Pls ya, cowok-cowok. Before approaching a woman, do your research first. Lihat dunia yang sudah dia bangun. Kalau dia sudah terbiasa mandiri, investing in herself, growing her career, traveling, dan membeli apa yang dia mau dari hasil kerja kerasnya sendiri, don't be surprised if her standards are different.
Jangan datang, lalu saat merasa tidak bisa keep up, malah bilang dia boros atau terlalu tinggi standar. Maybe she's not asking for too much—maybe you're just not on the same level yet
Di sini ada yang, "waktu SD ranking satu terus & pinter banget. Namun semakin dewasa kemampuan akademik tersebut menurun?"
Menurut saya, itu karena gaada dukungan secara sustainable untuk growth dari lingkungannya. Iyaa bunga secantik apapun kalau tidak dirawat & dikasih air akan layu juga. Boro-boro mikirin akademik, beberapa masih mikirin, "besok makan apa".
Fansen ini salah satu yang termasuk beruntung. Selain sudah berbakat sejak kecil, bakat tersebut terus dikembangkan & didukung oleh orang tua & lingkungannya.
Privileges tentang makanan berkualitas, pilihan sekolah berkualitas, punya mentor yang proper, networking untuk masuk kampus berkualitas seperti MIT.
Mungkin, di luar sana ada Fansen-Fansen lain, namun lahir & tumbuh di lingkungan yang kurang beruntung. Saya kira ini suatu masalah yang perlu diperhatikan pemerintah. Akan sayang sekali kalau kehilangan talenta emas seperti itu.
Saya menyadari itu. Karena saya termasuk "Fansen yang beruntung" sehingga bisa sampai di titik sekarang.
Sebagai bentuk rasa syukur... saya punya cita-cita besar untuk bidang pendidikan di Indonesia 🇮🇩
Semoga saya bisa mewujudkannya... On progress