jujur. ketika umur 27-28 tuh deg degan bgt kaya life is over , ngerasa telat dr yg lain, bla bla bla…tapi kesini2 justru gue makin sadar kalau hidup ga bisa dipaksain. ga harus selalu ambisius dalam segala hal. dan trying to let it go..
i think ketika umur 20an akhir itu beda, seperti mau melangkah ke umur yg dituntut dewasa bgt. padahal ketika nyampe di umur 30. dan skrg 31 justru ngerasa lebih muda. ngerasa kek “umur 40 masih jauh. im still young dll..
dan memang mulai sadar akan kesehatan bgt dulu 20an gue itu males gerak, binge watching, ngemil, begadang dll. skrg? pelan2 mengubah kebiasaan buruk dan menjadi lebih sehat. mungkin karna berkaca ke sekitar, kalau udah tua nanti ga mau nyusahin org lan ga mau sakit2an. dllnya
dan kalau masalah karir atau percintaan keknya udah pasrah aja. tp emang udah punya prinsip sendiri. dan tau akan resiko dengan prinsip itu. kadang emang cape mikirin kehidupan ini. tp skrg lebih ga muluk2. . paling banyakin “oh yaudah, kalau gagal jd klien mah” “oh yaudah kalau emang ga mau ketemuan” “oh yaudah kaau ga jadi acaranya ” dll. like.. ga memikrkan hal yg ga bisa kita control aja
WOWO kurban 1.098 sapi dananya dari APBN, kurban atas nama PRABOWO SUBIANTO
kalau pake dana APBN sebutnya jangan dari Presiden dong, yang berkurban adalah rakyat indonesia yang bayar PAJAK
in another life gue lah anak FK yang berangkat kuliah naik hrv sand khaki, nenteng ipad atau macbook, papa mama dokter spesialis, lulus langsung nempatin ke rs swasta punya orang tua, tiap liburan keluarga ke eropa dengan sorotan Instagram full bendera
Hal yang seharusnya tidak mahal:
1. Pendidikan
2. Daging, susu, buah
3. Penerbangan domestik
4. bbm
5. minyak goreng
6. buku
Yang harusnya mahal:
1. Gaji guru
2. Gaji nakes
3. gaji damkar
4. saptam BCA
bisa beli hp sendiri
bisa beli sepatu sendiri
bisa beli barang-barang branded sendiri
please jangan judge gue perkara tabungan, gue baru kali ini ngerasain bisa beli semuanya sendiri karena dulu ga pernah😔
sewajarnya orang aja kok ga seimplusif itu guys😔🙏🏻
sekolahnya (SMKN 4 Samarinda) udah ngebantu Mandala berkali-kali secara finansial. yang janggal:
- Ibu Mandala minta uang untuk mandi buyu (pengobatan alternatif)
- Ibu Mandala ngelarang anaknya bilang soal sepatu kekecilan ke orang lain
jujur, ibunya perlu diperiksa
Guys, ada kasus yang menurut gue adalah salah satu yang paling menggemparkan dan paling penting untuk dibahas dengan kepala dingin karena ini menyangkut keselamatan anak-anak di institusi yang paling dipercaya oleh orang tua di Indonesia.
Kasus pelecehan seksual oleh oknum pengasuh pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah.
Kasusnya seperti apa:
Seorang pendiri dan pengasuh pondok pesantren di Dipati, Pati berinisial AS kini sudah berstatus tersangka per tanggal 28 April 2026 setelah dilaporkan sejak 2024.
Korban yang berani melapor adalah santriwati yang masuk pesantren sejak 2016-2017 pada usia sekitar 14 tahun.
Modusnya bertahap dan sangat terstruktur dimulai dari disuruh memijat, lalu diajak ziarah dan selawatan, kemudian diarahkan ke praktik yang lebih jauh dengan dalil "terapi batin" dan "perintah guru tarekat."
Yang paling mengerikan adalah justifikasi yang digunakan: korban diberitahu bahwa mereka memiliki "penyakit batin" seperti iri dan dengki, dan "obatnya" adalah menemani oknum tersebut tidur.
Ketika korban menolak atau mencoba cerita ke orang lain diancam sanadnya diputus, artinya jalur keilmuannya terputus dari guru.
Skala dugaan kejahatan ini:
Dari keterangan yang disampaikan, dugaan jumlah korban mencapai sekitar 50 santriwati dari berbagai daerah termasuk Jakarta dan Kalimantan.
