"Gak salah. Firasatku juga berkata bahwa Hotaru memang punya berpotensi lebih dari yang biasa kudengar ketika main piano bersamanya."
Tolong digaris bawahi, bahwa aku tak pernah menyesal memilihnya. Aku hanya merasa hidup ini tidak adil, bila hanya aku yang diberi waktu singkat.
"Oh ya? Rasanya kayak bertahun-tahun, tuh." Bercanda.
"Tapi kurasa Hotaru bisa menyeimbangimu jika misalnya nih, lu masuk rumah sakit lagi, gitu? Bukan berarti gue doain yang enggak-enggak. Jadi, mau jam session lagi gak? Gue masih ada waktu buat ngelakuin bentar sebelum balik."
@tensainatenshi "Melamun lagi, Hotaru? Masih ragu menunjukkan sinarmu?"
Tangan yang lebih besar menggenggam lembut yang lebih mungil. Hawa berambut hijau itu tersenyum, bak tak sehari pun ia meninggalkan duka di hati hawa bersurai pucat. +
"Aku sih merasa cuma tertidur beberapa jam. Tapi ternyata sudah beberapa minggu? Bulan?
Omong-omong, bagaimana kesannya bermain bersama Hotaru?"
Miris. Sesungguhnya, aku merasa tidak rela digantikan.
"OWALAH." Oke bentar bukan hantu. Berdeham sekejap terus angguk-angguk dikit.
"Baguslah lu dah balik sehat lagi, noh Mahoro sama Nagi nyariin lu. Eh sama anak didik lu kemarin gantiin lu juga."
"Hotaru...? Hey, dengar aku tidak~?" Lambai-lambai tanganku ke depan wajahmu.
Kau boleh menganggap ini cuma mimpi, atau hanya sekelibat bayangan masa lalu. Tapi aku disini, saat ini, masih bersamamu.
"KENAPA KAMU KERINGAT DINGIN BEGITU? INI AKU LOH, BUKAN RAMPOK!!" Guncang-guncang bahunya.
"Ayo, duduk di sebelahku. Kita busking piano, seperti biasa~"
@estimoris Mungkin karena Umiri kurang kasih sayang?
Untungnya ada Mana yang baik hati dan tidak sombong~
Usap usap punggung Umiri sambil mendusel di dadanya ♡
@estimoris Unch, gemeshnya~ Mana pulang sambil bopong cewek ganteng.
Dibawalah Umiri ke dalam kamarnya (nah loh?) untuk kemudian dibaringkan ke atas tempat tidur dan diselimuti seperti seorang bayi.
"Menginap semalam dulu ya, Umiri-chan. Ututu, kasihan..." usap-usap keningnya.