↫jika sang kekasih hanya bunga tidur nan indah. Ia lebih memilih menetap di mimpi indahnya. Lagi, jika kekasihnya tidak ada di dunia nyata, ia juga tidak ada di sini. ‘Naël, i love you so much.’ ucapnya berbisik sebelum benar-benar terlelap.
Fin|
↫Ia mengecup bibir juga pipi sang kekasih yang tengah terlelap. Ia mendekap tubuh kekasihnya, sementara parasnya dibenamkan di dada bidangnya; menghindu wewangi raga terkasih. Ia tidak akan pernah siap untuk kehilangannya. Biar saja mentari tidak terbit, ↬
↫
Padahal hangatnya sang kekasih membuat tentram dirinya. Damai di dalam dekapnya. Terpenuhi disetiap celah dirinya. Tiap sentuhannya membuat ia terlihat. Oh, Tuhan. Bahkan ia tiba-tiba mengingat Tuhan karena hadirnya pria ini. ↬
↫
Memohon pada Sang Pencipta agar tak memisahkan mereka. Selalu dipertemukan di reinkarnasi selanjutnya. Persetan kata orang tentang mereka. Lagipula siapa orang-orang itu? Bahkan Ayahnya saja tidak berlebihan. ↬
↫Bagian ini Lebih candu. Tak pelak ia meminta lebih pada kekasihnya.
⠀ Mereka berdua membangun dunia mereka sendiri dengan tenang. Hanya untuk mereka berdua. Memadu kasih tak berkesudahan.
↬
↫ hampir tidak absen menjejaki kecup di seluruh paras sang kekasih. Bagai candu yang menyenangkan hati. Lalu, ibu jarinya kembali membelai sudut bibir kekasihnya. Bibir yang juga selalu ia kecupi atau bibir manis Naël menjejaki tiap inci tubuh si puan. ↬
↫𝙄 𝙛𝙤𝙪𝙣𝙙 𝙮𝙤𝙪. 𝙄 𝙬𝙖𝙣𝙩 𝙮𝙤𝙪. Ia bisa menjaga kekasihnya, Gwenaël Akiyama. Ia tak akan mengulang kesalahan yang sama 'tuk ke-dua kalinya.
⠀ Jemarinya menitik turun, ibu jarinya membelai lembut sisi pipi kekasihnya. Pipi yang setiap saat ia kecupi,↬
↫Memilih dirinya sebagai kekasihnya. Gejolak pada dirinya, pada ketakutan—takut Naël menghilang dari dekapnya atau ia pergi tanpa memberitahu Perasaannya pada Naël. Keduanya sama-sama memberi sakit tapi perasaannya jauh lebih besar keinginan untuk memiliki Naël dalam hidupnya.↬
↫Mata legam senada helai rambut yang mengajak dirinya mendayung di laut asmara, menghanyutkannya dalam gelombang ombak cinta. Dengan sadar, ia mengikuti arus di mana mereka akan bermuara di tempat yang sama nantinya. Di tempat mereka melebur memadu kasih tak terbatas. ↬
↫Jika Naël meminta dicarikan donor untuk matanya, dengan senang hati akan dilakukan. Tapi sampai sekarang, ia tidak mendengar permintaan itu atau mengungkitnya dari Naël. Maka, ia tidak membawa topik itu untuk diperbincangkan hingga sang kekasih membicarakannya terlebih dulu. ↬
↫Ia tersenyum simpul, mengingat kekasihnya menceritakan tentang kekurangan matanya. Bagi si puan, mata indahnya mempesona tanpa kurang, sempurna. Ia ingat binar matanya menatap dirinya waktu pertama kali bertemu kembali setelah sekian lama. Cemerlang begitu indah. ↬
↫Deru nafas juga gerak dada teratur dan tenang dalam lelapnya. Mata puan minilik lekat rupa sang kekasih; menenun memori. Bulu mata lentik, manik yang bergerak dibalik kelopak—entah tengah bermimpi apa kekasihnya, jadi ingin tahu—, sangat indah nan cantik. ↬
↫Ia tidak mau menyeret sang kekasih dalam masalahnya. Tetapi tak sampai hati mengatakannya. Tidak bisa. Membayangkannya saja tak mampu, ia akan menjadi orang paling malang dan mengenaskan jika itu terjadi. Apa pun yang terjadi, ia akan melindungi kekasihnya. Bukankah ia mampu?↬