Kasus ini dilaporkan sejak 2024 tapi sempat stagnan tanpa perkembangan yang jelas. Baru setelah ada pendampingan hukum dari kuasa hukum baru dan dukungan ormas lokal perkara ini naik ke penyidikan dan tersangka ditetapkan.
Penyidikan sudah didukung oleh bukti yang cukup kuat: visum, keterangan korban, rekaman percakapan di WhatsApp yang memuat pesan seperti "temani Bapak tidur kalau tidak mau saya ganti yang lain," serta dua HP yang disita sebagai barang bukti.
Modus yang perlu dipahami agar tidak terulang:
Ada pola yang sangat sistematis di sini yang perlu dikenali oleh semua orang tua.
Pertama grooming bertahap.
Tidak ada pelecehan yang terjadi di hari pertama. Selama 3 tahun pertama semua berjalan normal. Kepercayaan dibangun pelan-pelan sebelum penyimpangan dimulai.
Kedua doktrin ketaatan digunakan sebagai senjata.
Di lingkungan pesantren, tawadu atau kepatuhan kepada guru adalah nilai yang sangat dihormati. Oknum ini mengeksploitasi nilai tersebut untuk membuat korban tidak berani menolak atau melapor.
Ketiga ancaman spiritual.
Ancaman "sanad diputus" atau "berkah ilmu hilang" adalah ancaman yang secara psikologis sangat berat bagi santri yang menghargai jalur keilmuannya. Ini membuat korban terdiam bahkan ketika ingin bercerita.
Keempat isolasi korban.
Korban yang mencoba bercerita kepada kakaknya justru dipanggil dan dimarahi.
Orang-orang di sekitar yang mengetahui pun diam karena takut atau percaya oknum tersebut "sakti."
Yang membuat kasus ini akhirnya terbongkar:
Ayah korban yang tidak menyerah.
Sudah dua kali ditawari uang pertama Rp300 juta, kedua Rp400 juta dan dua kali menolak.
Diancam, diintimidasi, disuruh cabut laporan tetap tidak mundur.
Kuncinya juga ada pada pergantian tim penyidik. Dengan Kapolres, Kasatnya, dan penyidik yang baru dalam 3 bulan berkas sudah bergerak dan tersangka ditetapkan.
Sesuatu yang tidak terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya.
Yang perlu dikawal ke depan:
Pertama — ancaman hukuman harus maksimal. Pasal perlindungan anak dengan lebih dari satu korban seharusnya memberikan tuntutan minimum yang jauh lebih berat.
Kuasa hukum mendorong minimal 15 tahun, bukan 3 tahun.
Kedua — ketua yayasan yang diarak dalam demonstrasi 2 Mei statusnya belum jelas dan masih akan dikembangkan penyidikannya.
Apakah dia mengetahui dan membiarkan praktik ini berlangsung bertahun-tahun itu adalah pertanyaan yang harus dijawab.
Ketiga — tujuh dari delapan pelapor masih bekerja di pondok pesantren tersebut.
Mereka perlu perlindungan nyata agar tidak diintimidasi lebih lanjut.
Satu hal yang sangat penting untuk digarisbawahi:
Kasus ini bukan tentang pesantren sebagai institusi. Pesantren adalah tempat yang baik dan dipercaya jutaan keluarga Indonesia untuk mendidik anak-anak mereka.
Yang bermasalah adalah satu oknum yang menggunakan jubah keilmuan untuk menyembunyikan predasi.
Justru karena pesantren adalah institusi yang begitu dipercaya hukum harus sangat tegas terhadap siapapun yang mengeksploitasi kepercayaan itu.
Bukan untuk menghancurkan nama pesantren, tapi untuk membersihkan sistem dari orang-orang yang mencemarkannya.
Dan cara satu-satunya agar hal ini tidak terus terjadi adalah transparansi, keberanian melapor, dan penegakan hukum yang tidak bisa dibeli dengan Rp300 juta atau Rp400 juta.
Dr gia said:
"Emosi amarah yang menggebu-gebu (burst of emotion) itu cuma bertahan 90 detik, so take ur 90 seconds to take a deep breath and istighfar biar bisa merespond dengan emosi yg midful".
DAMNNN AI IS SCARYYYY😭😭😭😭guys yang pake AI buat ngedit foto kalian kayaknya harus warning dehkk. hati hati kalau mau ngedit di ai takut foto kalian kesimpen dan akhirnya di pake AI buat edit di foto orang lain
Kadang berat banget bangun tidur buat berangkat kerja 😔 cuma bisa mikir is this the life i wanted… ini gue baru aja bangun tidur buat diri gue sendiri, gimana gue bisa sambil urus keluarga as working mom dah