@mycrls Memang. Buat apa kuliah bagus2 apalagi mahal2 di Indo, setelah lulus ga dapat jaminan sosial atas kerjaan dan karir kita. Gayanya doang kapitalistik tapi outputnya 0. Mending US dah, kapital2 gt tapi karir lulusannya terjamin. Emg gak sumbut ni negara kalo kata orjaw mah
@crowdedrep Guys, jangan cuma baca fiksi dan self-help book btw. Ayo mulai perluas bacaan dgn buku2 non fiksi juga. Baca fiksi dan self-help boleh lah untuk membangun diri dari dalam, tapi kalian juga perlu bangun landasan berpikir dan memperluas wawasan. Ayo mulai cari non-fiksimu ☺️
Ini juga dijelasin di bukunya Malcolm Gladwell judulnya Outliers.
Bahwa sejatinya, KEBERUNTUNGAN / Privilege itu memegang peran super besar untuk menentukan masa depan seseorang.
- Kapan dia lahir, di era apa?
- Di mana dia lahir, negara mana, kota mana?
- Dari orangtua siapa dia lahir, background apa?
- Seberapa mampu keluarganya?
- Seberapa suportif / open minded keluarganya untuk anaknya terus berkembang?
Faktor2 di atas aja udah ngefek buangettt dibanding misal ada satu anak cowok sandwich generation di jaman penjajahan belanda dari kabupaten yang kemana2 ga ada transportasi umum harus jalan kaki dan ortu melaratnya berantem mulu ga mikirin pendidikan anak2nya.
Sayangnya emang kita gabisa replicating historical success sama persis. Timing, kondisi pasar, teknologi, dan sekian banyak konteks yang gak akan pernah sama lagi.
Kalo kalian lulus kuliah tahun 2019, kalian adalah generai yg paling beruntung. Banyak ekspansi start-up gila-gilaan. Minimal intern di start-up walau gaji sebulan cuma 1/2 UMR tapi benefit luber. Mau job hopping juga gampang.
Kalo kalian lulus tahun 2021, kalian gak seberuntung lulusan 2019. Start-up masih berkembang. Tapi tech-winter mulai datang.
Kalo kalian lulus tahun 2022, cuma selisih 1 tahun dari 2021 lho padahal. Tapi kerasa banget degradasi opportunity. Banyak orang kena layoff. Tech winter bener-bener kejadian.
Lulus tahun 2023? Kena geprek bos. Saingan lu orang-orang yang masih kuliah tapi udah punya experience mentereng karena Kampus Merdeka. Meanwhile lu baru lulus tapi gak punya pengalaman apa-apa.
Lulus tahun 2025? Banyak perusahaan organisasinya makin lean. Teknologi makin murah. Daripada bikin divisinya, banyak yang memutuskan pakai vendor. Pekerja lepas / outsource tapi gaji ngepas lebih preferrable.
Aku lulus 2021 lanjut kerja sampai awal tahun 2026.
Selama hampir 5 years of experience, karirku cepet. Aku cabut di kerjaan terakhirku dengan tittle manager. Aku sempat kerja di top startup & fmcg indo. Gajiku bisa hit 50juta gross sebulan sebelum aku usia 26 tahun. Kalo kalian lulus di tahun dan punya horizon yang sama kayak aku, taktik "yang penting perusahaannya, bukan jabatan atau gajinya" itu mungkin masih make sense. Saran ikut bootcamp itu pasti masih make sense.
Tapi kalo kalian baru akan lulus atau baru lulus, i don't think the same advice would work for your generations.
At this point adek gw yang belum lulus kuliah tapi cita-citanya jadi juragan cabe (literally dia ngomong pengen jadi juragan cabe) jauh lebih visioner menurut gw daripada kerja di company mentereng. Karena competitiveness sama efficiency threats di workplaces seserius itu skrg.
Walau konteks gak lagi sama, walau misal gw kalo jadi fresh graduate tahun ini juga belum tentu bisa replicating my past success... blueprint sukses lintas generasi itu selalu sama: jadi tahan banting dan cepet.
Jangan capek upgrade diri walau requirements kerja makin gak tau diri. Meski perusahaan makin susah digapai, siapa tahu nasib lu lu semua bukan buat jadi pegawai. Never ever ever stop, walau banyak isu sistemik. You're gonna make it. Jangan capek, semangat.