Mengapa Tuhan menciptakan/mengijinkan iblis melakukan kejahatan di dunia?
Jawabannya satu, Entropi.
Entropi adalah hukum alam yang menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini secara alami akan bergerak dari kondisi yang teratur menuju kondisi yang acak, kacau, dan rusak (disorder).
Rumah yang dibiarkan akan berdebu. Besi yang dibiarkan akan berkarat.
Jika Tuhan menciptakan alam semesta fisik, maka Tuhan juga menciptakan "hukum" yang mendasarinya, termasuk entropi. Dalam konteks spiritual, "Iblis" atau "Kejahatan" adalah bentuk entropi bagi moral dan kesadaran manusia.
Kejahatan adalah representasi dari kekacauan, kerusakan, dan disintegrasi moral. Tanpa adanya potensi kerusakan ini, hukum alam semesta tidak akan berjalan.
Bayangkan sebuah kehampaan yang mutlak (the void). Tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada materi. Di dalam keheningan total itu, hanya ada satu hal yaitu Kesadaran Murni.
Ketika Kesadaran ini mulai menyadari dirinya sendiri, muncul letupan kesadaran pertama "Aku Ada" (I Am).
Namun, di dalam kehampaan, jika Anda adalah satu-satunya hal yang ada, Anda tidak bisa "mengalami" diri Anda sendiri.
Untuk mengalami diri-Nya, Kesadaran itu memunculkan pikiran kedua. Tanpa adanya pembanding, Cahaya tidak tahu bahwa ia terang, dan Kebaikan tidak tahu bahwa ia mulia. Agar bisa mengenali dan mengalami Diri-Nya, Kesadaran Agung ini harus memunculkan pikiran yang kedua.
Ia kemudian menciptakan sebuah manifesto dengan mentajalikan diri-Nya, ibarat seseorang yang tiba-tiba memandang tangannya sendiri. Ketika melihat tangan itu, muncul persepsi "Ini adalah tanganku, dan ini adalah Aku yang sedang melihatnya."
Secara visual, tangan dan mata seolah-olah adalah dua hal yang terpisah (separate things). Tangan berada "di luar" sana, dan subjek yang melihat berada "di dalam" sini. Namun kenyatannya, keduanya adalah bagian dari satu tubuh yang sama (the same body). Tangan itu tidak punya kehidupan sendiri yang terlepas dari tubuh.
Melalui ilusi keterpisahan inilah, permainan kosmik dimulai. Kesadaran Agung memecah diri-Nya menjadi miliaran bahkan triliunan ciptaan alam semesta, manusia, hingga entitas yang kita sebut sebagai Iblis atau Kejahatan.
Di sinilah hukum alam fisik dan spiritual bekerja secara beriringan melalui prinsip Entropi.
Air baru menjadi air karena ia mengalir, dan matahari baru menjadi matahari karena ia bersinar. Sesuatu baru dianggap 'hidup' jika ia mengekspresikan sifat aslinya. Maka, sifat asli dari Kesadaran adalah Kehendak Bebas dan Pilihan.
Tanpa adanya ruang untuk memilih, manusia tidak memiliki kesadaran, melainkan hanya robot yang sudah diprogram.
Dalam panggung eksistensi ini, Iblis atau Kejahatan adalah wujud dari entropi moral. Ia diciptakan bukan sebagai kegagalan desain Sang Pencipta, melainkan sebagai penyeimbang kosmik yang bertugas menciptakan gaya gesek, kekacauan, dan kegelapan.
Mengapa kegelapan itu diizinkan ada? Jawabannya adalah demi Kesadaran Diri (Self-Awareness).
Jika kanvas alam semesta ini seluruhnya berwarna putih bersih, Anda tidak akan pernah bisa melihat lukisan yang digambar dengan kuas berwarna putih. Kebaikan (cahaya) hanya bisa disadari, dipilih, dan diapresiasi secara utuh jika ada kejahatan (kegelapan) sebagai latar belakang kontrasnya.
Manusia tidak akan pernah bisa berevolusi secara spiritual, tidak akan pernah tahu indahnya memilih jalan pulang menuju Keteraturan (Tuhan), jika mereka tidak pernah diuji oleh potensi untuk rusak (entropi) yang dibawa oleh Iblis.
