Kamu mengangkat tangan untuk berdoa, lalu tiba-tiba teringat semua dosa yang pernah dilakukan? Shalat sering bolong, maksiat masih diulang, lidah sering jahat. Lalu muncul bisikan "Buat apa berdoa? Allah pasti tidak akan mengabulkannya."
ada pesan jumat yang menarik dari Prof. Zainal Arifin Mochtar 👇
"Islam itu salah satu tugas utama yang diemban oleh Rasulullah adalah liutammima makarimal akhlak, memperbaiki akhlak kita.
sudahkah kita mengkritisi diri sendiri? Mengkritisi negara harus dilakukan. Mengkritisi pemerintahan dan aparat juga wajib dilakukan.
tapi pada saat yang sama, maukah kita bercermin? Sudahkah kita menjadi muslim yang sebaik-baik muslim?
orang yang tidak menyuap ketika ada kesempatan. Orang yang tidak korup ketika ada kesempatan. Orang yang tetap menghargai orang lain. Orang yang tetap mencintai orang lain sebagaimana dianggap sebagai bagian dari diri kita, sesama muslim."
***
saya menangkap, perbaikan bangsa harus dilakukan, dengan menuntut pembenahan institusi, sekaligus juga pembenahan karakter. ✨
Kemiskinan lahir dari kebodohan.
Makanya penguasa terus memaksakan MBG bukan pendidikan agar tetap miskin dan bodoh untuk dimanfaatkan 5 tahun sekali.
Tetap semangat bayar pajak wahai orang miskin lagi bodoh.
REPUBLIK OLIGARKI | MBG, Program Nasional, dan Konsentrasi Kekayaan
https://t.co/rBP72n0HcI
#Watchdoc#MBG#TaxTheSuperRich
“Situasi yang terjadi saat ini bukan lagi ketimpangan, melainkan konsentrasi kekayaan yang dimungkinkan, disengaja, didorong, dan dilindungi oleh pembuat undang-undang.”
Annette Mau dari Koalisi MBG Watch mengajak kita melihat persoalan ketimpangan dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini lebih tepat dipahami sebagai konsentrasi kekayaan yang dimungkinkan oleh kebijakan, sehingga menguntungkan oligarki dan para penguasa dalam menguasai sumber daya negara.
Guys udah liat ini belum ?
Ustadzah Mumpuni dicekal gara2 kritik ttg MBG... Beliau itu cm miris membandingkan hasil dapur SPPG dg gaji guru honorer yg tanggung jawabnya besar cm 400k sebulan, sampe si guru tidak mampu beli baju seragam...
Malam ini.
Mas Mbak yang berkenan hadir, silakan.
Acaranya terbuka untuk umum dan gratis.
Pameran tunggal lukisan karya Wimaldy Akbar.
Acara akan dipandu oleh Mas @sigitharyoseno , dibuka oleh Mas Jeffry Budi Sutrisno, https://t.co/s6mkeAAdFY, ada juga penampilan musik juga dari Mas Yuliono Singsot dan penampil spesial lainnya.
Untuk lokasi, bisa silakan search pada Google Maps : 📍Miftah Rizaq Art Studio
Sumonggo katuran pinarak 🙏🏼
Sujiwo Tejo: “Saya mengagumi Prabowo tp klo beliau bs berpidato di depan koruptor yg ditemb*k mat*, bukan di depan tumpukan barang bukti. Saya sedih lihat Presiden ku pidato di depan barang bukti yg gak ada terdakwanya” SELENGKAPNYA TONTON YOUTUBE ILC 👉 https://t.co/4Q96hEaUvT
Tadi siang habis dapat ancaman untuk menghapus postingan twit tentang Menteri PU (terlampir), dengan membuka data pribadi yang berisi alamat, NIK, TTL, data keluarga, dan lokasi terakhir gawai saya.
Saya sedang draft somasi dan akan kirim balik sebagai jawaban 🙏
Tabir gelap di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dikuliti habis-habisan di ruang sidang Komisi IX DPR RI oleh MBG Watch. Fakta yang diungkap bukan sekadar mengejutkan, melainkan menjadi tamparan keras bagi narasi "ekonomi kerakyatan" yang selama ini didengungkan pemerintah. Proyek jumbo bernilai ratusan triliun ini nyatanya telah bergeser menjadi ajang konsentrasi kemakmuran bagi segelintir elit super kaya.
