eno heran banget raditya dika keliatan sibuk tapi kok masih aja bisa main game dan nonton anime, emang anak apa enggak diurus???
gimana kesehariannya??
jawaban radit:
- pagi2 sebelum berangkat kerja udah nonton, main game, main kartu sama temen2 online-nya.
- selama anak sekolah radit shooting youtube
- beres kerja main zelda, anak setelah pulang sekolah les dulu
- anak santai jam 7-8 malam, baru ditemenin radit, dibacain buku sampai tidur.
- setelah anak tidur, radit lanjut nonton anime dan main game, jam 11 malem - 1 wajib nulis materi
- tidur jam 1 pagi
tambahan2:
- kalau anime macem pokemon nonton bareng anak hari minggu
- kalau di jalan kerja mau juri stand up nonton anime jg
- main game disempetin kalau lagi di pesawat/sebelum perform stand up
kesimpulan?
inilah keseharian finansial freedom yg bisa hire baby sitter dan hanya kerja di pekerjaan yg disuka aja.
kamu mau keseharian kaya radit? 😂
"Rakyat kita tidak mimpi kaya, bisa makan aja cukup" hey antek aseng, jajan aja 15k sekarang. Belum yang suka ngudud harga pasti naik terus naspad juga belum diitung
Dulu beli kue rangi harga Rp. 5.000. Terus tadi liat sodara beli kue rangi harga Rp. 15.000. Eh baru inget ya sekarang dollar udah Rp. 18.000. Bahkan kue rangi kecil pun seharga 1 dollar 😅
Guys, ada berita hari ini yang menurut gue paling mewakili krisis yang sedang terjadi tapi paling jarang dibicarakan secara jujur.
Dika 20 tahun, lulusan SMK otomotif Bekasi sudah nganggur dua tahun.
Sudah kirim 120 lamaran.
Sudah datang belasan job fair.
Tidak pernah sekali pun diterima.
Bahkan tidak pernah dapat satu pun balasan.
Satu pun tidak.
Dan ini yang paling menyakitkan dari ceritanya:
Dika bukan pemalas. Dia aktif.
Dia kirim lamaran ke sales, operator forklift,
kurir bukan posisi yang butuh kualifikasi tinggi.
Dia datang ke belasan job fair sejak lulus 2024.
Dia bahkan pernah coba jualan makanan
tapi kondisi ekonomi tidak mendukung
dan akhirnya berhenti.
Sekarang dia masih bergantung uang saku orang tua.
Sementara ayahnya sedang sakit.
Sementara kakaknya masih butuh biaya kuliah.
Dan yang paling berat:
dia tidak tahu apa yang salah.
Karena tidak ada satu pun perusahaan
yang memberi feedback.
Tidak ada penolakan resmi.
Hanya sunyi.
"Enggak ada jawaban sama sekali."
Dan ini konteks yang harus dipahami:
Prabowo gibran berkampanye dengan janji 19 juta lapangan pekerjaan dalam lima tahun.
Itu kira-kira 3,8 juta per tahun.
Atau sekitar 316.000 per bulan.
Sementara di Jakarta Job Fair kemarin 37 perusahaan membuka 2.000 lowongan. Dua ribu. Untuk Jakarta kota dengan jutaan pencari kerja.
Dan Dika bukan anomali.
Dia adalah potret dari jutaan anak muda Indonesia yang menghadapi realitas yang sama:
lulus sekolah, tidak punya pengalaman,
tidak ada koneksi, tidak tahu apa yang salah
dengan CV mereka, dan tidak ada yang memberi tahu.
Dan ini yang paling pedas tentang janji 19 juta lapangan kerja:
Di mana lowongan itu?
Di mana 316.000 pekerjaan baru per bulan yang seharusnya tercipta?
Yang ada: job fair dengan 2.000 lowongan di GOR Senen. Dikerubungi ribuan pencari kerja.
Dan seorang anak 20 tahun yang datang dengan harapan sambil risau karena uang sakunya masih dari ayah yang sedang sakit.
Ini bukan soal Gen Z yang terlalu manja
atau tidak mau kerja keras.
Dika sudah kirim 120 lamaran.
Itu bukan pemalas.
Itu adalah seseorang yang sudah berjuang keras dan terus dihadapkan pada tembok yang tidak pernah terbuka.
Dan ini yang paling fundamental perlu dipahami:
Menciptakan lapangan kerja bukan hanya soal mengumumkan angka.
Bukan soal membangun pabrik di atas kertas.
Bukan soal investor asing yang datang foto dengan presiden tapi realisasinya tidak pernah diverifikasi.
Menciptakan lapangan kerja yang nyata butuh: investasi yang benar-benar masuk, industri yang benar-benar bergerak, UMKM yang benar-benar hidup, dan sistem yang menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja secara efisien.
Bukan job fair di GOR dengan 2.000 lowongan untuk jutaan pencari kerja.
Dika adalah angka nyata di balik semua statistik pengangguran yang sering dikutip dengan dingin. Dia adalah 20 tahun. Dia sudah berusaha. Dan sistem tidak memberi dia satu pun pintu yang terbuka.
Sementara di atas ada janji 19 juta lapangan kerja.
Ada pidato tentang pertumbuhan 8%.
Ada narasi bahwa fundamental ekonomi kita kuat.
Tapi di GOR Senen hari ini ada Dika yang datang dengan harapan terakhir. Dengan uang saku dari ayah yang sakit. Untuk memasukkan lamaran ke 2.000 lowongan yang diperebutkan ribuan orang.
Itu bukan fundamental yang kuat. Itu adalah jurang antara narasi dan realitas yang tidak bisa terus diabaikan.
[DIBUTUHKAN SEGERA] LOWONGAN KERJA PARUH WAKTU
⬛︎ GAJI ⬛︎
Rp 4.200.000 / hari (Total Rp 8.400.000 untuk 2 hari)
⬛︎ LOKASI & TANGGAL ⬛︎
Lokasi: Bekasi, Indonesia
Tanggal: 8 & 9 Juni
⬛︎ KUOTA ⬛︎
1 Orang
⬛︎ KUALIFIKASI ⬛︎
・Pria
・Berusia 20 tahun ke atas
・Memiliki fisik yang kuat
⬛︎ DESKRIPSI PEKERJAAN ⬛︎
Menetap sendirian selama 2 hari di properti yang akan kami tentukan di Bekasi. Selama di lokasi, wajib mematuhi aturan berikut dengan ketat:
❶Kunci rapat seluruh pintu dan jendela properti.
❷Dilarang keras membawa perangkat elektronik (Buku, makanan, dan minuman diperbolehkan).
❸Dilarang menyalakan lampu antara pukul 23:00 - 04:00 (Dilarang tidur pada jam tersebut).
❹Bakar dupa pada waktu yang sudah ditentukan.
❺Jika bel rumah berbunyi atau ada panggilan dari luar, dilarang keras keluar.
⬛︎ BARANG YANG DISEDIAKAN ⬛︎
・Senter
・Tasbih
・ Dupa
・ Kamera Video
Batas pendaftaran: 7 Juni pukul 23:00
Bagi yang berminat, silakan email ke:
[email protected]
[CATATAN]
※ Kami hanya akan membalas pesan pelamar yang terpilih.
※ Pekerjaan ini mungkin melibatkan risiko bahaya. Harap dipertimbangkan.