Tak usah bersembunyi di balik kata "merdeka", jikalau rindu-pun masih menjajahimu secara berkala bahkan sesekali tak memberi jeda.
Dan tak usah bertirai di balik kata "merdeka", jikalau rindu-pun masih memaksamu untuk bercebur ke dalam fananya cinta dan nyatanya kesakitan.
@KAI121 Halo, Min. Saya punya masalah dalam top up KAI Access pada tanggal 27 Desember 2025 sebanyak 890.000 dan 60.000. Namun sampai saat ini saldo belum update di aplikasi Access by KAI
Separuh tahun telah berlalu;
Sebagian meneruskan deretan resolusi, sebagiannya lagi baru memulai mencatat hal-hal baik;
Tak mengapa kamu memulai dari mana;
Yang terpenting adalah manusiakan dirimu dan sekitar;
Juli telah menyapa, maka Juni telah berlalu
Setengah tahun telah pergi selayaknya masa lalu
Ada kata-kata yang tak sempat terucap karena ragu
Biarkan itu tersimpan, lalu ku ucapkan di lain waktu
Kejenuhan paling gemar menjumpai saat kita hampir tiba pada puncak tertinggi dari kesabaran, konsistensi, dan keteguhan.
Kejenuhan selalu menawarkan sesuatu yang baru dan menganggap semua yang kita lakukan sebagai pengulangan yang membosankan dan tiada arti.
Bahkan parahnya, mereka tidak hanya canggung saat bersua kembali. Tapi mereka telah menghapus semua memori yang berisi percakapan yang hangat bersamamu.
Seperti itulah hidup berkerja. Tidak semua yang menetap dan tidak sedikit pergi. Orang-orang yang bercengkerama denganmu di pagi hari, akan bergegas pergi pada siang hari. Orang-orang yang membangun percakapan dengan keseruannya di sore hari, akan pergi saat malam telah tiba.
Tentang Anies; Boni Hargens Keok Di Live TikTok
Boni Hargen orang NTT. Saya pun 100% orang NTT tulen. Kami beda pulau. Dia dari pulau Flores, saya pulau Pantar-Alor.
Sejak dulu, saya kagum pada karaeng Boni, karena ada orang NTT yang otaknya seencer dia. Pikirannya dan logika diskusinya apik. Dia seorang akademisi—dulunya. Entah sekarang?
Nyanda sangka, bang Boni punya akun TikTok. Malam ini bang Boni live di TokTok. Tentu terkaget-kagetlah saya, orang sesibuk Boni, masih demen main TikTok. Apa karena Ganjar seleb TikTok, hingga bang Boni terinspirasi. Entahlah…
Tadinya saya lewati saja live itu. Cuma saya balik lagi. Penasaran. Ternyata mereka lagi bahas Pilpres 2024. Seru pula tema diskusinya.
Sekitar 5 sampai 10 menit; saya simak live TikTok itu. Dan tampaknya bang Boni sudah memasang barrier to entry dalam dirinya, bahwa hanya Ganjar dan Prabowo Capres yang bisa membangun Indonesia. Anies? Nehi !
Berbagai argumen dikokohkan bang Boni untuk menegasi Anies. Mulai dari soal radikalisme, intoleran, khilafah, komitmen Anies terkait kontinuitas pembangunan yang digagas Jokowi, sumur resapan DKI, DP rumah Nol Rp, intoleransi dan soal Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Saya lupa nama lawan debat bang Boni, tapi fotonya sempat saya capture. Tapi sparring partner Boni kali ini lumayan encer otaknya. Datanya pun lengkap. Malah dia tantang Boni adu-adu data. Bang Boni hanya mengernyitkan kening.
Satu persatu dia koyak argumen karaeng Boni tentang Anies. Pertama, soal sumur resapan yang dibangun era Anies. Menurutnya, sumur resapan itu bermanfaat bagi pengurangan debit air di permukaan. Ini sudah diuji coba para ahli di ITB.
“Silahkan bang Boni cek, sejak Anies gubernur DKI, banjir jakarta tak separah era Jokowi dan Ahok. Era Jokowi dan Ahok, Banjir di bundaran HI naik hingga menyentuh selangkangan, sungguh.”
Ada benar juga si abang ini. Dari data https://t.co/P34qpRnmur, jumlah RW tergenang di DKI menurun dari 390 RW pada tahun 2018 menjadi 290 RW pada tahun 2019 dan 169 RW pada tahun 2020 dan terus menurun di tahun 2022.
Waktu surut >95% genangan juga menurun dari 72 jam pada tahun 2018 menjadi 48 jam pada tahun 2019 dan 24 jam pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja penanganan banjir di Jakarta. Jadi ada data keberhasilan penanganan banjir di Jakarta era Anies. Terkecuali data-data ini tak ada sama sekali.
Kedua, soal intoleran? Emang ada konflik dan kekerasan horizontal atas nama agama dan etnis selama Anies gubernur DKI? Kasi datanya, mana, hayo lo? Ternyata tidak ada toh? Di era Anies, ia banyak memberikan izin bangun rumah ibadah, agama apapun.
