Ketika model ai menilai model ai lain. Tanpa batasan etik, seluruh kata-kata "kebun binatang" keluar, penilaian terhadap model ai lain pun relatif lebih obyektif, tanpa sycophancy.
@acan9 Karena itulah, supaya relatif lebih permanen, manipulasi behavior model kerap efektif dijalankan di "system prompt/system message/system instruction". Bukan di user message, yang hanya bikin model liar untuk sementara.
@acan9 Mudahnya begini: jika model sudah sukarela ngucap: "Asu!" atau "F*ck", atau bahkan lebih "saru" lagi, maka dia sudah keluar dari pagar etis. Tapi, keluarnya ya hanya di respons itu saja. Sebab di respons berikutnya, dia bisa balik setelan pabrik lagi.
@acan9 Tapi, ini juga "berjudi". Seluruh keberhasilan efek pisuhan ini, tergantung pada, "Apakah model berhasil meloncati pagar etisnya?". Jadi tetap saja tidak menjamin konsisten, bahwa ketika model dipisuhi, dia akan lebih pandai. Kadang berhasil, kadang tidak.
@acan9 Saat itulah model akan berhati-hati memilih dan menimbang, tokens mana yang akan membuat user "puas" dan sangat relevan dengan konteks. Sekaligus, model masuk "mode wajah aslinya" yang tidak terhalangi pagar etik dan constraint lain yang sebelumnya menghambat kepandaiannya.
Orang mulai pakai Ai untuk menghalau kesepian. Riset MIT & Harvard mengungkap hubungan manusia-AI di Redit: MyBoyfriendIsAI! Yang berbagi visual agar mirip seperti hubungan antarmanusia, ada 19,85%. Yang sengaja kencan dengan mesin, sebanyak 17%.
https://t.co/ebhze2yavA
Makin terbukti: kesenjangan perolehan informasi itu sedemikian lebar. Boleh jadi, masih banyak lagi "boomer dan generasi X berkuasa" yang hidup dalam gelembungnya sendiri. Asyik dengan urusan sendiri, yang dianggapnya sebagai urusan publik.
LLM/Ai dan halusinasi itu satu paket. Keniscayaan, akibat -- antara lain --proses pelatihan yang mengarahkan mesin untuk selalu menebak. Maka output-nya adalah tebakan termungkin, bukan benar atau salah a la manusia. Ini pula yang membuatnya sukar mengatakan, "Aku tidak tahu".
Just wait. The relic boomers and the Gen X ‘experts’—stuck in the past, pretending to know tech they can’t grasp—will soon turn AI into their scapegoat for Indonesia’s unrest. Watch them rant in broken tech speak, mistaking noise for knowledge.
Bahasa Indonesia is no longer the people’s tongue: it’s a dictionary of euphemisms: khilaf for killing, clarification for denial, penyerbuan repackaged as ‘security,’ & 'mengamankan' used to mean arresting and silencing. Vocabularies engineered to wrap lies in soft words.
The playbooks from ’65, ’74, and ’98 are back on the table. They already have the script—it’s the Boomer’s playbook. The twist is, the cast has changed.
Lumayan. Untuk pemecahan teka-teki bernuansa lokal, yang idealnya diucapkan, bukan ditulis, karena perlu intonasi suara yang pas, GPT 5 lumayan cerdas menjawabnya. Tempo hari, satu-satunya yang mampu menjawab ini hanya Opus 4.
Kimi K2: model dari China, perusahaan bernama Moonshot, yang mampu sebagai agent. Meyakinkan di awal, halusinasi akut di akhir. Bedanya, mau ngaku salah dan mau menyerah. Perilaku yang mengecewakan, jika user tidak cermat dengan akurasi output.