Catatan Nadirsyah Hosen atas Klaim “Penambangan Itu Baik, Asal Bukan Bad Mining”
Pernyataan Ketua PBNU, Kiai Ulil Abshar Abdalla, bahwa penambangan adalah hal baik karena membawa maslahat, dan yang buruk hanyalah bad mining, tampaknya menyederhanakan problematika yang kompleks. Memang benar bahwa dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, setiap aktivitas yang membawa kemaslahatan publik (maṣlaḥah ‘āmmah) dapat dibenarkan. Namun, penambangan bukan sekadar perkara teknis antara “baik” dan “buruk”, melainkan melibatkan soal ketimpangan struktural, kerusakan ekologis, dan pelanggaran hak masyarakat lokal. Selama hal-hal ini tidak diperbaiki, yang kita saksikan adalah bad mining. Dan selama hal-hal ini masih dibiarkan, maka tidak elok menormalisasi pertambangan dengan klaim normatif-abstrak.
1. Maslahat Tidak Berdiri Sendiri
Dalam al-Mustaṣfā, al-Ghazālī menegaskan:
فَالْمَصْلَحَةُ الْمُعْتَبَرَةُ هِيَ الَّتِي لَا تُعَارِضُ نَصًّا وَلَا إِجْمَاعًا
“Maslahat yang diakui (mu‘tabarah) adalah yang tidak bertentangan dengan nash atau ijma‘.”
(al-Ghazālī, al-Mustaṣfā, 1/286)
Maka, jika suatu tambang terbukti mencemari lingkungan, merampas tanah adat, dan menghancurkan ruang hidup masyarakat, itu bukan maslahat yang mu‘tabarah, melainkan mafsadah (kerusakan). Tak semua yang menghasilkan uang dan devisa bisa otomatis disebut maslahat.
2. Keadilan Ekologis Adalah Syariat
Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS al-Aʿrāf: 56)
Kerusakan ekologis akibat tambang berskala besar—baik yang berizin maupun liar—tak sekadar meninggalkan luka di permukaan tanah. Ia mencemari mata air, merusak ekosistem, dan mengusir masyarakat dari tanah warisan leluhur mereka. Dalam fiqh al-bī’ah (fiqh lingkungan), kehancuran semacam ini disebut fasād al-bī’ah—kerusakan lingkungan yang sistemik—dan merupakan bentuk khiyānah terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi yang diwasiatkan Allah.
3. Maslahat Tak Sah Jika Lewat Kezaliman
Pemisahan antara good mining dan bad mining terdengar menarik, tetapi gagal menjelaskan bagaimana mayoritas praktik tambang di Indonesia kerap sarat dengan pelanggaran etis, hukum, dan sosial. Bahkan perusahaan-perusahaan yang menyandang “izin resmi” banyak yang melanggar AMDAL, meminggirkan masyarakat adat, dan membungkam protes rakyat. Kiai Ulil tidak bisa menutup mata atas praktek semacam ini.
Dalam hal ini, prinsip dari al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām menjadi sangat relevan. Ia menulis dalam Qawāʿid al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām:
فَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ وَالْعُدْوَانِ فَهُوَ مَحْظُورٌ تَحْرِيمًا، وَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَالإِحْسَانِ فَهُوَ مَطْلُوبٌ وَاجِبًا أَوْ نَدْبًا
“Segala sesuatu yang mengarah kepada kezaliman, keaniayaan, dan pelanggaran adalah hal yang diharamkan. Dan segala sesuatu yang mengarah kepada keadilan, keadilan sosial, dan kebaikan, maka ia adalah sesuatu yang dituntut, baik secara wajib maupun sunnah.”
(al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām, Qawāʿid al-Aḥkām, 1/86)
Artinya, kemasan maslahat tidak dapat menghalalkan kezaliman struktural. Maslahat yang menindas rakyat dan lingkungan adalah tipu daya moral, dan itu harus dilawan, setidaknya dengan suara moral para ulama.
4. Maslahat untuk Siapa?
Jika “maslahat” hanya dinikmati segelintir elite politik, pejabat, dan pemilik saham, sementara rakyat kehilangan air bersih, tanah warisan, dan udara sehat—itu bukan maslahat, tapi penjajahan domestik. Dalam maqāṣid, maslahat harus berkelanjutan, adil, dan mencakup seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan:
Pernyataan “tambang itu baik asal bukan bad mining” bisa menjadi justifikasi moral yang berbahaya jika tidak disertai evaluasi kritis terhadap praktik & dampaknya. Kemaslahatan bukan cuma soal manfaat finansial, melainkan harus diuji melalui prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Nah kan.
Ntar siklusnya emang gitu.
