✅ RESMI : 2 klub Super League berganti nama dan homebase setelah mendapat pengesahan dalam Kongres biasa PSSI kemarin.
• Adhyaksa FC ganti nama menjadi Isen Mulang FC, homebase pindah dari Banten ke Palangkaraya.
• Malut United ganti nama menjadi Java United FC, homebase pindah dari Maluku Utara ke Semarang.
Yang dikorupsi bukan proyek mewah atau barang mewah, melainkan pakan satwa. Dampaknya bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi tubuh yang kurus, hewan yang sakit, dan nyawa yang hilang. Mirisnya, korbannya bahkan tidak bisa meminta keadilan.
Bangun all, mantan Direktur Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar, korupsi Rp10,2 miliar selama 8 tahun!!!
Dana buat pakan dan perawatan satwa diembat. Sekitar Rp7,4 miliar masuk kantong pribadi.
Akibatnya? Satwa jadi menderita, kurus, kurang sehat, bahkan ada yang mati.
Duit dimakan sendiri, satwanya yang jadi korban. Kurang kejem gimane coba ini orang😅
Seusai peluit panjang Anniversary Game Persebaya ke-99 melawan PSIS, Minggu (19/7), layar besar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, memutar sebuah video. Bukan video selebrasi, tapi deretan memori untuk mengenang Cak Andie Peci.
Penghormatan untuk beliau yang dipersiapkan sejak awal. Sebelum laga dimulai, seisi stadion sempat mengenang nama beliau dalam doa, tepat di tengah hangatnya suasana sore di Kota Pahlawan. Di lapangan, para pemain dari kedua tim juga kompak mengenakan pita hitam di lengan mereka.
Sebuah bentuk hormat yang tulus, melepas kepergian seorang pejuang yang dedikasinya akan selalu hidup di hati kita semua.
Rest in Pride, Cak @AndiePeci
WA dari kakakku.
Malam. Jam 9 lewat.
"HP istrimu Android, kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Buka Settings. Cari Safety & emergency."
"Terus?"
"Isi kontak darurat dan informasi medis."
Aku ketawa kecil.
"Memangnya sepenting itu?"
Dia tidak menjawab.
Cuma mengirim satu screenshot.
Setelah kulihat, aku langsung ambil HP istriku.
Gue kerja kantoran 8 tahun. Gaji Rp 6,2 juta, THR lancar, BPJS aman.
Temen SMA gue jualan frozen food dari dapur rumahnya, gak punya slip gaji sama sekali.
Bulan lalu dia beli ruko.
Gue masih ngontrak.
Yang bikin gue kepikiran bukan itu. Tapi jawabannya pas gue tanya rahasianya.
Namanya Wulan. Dulu di sekolah biasa aja, gak pinter-pinter amat.
Gue yang dulu ranking, gue yang kuliah, gue yang kerja kantoran.
Gue pikir dia bakal jawab soal keberuntungan, atau modal dari suaminya.
Dia malah balik nanya, "Lo tiap bulan dapet berapa banyak pelanggan baru?"
Gue bingung. Gue kan karyawan.
"Nah itu," katanya.
"Lo cuma punya satu pembeli seumur hidup: kantor lo."
"Kalau satu pembeli itu berhenti beli, penghasilan lo nol. Gue punya 400-an pembeli. Kalau 10 kabur, gue masih hidup."
Gue gak bisa jawab apa-apa waktu itu.
Sepanjang jalan pulang gue itung-itung sendiri, dan makin gak enak perasaannya.
Gue selalu ngira kerja kantoran itu aman.
Ternyata definisi aman gue selama ini keliru.
Aman itu bukan penghasilan yang pasti. Aman itu penghasilan yang gak bisa diputus satu orang.
Dan hidup gue, cicilan gue, sekolah anak gue, semuanya bergantung sama tanda tangan satu orang di ruangan HRD.
Selama 8 tahun gue nyebut itu "stabil".
Tapi gue gak langsung resign. Gue gak senekat itu, dan gue gak nyaranin siapa-siapa resign gara-gara baca thread.
Gue mulai dari yang paling kecil.
Gue jualan sambel kemasan buatan ibu gue, ke temen kantor doang.
Modal pertama gue Rp 380 ribu, itu dari uang belanja yang gue sisihin diem-diem.
Gak ada rencana besar. Gue cuma pengen tau rasanya dapet duit dari orang yang gak wajib bayar gue.
Bulan pertama laku 14 botol. Untung Rp 112 ribu.
Kecil banget. Gaji gue sehari aja lebih gede.
Tapi ada rasa yang gak pernah gue dapet dari 8 tahun kerja kantoran:
itu duit yang dateng bukan karena gue nunggu tanggal 25.
Itu duit yang dateng karena ada orang yang mau bayar buat sesuatu yang gue bikin.
Masalah muncul di bulan ketiga.
Ada pembeli komplain sambelnya berjamur padahal baru 5 hari.
Gue panik. Gue kirain resepnya salah, sampe gue nyalahin ibu gue dalem hati.
Wulan yang akhirnya kasih tau.
"Bukan sambelnya, Mbak. Kemasannya. Lo pake botol biasa, udaranya masih masuk."
Masalahnya bukan di produk. Di bungkusnya.
cc : anitarisoraya