Yang menempel di khalayak kan pns yg lgsg “bersentuhan” sm warga yg modelan begitu.
Kayak org kelurahan atau bahkan tetangga mereka yg PNS.
Udh gitu ga ada tindakan sanksi seperti buruh di sektor swasta kalau mereka melakukan tersebut.
Ya itu akhirnya membentuk persepsi dan stereotip dan ga ada perbaikan. kasian buat PNS yg bener bener kerja memenuhi tupoksinya
Kalian harus tahu:
1 hari MBG = 1 triliun (dibulatkan biar gampang ngitungnya).
Jika libur 7 hari gara-gara Lebaran, maka 7 triliun nggak jadi dibagi-bagikan dong.
7 triliun ini, hitung-hitunganannya: 70% buat biaya beli bahan makanan, 20% buat operasional, 10% buat bayar-bayar insentif. Alias 30% bisa masuk kantong dapur.
Dus, 30% x 7 triliun, sama dengan 2,1 triliun.
Itu kalau bahan makanannya memang 70%. Kalau cuma ciki, dkk sih tambah asyik deh.
Itulah kenapa libur lebaran pun maksa harus dibagikan. Cuan 2,1 triliun gitu loh.
Kalian bagian dari 1 juta pekerja dapur? Kalian cuma dapat ingusnya saja.
Kalian orang tua yang anaknya dapat MBG? Duuh, kalian cuma dapat upilnya doang.
Yg punya dapur, mereka pesta pora. Argo terus jalan, cuy.
Apakah anak-anak kita betulan akan nambah pintar, nambah bergizi?
Duh Rabbi, kamu tuh cuma ngasih makan 1x sehari, lantas berharap semua masalah selesai?
Orang tuanya tetap susah nyari pekerjaan, biaya sekolah kuliah mahal, pun anak tsb, 2x makan lainnya di hari tsb bagaimana?
(Tere Liye, penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar)
Sumpah, ini pernyataan paling nirempati dari No 1 Kita!
Dikira syarat Bencana Nasional itu harus nunggu Jakarta tenggelam atau 38 Provinsi rata tanah dulu baru negara panik?!
Logika macam apa ini?! Aceh, Sumut, Sumbar itu isinya MANUSIA, bukan angka di papan tulis yang bisa Bapak diskon seenak jidat!
Bpk bilang "Terkendali" sambil duduk di Istana, sementara di lapangan mayat ngapung dan warga ngibarin bendera putih minta makan? "Monitor Terus"? Monitor apaan? Monitor jumlah korban nambah sambil ngopi?
Kalau kelingking kaki diamputasi, satu badan demam, Pak! Gak perlu nunggu leher putus baru dibilang sakit!
Nyawa rakyat dikonversi jadi persentase.
Mereka pikir tangisan ribuan ibu yang kehilangan anak di 3 provinsi itu kurang keras buat nembus tembok kedap suara Istana?
Tuli nurani.
Jangan berlindung di balik angka "3 dari 38". Satu nyawa rakyat melayang karena negara lalai aja itu udah TRAGEDI, apalagi seribu!