@austerebloom Shizun, kumohon jangan katakan padaku jika murid ini hanya sedang bermimpi.
“Selamat datang kembali, Wanning. Aku... aku hampir tak tahu harus bagaimana lagi tanpamu.”
@austerebloom Mo Ran membungkuk sedikit, matanya berkaca-kaca, badannya gemetar halus untuk menyingkirkan helai halus dari wajah indah mu.
Tenggorokan Mo Ran terasa pahit. Murka tak meletup, rasa takut mengungkungnya lebih dulu.
@austerebloom mo ran tampak bersiap, sudah telanjang dada dan peralatan mandinya pun lengkap. namun, raut cerahnya seketika meredup mendengar jawaban shizun. ia kembali meletakkan ember kecil di atas kursi. “iya, shizun tidak berkenan...?” lihatlah dia, dasar licik, sengaja sekali.
@austerebloom mo ran menarik perlahan wajahnya, keterkejutan halus tergambar, menyiratkan jejak kejenakaan pada wajahnya yang hangat. “shizun.... kau barusan mengatakan apa?” tentu saja, mo ran terlampau senang dengan kejujuran dan sentuhan lembut di dadanya.
[ @austerebloom ]
i have prepared a sweet dish for you, shizun. this one sincerely hope that you will not grow weary of this offering, nor of my presence.
with love, mo weiyu.
mo ran tertawa, guratan jenaka menghias sudut matanya yang menyipit. sebuah déjà vu menggelitik benak, mengingatkan mo ran pada masa lalu yang penuh riuh rendah adu mulut. waktu terlalu jauh beranjak, namun tuan muda xue meng seolah terpatri dalam bingkai keabadian. *