untuk pertama kalinya mbah No menerima orang dari luar untuk masuk ke dalam pabrik, hal itu juga yg membuat mbah No berkata bahwa sebagian pabrik bisa di tinggali namun sebagian lagi harus tetap seperti itu.
mbah No menunjuk tempat di mana Ratu berada dan lelaki itu mendekatinya
“Mir—“ kata Eka tersenyum. “ini ndak seperti yg kamu pikirkan, kita bawa ini buat jaga-jaga, banyak semak belukar dan binatang buas”
“iya Mir” ucap Guntur tak kalah canggung, sementara Rasyid dan si petugas sudah menghentikan percakapan mereka.
Rasyid mendekati Mira.
berikutnya kita akan masuk jauh lebih dalam di mana saat penghuninya mulai menunjukkan eksistensinya yg semakin gila, warga menyebut peristiwa ini dengan sebutan "Demit'e mudal"
itu adalah kesialan yg lebih terdengar seperti aib bagi siapapun yg pernah bertemu dengannya, karena itulah sangat jarang ada yg mau bercerita ketika pengalamannya bertemu dengan si janda merah terjadi.
sekarang jalanan tempat si janda merah berada menjadi jalan utama perumahan
Hanif kembali ke tempatnya, setelah melihat Isti ia meringkuk sebelum ikut terlelap tidur.
namun malam itu, rupanya masih belum di mulai. karena kejadian setelahnya, Sorop baru akan di mulai.
lelaki paruh baya itu bangun dari tempatnya. ia merangkak mendekati Hanif dan Isti yg tersudut di depan pintu.
namun, Hanif menyadari tubuh gempal pak de nya yg dulu kini seperti tulang yg di balut kulit kering. dari hidung dan mulutnya, dia terus memuntahkan darah.
sejak tadi, wanita itu tak kunjung pergi, ia mengenakan gaun lawas cokelat, dengan belanjaan tas sayur di samping kakinya, Mira berusaha mengabaikannya, namun aneh, Mira merasa wanita tua itu terus melihat dirinya, tak sedetikpun ia berpaling, ekspresinya begitu dingin
Riko sudah meletakkan papan itu di dalam rumahnya, ia masih tidak dapat berkomentar bagaimana Mira bisa mengumpulkan semua ini, "pantas kamu di terima jadi jurnalis, lha wong ngumpulin ini saja kamu bisa"
Mira tak perduli, ia terus menerus membaca buku tua itu,
meski hanya sebatas coretan, Riko bisa merasakan sensasi tidak mengenakan saat menatap gambar itu, ia merasa merinding, Mira menatap papan lagi, menunjuk satu persatu titik yg di hubungkan dengan benang-benang itu, lalu berbicara pada Riko, "istilah ini semua apa ya artinya?"
Mira kembali menutup tirai, saat itu ia melihat ibunya kembali.
"onok opo asline buk!!" (ada apa sebenarnya buk)
ibu Mira tampak diam, namun Mira terus mencoba membuat ibunya bicara, sampai, Lindu masuk ke kamar dan melihat Mira dan ibunya..
"anak itu milik seseorang"