Berdasarkan data di lapangan, lima jaringan pemilik dapur SPPG terbesar saat ini dikuasai oleh yayasan-yayasan raksasa yang terafiliasi langsung dengan institusi kepolisian, militer, dan organisasi besar (seperti Yayasan Kemala Bhayangkari, Perserikatan Muhammadiyah, Manunggal Kartika Jaya TNI AD, ISDP, dan Adi Upaya TNI AU). Ribuan titik dapur potensial dikunci dan dimonopoli oleh entitas-entitas besar ini. Siapa pemenang sejati dari proyek MBG? Pemilik dapur dari kalangan elit super kaya. Lalu siapa korbannya? Para relawan SPPG dan pelaku UMKM lokal kecil yang ruang geraknya tereliminasi sejak awal dari ekosistem pengadaan.
Kondisi ini diperparah oleh absennya sistem pengawasan yang akuntabel. Berkaca pada negara lain yang sukses menjalankan program serupa seperti Brazil atau Kolombia, mereka memiliki lembaga pengawas independen yang diisi secara organik oleh orang tua murid, guru, masyarakat sipil, hingga pemerintah lokal. Di Indonesia? Jangankan pelibatan publik, regulasi kita sama sekali tidak menyediakan ruang bagi pengawas independen. Alih-alih diawasi bersama, yang terjadi justru ego sektoral dan gesekan antar lembaga penegak hukum yang sibuk berebut kewenangan mengusut korupsi di dalam program ini.
Ketika uang pajak rakyat diperas untuk mendanai pemenuhan gizi anak sekolah, namun distribusinya berakhir menjadi kavling proyek yang dikuasai lingkaran elit berkecukupan, kebijakan ini telah gagal secara moral dan struktural. Negara tidak boleh membiarkan inefisiensi dan monopoli terselubung ini terus berjalan dengan menumbalkan rasa keadilan publik. Bentuk Panja, audit total, dan hentikan ugal-ugalan tata kelola ini sekarang juga.
Video : tribun
Dulu waktu kecil, kita sakit sedikit saja, ibu begadang semalaman. Kita lapar, ayah mencari nafkah sampai tubuhnya lelah. Kita jatuh, mereka panik. Kita menangis, mereka ikut sedih. Tapi anehnya, saat mereka mulai tua, lemah, dan sering sakit, justru banyak anak menjaga jarak.
Takut berbicara dan bersikap karena merasa orang yang berkuasa bisa melakukan apa saja. Dalam sejarah, ketakutan seperti ini bukan hal baru. Banyak orang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan yang keras, bukan hanya takut dipukul atau dihukum tapi takut pada tekanan dan ancaman.
Makin tdk bermutu. Setelah Yandri, kini @NataliusPigai2 yg bicara.
Gini, Bung, apa pernah bicara dg para "konsultan" (kontraktor) yg sdh bikin Koperasi Merah Putih di sjmlh daerah? Apa ada disain dari Agrinas? Atau cuma meraba?
Rekanan sy, sdh bikin 300 lbh. Tmsk di daerah terjauh dan terluar.
Dlm bbrp hari ini, sy komunikasi dg jejaring adat, dukun (sikerei), aktivis, jurnalis, hingga ponakan kandung dan suaminya yg tentara, plus Dandim dan Jenderal di Jakarta, dan tentu rekanan sy yg sangat baik hati ini -- tak ingin merampok, untung dikit -' utk bangun KMP di Kepulauan Mentawai.
Sbg anak adat Sikerei, putra dari seorg Kepala Syahbandar yg melawan PT Minas punya Cendana (Mbak Titik), era 70am, sy meraaa punya hutang budi dan nyali pd Mentawai.
Dan perlu bung tahu, ini bukan soal uang 1 Jt, bukan soal KMP adalah tools bagi kapitalisme masuk -'- spt di Papua yg gagal bung bela --, tetapi konsepnyq adalah tameng, bunker atau mungkin kastil bagi local economy.
Mau nggak bung Pigai berdua Menteri Desa Yandri sy tantang debat? Sy sendiri, anda berdua
Biar Buya Shamsi jd moderator, dan pendeta2 dari Mentawai dan Nias jd audience?
Sy tunggu jawaban bung!
Kerusakan negara ini sudah sangat parah.
Saking rusaknya tak akan bisa diperbaiki selama 5 periode kepemimpinan.
10 tahun dirusak Jokowi
Hampir 2 tahun sudah, dilanjutkan presiden Prabowo.