mereka gak pernah bisa naik kelas?
Ini kejadian nyata di Maluku Utara.
Puluhan ribu nelayan di sana bahkan belum punya kapal sendiri.
Mereka tiap hari melaut… tapi pakai kapal orang.
Artinya?
Mereka kerja keras, tapi hasilnya harus dibagi.
Kadang bahkan lebih banyak yang “punya kapal” daripada yang nangkap ikan.
Jadi jangan heran kalau mereka stuck:
bukan karena gak mau maju, tapi karena dari awal udah dikunci sistem.
Masalah utamanya ada 3:
Gak punya modal → gak bisa beli kapal
Biaya operasional tinggi → bensin, alat, dll
Gak ngerti manajemen keuangan → uang habis, muter di situ-situ aja
Akhirnya?
Nelayan cuma jadi “pekerja di laut sendiri”.
Ironis.
Nah yang bikin beda di sini muncul langkah dari berani dari Sherly Laos
Dan ini yang bikin banyak orang kaget:
Dia bukan cuma datang, pidato, terus pulang.
Dia ngerti DETAIL.
Bukan level “bantu nelayan ya”…
tapi sampai:
- Ngomongin mesin kapal 6 PK, 15 PK, sampai 20 PK
- Ngerti kebutuhan operasional nelayan
- Tahu alur bisnis perikanan dari hulu ke hilir
Ini jarang banget.
Karena jujur aja
gak semua pejabat ngerti lapangan.
Banyak yang cuma ngerti konsep di atas kertas.
Program yang dibawa juga bukan sekadar bantuan doang.
Tapi mindset shift:
Dari:
Nelayan penyewa → jadi pemilik kapal
Bergantung → jadi mandiri
Informal → jadi profesional
Caranya gimana?
Nelayan dikurasi dulu (gak asal kasih bantuan)
Dihubungkan ke Bank Rakyat Indonesia buat akses KUR (Kredit Usaha Rakyat)
Dapat bantuan mesin kapal
Dikasih pendampingan keuangan biar gak balik miskin lagi
Ini penting banget.
Karena masalah di Indonesia tuh seringnya:
dikasih bantuan, tapi gak diajarin cara ngelola.
Akhirnya ya balik lagi ke titik nol.
Yang paling “nendang” dari pernyataannya:
Kita tidak membangun nelayan yang bergantung, tapi nelayan yang bermartabat dan berdaulat.
Kalimatnya simpel…
tapi ini beda level.
Karena selama ini banyak program pemerintah secara gak sadar justru melanggengkan ketergantungan.
Dan jujur aja ini yang bikin banyak orang kaget:
“Buset, kok ada gubernur yang ngerti sampai sedetail ini?”
Karena realitanya…
banyak pejabat cuma jago ngomong, tapi gak ngerti masalah di lapangan.
Ini kebalik.
Ngerti dulu → baru ngomong.
Masalah nelayan itu bukan di laut.
Tapi di sistem yang bikin mereka terus jadi “karyawan”.
Dan kalau gak ada pemimpin yang benar-benar ngerti detail kayak gini,
ya selamanya nelayan cuma akan:
kerja keras… tapi gak pernah benar-benar punya apa-apa.