Menyalurkan bantuan senilai Rp 11 miliar bagi tempat ibadah seluruh agama di wilayah Jakarta dan sekitarnya selama 2022, termasuk 65 gereja. Program Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI) Rp.2 juta/bulan ke semua rumah ibadah di DKI.
Ketiga, soal khilafah, ah, itu diskusi lumrah orang-orang kampus. Sebagaimana orang diskusi, ada yang bela komunisme, liberalism hingga ateisme. Jadi tak ada hal pelik. Orang bicara khilafah, itu imajinasi orang yang melekat pada sistem nilai yang ia yakini. Masa orang berimajinasi kaga boleh?
Di Indonesia ini, mega peristiwa yang sungguh-sungguh serius dan berdarah dalam merongrong ideologi bangsa (pasca merdeka) adalah PKI. Umat Islam itu sejak dulu sudah legowo dalam common sense tentang keindonesiaan.
Keempat, soal IKN? Itukan sudah diundangkan. Jadi kalau Anies jadi presiden, konsekuensinya ia lanjutkan pembangunan IKN. Terkecuali ada amandemen terhadap UU dimaksud. Tapi selagi itu mendemokratisasikan pembangunan di Indonesia, kenapa tidak? Asalkan dompet negara mampu saja.
Kelima, soal KCJB? Nah itu yang perlu dicermati secara seksama. Karena skema pembiyaannya bermasalah. Apalagi sekarang APBN tersandera oleh perubahan skema pembiyaan KCJB.
Tak seperti janji Jokowi sebelumnya, kalau KCJB ini murni public private partnership (PPP). Tapi kenapa ketika pembekakan biaya (cost overrun), malah APBN dijadikan jaminan. Inilah yang perlu diaudit.
Keenam, soal DP rumah nol Rp? Kan ada realisasinya. Hingga 2021, realisasi DP rumah 0 Rp adalah sebesar 2.332 unit. Memang belum sesuai target. Tapi karena program ini berkenaan dengan pembiayaan di sektor finansial-- yang bergejolak selama pandemi Covid-19, sehingga sedikit terkendala. Selama pandemikan ekosistem finansial kita cukup parah terdampak.
Masih ingatkan, selama pandemi Corona, fokus kebijakan pemerintah hanya dua, pemulihan kesehatan dan ekonomi. Kalau kesehatan melalui penurunan kasus Corona dan ekonomi berkaitan dengan social safety net. Itulah kenapa, DP rumah Nol rupiah ini terkendala.
Semua argumen penolak bang Boni terhadap Anies terjawab secara apik. Disitulah bang Boni sejenak tertegun sembari mengernyitkan kening. Kali ini ia bertemu sparring partner yang bertenaga luar dalam. Tapi Kareng Boni tetap tak deman dengan Anies.
Saya teringat kata Ali Bin Abi Thalib r.a. “Orang itu kalau udah suka, yang kamu lakukan salah pun ia demen. Sebaliknya kalau udah benci, meski kamu bener sekalipun, dia ga demen.” Wallahu’alam….
*Jogja, 29 April 2023
Penulis Munir Timur
Yang harus disadari adalah setiap orang mempunyai standar moral yang berbeda-beda dalam hal-hal khusus (tidak sedikit juga untuk hal-hal umum). Sehingga memaksakan pandangan kepada orang lain akan lebih sulit, kecuali ada kesamaan pada pandangan anda dan standar moral mereka.
Mulailah untuk tidak mencari tahu hal-hal yang sebenarnya tidak mempunyai dampak signifikan pada kemajuan diri kita. Terlebih lagi, hal itu tidak masuk akal.
Terus berjalan pada jalan yang kita kehendaki rupanya lebih sulit dari pd yang dibayangkan. Tetapi meyakini jalan yang sesuai dgn kita hendaki meski untuk sesaat tak sempat melewatinya itu lebih baik dari pd melewati jalan yang tak dikehendaki tetapi berpura-pura meyakininya.
Liat foto ke-2!
Semua perhatian ke sosok Messi dan Ronaldo yang "duduk bareng semeja".
Yg mungkin terlewat adalah posisi caturnya sama persis dengan pertandingan antar Grandmaster catur, Magnus Carlsen dan Hikaru Nakamura, dalam Norway Chess 2017
📷 @LouisVuitton
Sebenarnya banyak dari kita yang tidak pernah mengharapkan ketidakpastian.
Semua hal yang akan kita jumpai sejatinya diharapkan memuat suatu kepastian. Bahkan jika pada akhirnya harus bertolak belakang dengan apa yang diharapkan, maka itulah wujud kepastian yang harus diterima.
Menyadari kalau sudah lebih dari dua bulan tidak membaca buku adalah jenis ke-kampret-an lain di (akhir) tahun ini. Ah, sial!, kesibukan ini menyita waktu piknikku.