Pada level tertinggi, Iblis, kebaikan, kejahatan, dan manusia yang sedang berjuang di antaranya, sebenarnya tidak pernah benar-benar terpisah. Kita semua adalah bagian dari Satu yang sama. Tuhan mengizinkan Iblis dan entropi ada agar Kesadaran bisa bercermin, menguji diri-Nya sendiri melalui drama dualitas, hingga akhirnya manusia sebagai Percikan Kesadaran itu bisa bangun, sadar, dan mengenali jati diri mereka yang sesungguhnya.
Selesai.
So funny looking at this full clip. 10 men, defending for our lives with seconds to go and Torres decides to dribble in his own box and then just run away from defending 😭
If Barca had scored we’d be crucifying him
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
A man spends 50 years teaching at MIT.
He knows his time is running out.
So he records one last lecture — everything he knows, distilled into a single hour.
He died 5 months later.
This is that lecture.
The most important hour you'll watch this week. 👇
Bookmark it for later
Two Bulgarian friends killed the entire streaming industry.
It's called Stremio + Torrentio. You get 4K content from Netflix, Disney+, Hulu, and HBO Max combined for free.
Here's how it works.
Stremio is the player. Clean interface. Works on Windows, macOS, Linux, Android, iOS, and TV. You install it once and it looks like any other streaming app.
Torrentio is the addon. You add it to Stremio in one click. It scrapes content from every major torrent provider on the internet simultaneously and delivers the best available stream directly to your player. 720p, 1080p, 4K. You pick the quality. It finds the link.
→ No account required
→ No subscription
→ Works on every device
→ 4K and HDR supported
→ Subtitles built in
Netflix cannot shut this down. There is no central server to seize. No company to pressure. No domain to kill. It runs on your device and pulls from the open internet.
The entire streaming industry is built on one assumption. That you will keep paying $70/month rather than spend 5 minutes on GitHub.
That assumption just died in Sofia, Bulgaria.
MIT License. 100% Opensource.
https://t.co/yEljDh5DQy
Get the addon here: https://t.co/XhpPDERP2i
The Arabic word for "jinn" and the Arabic word for "baby" come from the same root.
So does "paradise." So does "madness." So does "shield." So does "heart."
Three letters. ج - ن - ن
One meaning: hidden.
Let me show you how deep this goes.
TIME IS NOT TREATED THE SAME EVERYWHERE:
1. Germany: Being late is disrespectful. Meetings start to the second. Punctuality here is not a habit. It is a moral standard.
2. Brazil: An invitation for seven means nine. Relationships matter more than schedules. Rigidity kills the atmosphere.
3. Japan: Trains run to the minute. A sixty second delay comes with a formal public apology. Time is a system. The system is everything.
4. India: Events begin when people arrive. The gathering defines the time. Presence matters more than precision.
5. Polynesian cultures: Time was tied to stars, seasons, and the ocean. Circular, not linear. The clock came later and from somewhere else.
6. United States: Time is money. Literally. Every hour is billable. Every minute is scheduled. Rest has to earn its place.
7. Spain: Lunch at three. Dinner at ten. The day bends around the person. Not the other way around.
8. Ethiopia: A different calendar entirely. Thirteen months. New Year in September. A different year than the rest of the world. Time here is a cultural choice, not a global agreement.
9. France: August belongs to rest. Emails go unanswered. Shops close. Nobody apologizes for this. Leisure is a right, not a reward.
10. Kenya: The clock starts at sunrise. Six in the morning is hour zero. Noon is hour six. Time is built around light, not an arbitrary number on a wall.
11. China: One time zone for the entire country. A landmass that should span five. In the far west the sun rises at ten in the morning. Unity was chosen over accuracy.
12.Australia: Aboriginal communities have always read time through seasons, animal movements, and the stars above. For over sixty thousand years the land itself served as the calendar. No clock was ever needed. Nature told them everything.
13. Mexico: Mañana means not right now. Urgency is often self-imposed. The present moment has its own demands and they are considered legitimate.
14. Greece: A guest arrives at any hour. You welcome them fully. The clock adjusts to the person. The person never adjusts to the clock.
15. Scandinavia: Months of darkness then months of endless light. The body follows seasons, not schedules. This is ancient. Science is only now catching up.
