@2DimensiMenfess "Sudah tutup?!" Melirik kesana kemari untuk mencari jam dinding. Pasalnya baterai di ponselnya sudah habis.
"Apa tidak bisa... sekedar minum?"
orang menonton dengan topi dan kacamata terlihat mencurigakan? Terlebih nelewati kursi orang lain. Jika disuruh memilih ia akan lebih suka kursi paling atas yang cenderung tidak dibeli. Meskipun mungkin semua hanya prasangka. Karena lampu di dalam studio itu sudah redup.
@VaintSerpent mudah menemukannya.
"Apa sudah mulai?" Ucapnya ketika menghampirinya. Masih bertanya-tanya kenapa pria itu yang membayar tiketnya. Sedikit curiga pria itu akan mengerjainya di akhir.
@VaintSerpent Untungnya pria itu mengiyakan. Tanpa mengatakan apapun ia segera menjauh untuk membeli camilan yang mereka butuhkan.
Setelahnya ia kembali dengan kedua tangan hampir penuh. Dua kotak popcorn, serta sebotol soda. Evelio nampak mencolok dengan tampilan seperti itu. Membuat ia ~
@VaintSerpent Mengerjap beberapa kali. Mungkin ekspresi terkejut juga turut muncul. Ia yakin dirinya bertaruh dan hasilnya ia yang seharusnya mengeluarkan uang.
"Tidak." Inginnya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tapi rasa bersalah malah menghantui.
"O. Oh. Akan kubelikan ~
@Valeryzer "Tidak apa. Anggap saja olahraga." Jawabnya enteng. Sebagai orang 'rumahan' sekedar berjalan-jalan—meskipun cepat— merupakan kegiatan mengambil udara segar.
"Hah?! Aku tidak mungkin kalah denganmu." Sedikit tersulut dengan ucapannya. Bahkan tanpa menunggu responnya ia segera ~
@DecorumMuneca "Hantu butuh makan? Memangnya makan apa?" Mengerjap. Aneh, pikirnya. Tapi ketimbang langsung tidak mempercayai, ia lebih memilih memberikan pertanyaan konyol.
"Hmmm..." Memilih tidak menanggapi perihal tanggal yang diberikan. Pasalnya ia juga belum ada kegiatan di luar.
@VaintSerpent Ia hanya mengikuti dalam diam. Menyadari poster berisikan sosok Evalio, disanalah ia merasa kalah. Mungkin sudah saatnya menyerah dan berhenti denial.
"Biar kubayar tiketnya." Meskipun begitu ia tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya—ia memasang wajah kesal.
@VaintSerpent Keningnya mengerut. Memang bagus pria itu tidak marah. Tapi jujur saja suasananya jadi canggung.
Ia memilih pasrah dan menatap ke luar jendela.
@VaintSerpent Sedikit terkejut dengan pintu yang ditutup dengan keras. Marah kah? Tapi ia yakin kesalahannya tidak separah itu.
"Kalau kau marah-marah terus kau akan cepat beruban." Hanya berusaha agar suasana tidak canggung. Semoga lokasinya tidak jauh, batinnya.