“Winning the Euro 2016 is like winning a World Cup”
Eder winning the euro for Ronaldo while he was doing eye service on the bench.
He was not the best player of that tournament. He was not the highest goal scorer as well. Fraud
Cristiano Ronaldo ini adalah korban dari standar yang dia ciptakan sendiri.
Dia mengidentifikasikan dirinya sbg hero. Sosok yang mendefinisikan dirinya lewat penaklukan, kerja keras ekstrem, dan mentalitas nggak mau kalah.
Selama bertahun2, Ronaldo nggak pernah malu2 menyatakan secara verbal bahwa dirinya adalah yg terbaik, No. 1, dan sosok yg tak lelah mengejar kesempurnaan. Artinya Ronaldo telah menandatangani kontrak sosial dgn publik bahwa dia akan menaklukkan semuanya.
Konsekuensinya, publik sepakat dan mengamini standar tinggi itu. Maka, ketika Ronaldo gagal meraih Piala Dunia dan mencoba melunakkan kegagalannya itu dgn berkata Euro sudah cukup dan Euro dimensinya sama dengan Piala Dunia, maka publik merasa bahwa dia melakukan inkonsistensi.
Publik menuntut Ronaldo dengan standar tertinggi karena dia sendiri yang menolak diperlakukan sebagai manusia biasa saat berada di masa jayanya.
Lalu ketika dia mulai bersikap legawa yg dipaksakan saat kalah, publik melihatnya bukan sebagai kebijaksanaan. Tetapi sbg kerapuhan ego seorang pemenang yg sama sekali nggak paham cara utk memproses kekalahan.
Publik akhirnya menghakimi Ronaldo dengan narasi yang dia ciptakan sendiri.
Sepak bola dunia punya hierarki emosional dan sejarah yang sakral. Menyamakan Euro dengan Piala Dunia adalah bentuk penyerangan konyol terhadap mitos sepak bola itu sendiri.
Saat Ronaldo menyebut Euro setara dengan Piala Dunia, maka dia mengecilkan keringat, darah, dan sejarah komunal seluruh benua di luar Eropa demi mencocokkan realitas dunia dengan pencapaian dan ego pribadinya.
Ronaldo akhirnya tak lebih dari seekor rubah dalam fabel Aesop. Rubah itu gagal mencapai dan mengambil anggur di pucuk paling tinggi, lalu pergi sambil berkata, “Ah anggur itu pasti masam."
Fans sepak bola melihat tindakan ini sebagai bentuk kurangnya rasa hormat. Menolak mengakui Piala Dunia sebagai supremasi tertinggi adl tindakan yg tak sportif. Seorang pecundang yang tak mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Selamat tinggal Ronaldo.
Maaf, tdk ada farewell manis untukmu dan egomu.
Laju Norwegia ke babak QF World Cup 2026 ini emang cukup membahagiakan buat gue pribadi.
Selain liat Vikings Row, atau mengagumi Haaland sebagai pesepakbola generasi baru yang menurut gue layak jadi role model, gue memang punya soft spot ke negara ini.
Norwegia jadi destinasi luar negeri pertama gue. Masih culun, anak dusun, ga pernah jadi mahasiswa, English masi blepotan, dikirim kantor ke sana buat short course.
Dan di sana, kek ngerasain secuil keramahan dan humble nya orang Norwegia, yang kek dibilang banyak orang.
Bergen, adalah kota yang gue kunjungi.
Kota yang sebagian pekerjanya commuting pake kapal 😅
Gambar pertama di bawah adalah salah satu spot turis penting di Bergen. Fløibanen, kereta jalur pendek buat naik ke bukit dengan kemiringan ekstrim. Itu adalah "stasiun" nya.
Kelar gue naik dan menikmati senja kota Bergen dari puncak bukit, gue lagi foto foto di depan stasiun. Gantian gitu ama temen. Masih pake kamera analog.
2 orang mbak bule ngeliatin. Tiba tiba salah satunya nawarin buat motoin biar kami keliatan smua dalam 1 frame.
Pas udah kelar, si mbak itu minta tolong buat gantian motoin. Mereka senyum senyum penuh arti. Tapi gue ga ge er. Gue tau itu bukan berarti mereka naksir 😝
Kelar sesi foto, mbak bule yang motoin tadi nanya, kami berasal dari mana. Akhirnya kami jawab dari Indonesia, dan ini yang bikin mereka excited. Ternyata mbak satu lagi tau dikit tentang Indonesia.
Dan sekonyong konyong mba yang motoin tadi nawarin kami buat singgah di toko nya. Minum teh, ngemil ngobrol, pengen tau lebih tentang Indonesia.
Kami bingung, lhoh orang setempat kok tadi foto foto di lokasi turisme.
Kata mereka, seumur" tinggal deket banget ama Fløibanen, tapi ga punya foto di depan stasiun. Katanya, malu 😝
Singgahlah gue dan 1 temen, ke toko nya mbak itu. Melewati senja hingga sedikit malam. Hangat karena cuaca di Bergen juga dingin, dan hangat dengan obrolan singkat kami.
Toko itu dulu pas kami di sana jualan souvenir. Sekarang dah berubah
Foto kami udah rusak. Klise nya masih ada, blum sempet cetak lagi 😅
📸 google (Roberto Moretti)
Kalian masih anak-anak atau belum lahir dan mungkin tidak ingat, tetapi orang tua Thorstvedt, Haaland, dan Sorloth bermain di Piala Dunia 1994 di AS. 🇺🇸
32 tahun kemudian, anak-anak mereka berada di perempat final..
‼️SELESAI‼️
World Climbing Series, Krakow 2026
Kontingen Indonesia
✅7 atlet
✅1 pelatih
✅0 official
✅0 fisioterapis
✅0 masseur
✅0 detik waktu latihan dan adaptasi
🥇Emas (Desak Made Rita)
🥈Perak (Mixed Relay: Desak Made Rita-Antasyafi Robby Al Hilmi)
🥉🥉Perunggu (Raharjati Nursamsa, Women's Relay: Desak Made Rita-Rajiah Sallsabillah)
Seandainya pemerintah lebih mendukung..
❌Tanpa fisioterapis
❌Tanpa masseur
❌Tanpa latihan dan aklimatisasi krn kedatangan mepet
❌Hanya didampingi satu pelatih
❌Keberangkatan sampai akhir Juni tdk jelas.
❌TIDAK DISUPPORT PEMERINTAH
Lalu dgn banyak keterbatasan bisa mendapatkan emas di World Climbing Series itu menunjukkan kualitas seorang Desak Made Rita.
Seorang yg terkenal di lingkungan Pelatnas sangat berkomitmen, fokus, pekerja keras, punya mental tahan banting.
Rita adl pahlawan bangsa.
Tp ironisnya ia bertarung dgn birokrasi yang ruwet, bertarung dgn ketidakjelasan prioritas anggaran, bertarung dgn politikus2 yg memanfaatkan namanya hanya ketika dia menang.
Souvenons-nous quand Diogo Jota avait lui-même filmé sa signature à Liverpool.
Pas d’équipe média.
Pas de mise en scène.
Juste son rêve de devenir un Red. ❤️🕊️