16. Nigeria: Start times are a suggestion. What matters is that everyone arrives, connects, and the evening becomes what it was meant to be. The experience always outranks the schedule.
17. Indonesia: Jam karet. Rubber time. Time stretches around mood, traffic, and social obligation. Rigidity is considered uncomfortable, not professional.
18. Russia: Eleven time zones. Vast winters. Long silences. Time here is treated with patience that outsiders often mistake for slowness.
19. Egypt: One of the first civilizations to invent a calendar. Yet modern Egyptian social time is deeply flexible. Hospitality always comes before the clock.
20. Congo: Community shapes the day more than any schedule. Time belongs to the people in the room, not the hands on the clock.
21. Philippines: Filipino time is a known and accepted reality. Six in the evening means seven or eight. Arriving before the host is ready is the real social mistake.
22. Vietnam: Built on endurance and long horizons. Planning here thinks in years and generations. Short deadlines feel foreign to a culture that measured time in struggles spanning decades.
23. Tanzania: Pole pole. Slowly slowly. A phrase that governs daily life. Rushing is not a virtue here. Moving with intention is.
24. Argentina: Dinner at ten. Parties at midnight. The night is its own world. Compressing it into earlier hours would make it something lesser.
25. Turkey: A meeting can become a meal can become a long evening. Nobody considers this a deviation. It is simply what time is for.
26. Iran: Its own solar calendar. New Year on the spring equinox. Time tied to nature, poetry, and a civilization so old that modern urgency feels like a passing trend.
YouTube Premium just raised prices. $15.99/month. Up from $13.99.
The family plan is now $26.99/month. That is $323 a year. To remove ads from a website.
YouTube Music: $11.99/month. $144 a year. To listen to songs without ads.
Every video you watch is tracked. Every search is logged. Every pause, every rewind, every rabbit hole at 2 AM. All of it fed into a profile that advertisers pay to access.
You are not the customer. You are the product. You always were.
There is an open source tool that strips every ad, every tracker, and every account requirement from YouTube. Same videos. Same creators. None of the surveillance.
It is called Invidious. 18,900+ stars on GitHub.
Here is what it does:
→ No ads. None. Ever. Pre-roll, mid-roll, banner, sponsored — all gone.
→ No Google account required. Subscribe to channels anonymously.
→ No tracking. No cookies. No fingerprinting. No watch history sent to Google.
→ No algorithm deciding what you should watch next.
→ SponsorBlock integration. Automatically skips sponsored segments inside videos.
→ Audio-only mode. Cuts data and battery use in half.
→ Background play on mobile. Free. Without Premium.
→ Download any video directly. Any quality. Any format.
→ RSS feeds for every channel. Subscribe in your reader.
→ Reddit comments shown alongside videos.
→ No JavaScript required. Works on any browser.
→ Self-host your own instance on any old laptop.
Here's the wildest part:
YouTube sent the developers a cease-and-desist letter on June 9, 2023. They told them to shut down within 7 days.
Invidious said no.
Three years later, they are still shipping. Last commit: 14 hours ago.
Google has spent three years trying to block, sue, and bury this project. They have failed. The repository keeps growing. The code keeps shipping. The community keeps coding.
Every commit is a middle finger to the ad industrial complex.
YouTube Premium Individual: $15.99/month. $192/year.
YouTube Premium Family: $26.99/month. $323/year.
YouTube Music: $11.99/month. $144/year.
Invidious: $0. Forever. No ads. No tracking. No account. No subscription.
269 contributors. 33 releases. 2,100+ forks. Built in Crystal. Battle-tested since 2018.
AGPL-3.0 licensed. The license Google cannot kill.
Your videos. Your privacy. Your choice.
100% Open Source.
(Link in the comments)
🏴✨ 138 years ago today, the English football league was formed! ✅
The 12 founding clubs:
• Accrington FC
• Aston Villa
• Blackburn Rovers
• Bolton Wanderers
• Burnley
• Derby
• Everton
• Notts County
• Preston North End
• Stoke City
• West Brom
• Wolves
KALIAN SADAR NGGAK, KENAPA NEGARA BERKEMBANG KAYAK INDONESIA SUSAH BANGET NAIK KELAS JADI NEGARA MAJU?
