Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana.
Mulai dari meminta wartawan memberitakan yang baik-baik saja, hingga menelpon manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan.
#DeadPressSociety#YaAkuBakalDibaca https://t.co/O6XCuqB4dA
“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?”
Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: https://t.co/arK81yQJNS
@senantivia@alpraezolam Setuju , anak ku tak gini in juga sekarang 8 bulan alhamdulillah udah engga peyang, dulu pas lahir kelamaan di jalan lahir kaya nya jd peyang
"Bu, doain Ulish ya, biar setelah lulus ini cepat dapat kerja biar bisa punya rumah sendiri."
Adalah kalimat pertama yang saya sampaikan ke ibu saat pertama kali memutuskan untuk merantau ke luar kota setelah lulus kuliah.
Ya, sejak remaja saya memang sudah bermimpi ingin punya hunian sendiri, ditambah dengan adanya doktrin dari orang-orang terdekat untuk tidak tinggal satu atap dengan mertua atau numpang di orang tua sendiri setelah menikah kelak, karena bagi saya jika ada dua keluarga yang tinggal satu atap, urusan bumbu dapur pun bisa jadi masalah.
Kalau ada yang bertanya apa usaha saya dan kenapa di umur yang terbilang muda sudah memiliki rumah, jawaban saya adalah; saya cukup bijak untuk masalah keuangan.
Mungkin bagi sebagian menebak bahwa saya terlahir dari anak orang kaya atau kekayaan saya hasil dari pesugihan. Salah besar. Saya terlahir dari keluarga yang berkecukupan, orang tua hanya memberikan kami pendidikan yang baik dan sisanya? Kami harus mencari sendiri. Berjuang dan bekerja keras meski harus kaki jadi kepala, kepala di kaki.
Setelah bekerja, saya tipikal orang yang menghindari keseringan nongkrong tidak jelas. Bukan kaum yang sering jajan kopi, juga tidak merokok. Termasuk juga bukan tipe gonta ganti gadget, dan kalau mau beli sesuatu saya selalu list dengan pertanyaan sederhana, ini memang butuh apa cuma ingin doang?
Awal gajian saya akan selalu menerapkan 10:20:30:40. 10 untuk sedekah dan kebaikan lainnya, 20 untuk tabungan dan orang tua, 30 untuk cicilan dan 40 untuk kebutuhan hidup. Syukur-syukur saya tidak punya cicilan jadi bisa dimasukkan ke tabungan semuanya.
Saya selalu berpegang teguh pada prinsip "life begin at 30", jadi pada saat usia 30 tahun saya sudah harus settled dalam masalah finansial, minimal sudah tidak bergantung pada orang tua, kalau bisa sudah harus memiliki rumah.
Sekarang bagaimana? Pada Juni tahun kemarin, tepat usia 30 tahun, satu wishlist saya akhirnya tercentang. Saya menghadiahi diri sendiri dengan membeli satu unit rumah di pusat kota. Sederhana, tapi nyaman. Tidak mewah, tapi jadi tempat saya untuk kembali pulang.
Sama seperti tweet Mas Rio, rumah yang kutempati sekarang bukan hanya bangunan. Itu adalah bukti dari doa ibuku, dari malam-malam ketika saya menahan diri, dari keputusan-keputusan kecil yang terasa berat, dan dari mimpi yang saya jaga sejak lama. Proud of myself too. 🥹
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Hari ini aku good mood sekali cuma gara2 tukang sayur bawa teri nasi buat aku masak mpasi dan hari ini bisa pup 😭😭😭
Sederhana sekali kebahagiaan ku😭😭😭😭