Jawabannya bukan cuma karena korupsi, tapi karena A_eri_a sengaja masang 'Sistem Sabotase' biar kita tetap miskin. Ini sisi gelap Perang Dagang yang nggak bakal kalian pelajari di sekolah.
Alasan kenapa negara kita susah maju!!
1. Senjata Berkedok Lingkungan (The Green Hypocrisy)
Kalau lu perhatiin, pas negara berkembang mutusin buat berhenti jual tanah airnya murah-murah contohnya Indonesia yang ngelarang ekspor nikel mentah biar bisa bikin baterai sendiri tiba-tiba Amerika dan Barat teriak protes. Mereka bawa-bawa isu "Lingkungan", "ESG", atau "Pemanasan Global".
Jangan naif, ini bukan soal nyelamatin bumi. Di dunia intelijen ekonomi, ini namanya Regulatory Imperialism. Mereka bikin standar regulasi palsu untuk memblokir produk jadi kita masuk ke pasar mereka. Tujuannya satu: mastiin negara berkembang nggak dapet margin untung besar, dan selamanya cuma jadi "kuli" penyedia bahan mentah murah buat pabrik mereka.
2. Pemenggalan Teknologi (The Tech-Denial Trap)
Pernah denger Amerika ngancem negara-negara yang mau pake jaringan 5G murah dari China? Mereka bilang alasannya keamanan. Padahal, aslinya jauh lebih licik.
Ini adalah taktik Tech-Denial (Pemenggalan Teknologi). Amerika pengen negara berkembang tetap jadi "konsumen bodoh" alias captive market yang cuma bisa beli barang mahal dari Silicon Valley. Lebih parah lagi, kalau kita mandiri secara teknologi atau pake sistem luar AS, intelijen Amerika (CIA/NSA) bakal kehilangan akses backdoor buat nyadap dan mantau infrastruktur vital negara kita.
3. Taktik Mafia Finansial (The Secondary Sanctions)
Ini bagian yang paling mafia. Amerika bisa menghukum negara yang bahkan nggak lagi musuhan sama mereka. Caranya? Pake ancaman ke bank lokal.
Kalau ada bank di negara berkembang yang berani fasilitasin dagang sama negara yang lagi di-sanksi Amerika (misalnya Rusia atau Iran), bank lu bakal langsung diblokir dari sistem Dolar AS. Artinya apa? Kebijakan ekonomi dan luar negeri negara berdaulat itu de facto disandera. Lu nggak nurut sama kemauan Washington? Urat nadi ekonomi lu dipotong hari itu juga.
4. Kesimpulan (The Endgame)
Jadi, perang dagang itu bukan cuma soal Amerika lawan China. Ini soal hegemoni. Barat nggak butuh negara berkembang jadi maju dan mandiri. Mereka butuh kita tetap terjebak di Middle-Income Trap (Jebakan Kelas Menengah).
Your Android phone is sending data to Google every 4.5 minutes.
Even when you're not touching it. Even when the screen is off.
A peer-reviewed study from Trinity College Dublin confirmed it.
12 settings to change right now:
Ada yang berminat nonton TV di zaman sekarang tapi malas dengan TV kabel / digital yang berlangganan?
Mari saya perkenalkan dengan website https://t.co/nySfDwsDpH
@A_M_R_M1@PeterR1234567 Do you “champion Islam”? Did you help the hundreds of thousands of casualties in Gaza? You are hosting the forces massacring Iranian schoolgirls! Munafik!
Indonesia harus dipertahankan!
Kalau Indonesia bubar, kemungkinan bisa terjadi perang saudara yang lebih mengerikan dari Balkan. Selain itu, bubarnya Indonesia juga akan membuat Asia Tenggara menjadi tidak stabil. Bubarnya Indonesia akan menyebabkan jutaan nyawa melayang.
@DrGithiria Mother A, Father A
Child B
Not the father.
Mother B, father B
Child A.
Not the father.
Mother O and Father B
Child A
Not the father.
Mother O, Father A
Child B
Not the father
Mother O, Father O
Child B or A or AB
Not the father.
Father AB
Child O
Not the father
Kawan2 yang butuh, peta wilayah Indonesia dalam format GeoJSON, silakan cek https://t.co/4ITu22D2tf. Tersedia peta provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan.
Data batas wilayah diambil dari API Laravel Nusa: https://t.co/zWy2EoSE2f