Pertama berhemat, hotel kena, lalu PHRI demo karyawan PHK, selanjutnya kebijakan dirubah lalu cair lagi....
Sama kayak SIM, pertama kasih harapan SIM gratis, lalu muncul berita, segini pendapatan negara hilang .....
Lalu ga jadi gratis.
Media ada bandarnya.... Ini sistem Thailand begini.
Kalau pemerintah ga belanja rakyat nanti makan apa? Kalau pemerintah belanja, Inflasi naik.
Muter gitu sampai tamat.
Sistem keuangannya gitu.
Pemerintah ga punya uang, menerbitkan surat utang, yang beli bank Sentral, darimana bank Sentral dapat uang? kemudian di kasih tahu, Bank Sentral Thailand Independen, kebijakan moneter beda dengan kebijakan fiskal.
Lalu inflasi, bank sentral ketatin suku bunga, kemudian liquidity kering, harga rumah naik. Liquidity kering harga rumah naik, bayangkan. Suku bunga naik, orang berhemat.
Muter gitu ada musimnya. Tapi kita ga pinter pinter, tiap ada duit buat utang baru, yang KKB, KPR, KTA, BNPL dst.
Terus kita bertanya, masa kita kerja terus nyicil lalu mati?
Apa jawaban orang tua? Kalau ga nyicil ga punya apa.
Mampus ga hidup begini?
Itu tadi adalah cerita temen saya di Bangkok, yang udah lama kerja di hotel bintang 5 dekat Kampung apa gitu lupa namanya. Mungkin kejadian itu hanya karangan dia belaka dan hanya terjadi di negeri sana.
Cerita ini tak ada hubungannya sama kita. Ini adalah disclaimer. Tidak perlu verifikasi karena tak ada didunia nyata.
Tautan dibawah hanya kepencet, saya ga ngerti cara hapusnya.
Baru lihat video Youtube, solusi dari ekonomi melambat adalah hidup dengan belanja benar......
Intinya, mengurangi belanja...
🙂↕️🙂↔️🙂↕️🙂↔️🙂↕️🙂↔️
Kalau saya tipikal yang, work hard party hard. 😅😅😅😅
Daripada saya berhemat mending saya bekerja lebih keras. Karena liquidity dunia ini satu. Apa yang terjadi di AS dan Tiongkok, 20% bisa mencukupi keluhan berhemat kita....
Pepatahnya tuh buy when you see blood on the street. Saat sempit adalah saat instrument investasi rontok dan murah.
Duh hidup dari TK ampe Kuliah ampe nikah udah disuruh hidup hemat, sekarang harus hemat lagi tuh, gatel lidahnya.
Berhemat dalam keadaan sempit adalah salah, berhemat adalah dalam keadaan lapang. Mengurangi karyawan berkualitas untuk berhemat dan meningkatkan keuntungan adalah bundir. Yang benar adalah mencari pasar baru, mencari liquidity baru, Uang itu satu, liquidity itu satu, Uang adalah energi, energi tak dapat dimusnahkan tapi bisa di transfer. Berhemat dalam investasi artinya kita mencegah masa depan. Tahu ngga kalau semakin ngerti investasi kita otomatis semakin pelit 😂😂😂. Rumah dan mobilnya Warren Buffet, tetap segitu, gaya hidupnya ngga berubah, padahal duitnya uh oh uh oh.
Didunia ini hanya kita, kalau ada yang belum kecukupan pasti ada yang terlalu berlebihan. Duitnya cuma pindah, ngga hilang, pasti ada yang ketawa diatas kekurangan yang lain.
Lingkari diri dengan optimisme, toxic selalu berujung menyalahkan Tuhan.
Berhematlah saat lapang, jangan berhemat saat sepi. Berhemat saat sepi artinya kita dulu foya-foya berlebihan.
Kenapa saya paling seneng cerita begini?
Karena sesungguhnya dengan kita menyedot liquidity Asing, kita dengan sebenar-benarnya menggerakkan ekonomi Indonesia. Ketika liquidity disimpan dalam Kripto, maka ekonomi riil kita tidak kebagian. Tapi kalau kita tarik, itu menghidupi bank-bank kita, menghidupi LG electronic Indonesia, menghidupi warung disekitar pabrik LG, menghidupi Hartono Elektronika, menghidupi penyewaan Go Box yg ngantarin mesin cuci, menghidupi jiwa kita yang terus berpikir harga barang pada naik, masa kita puasa lagi.
Peringatan saya sederhana, kalau orang fomo untuk depo, kita fomo untuk bangun ruko.
We are not the same. Tarik liquidity itu, bawa kedunia nyata. Majukan ekonomi keluarga.
*PS: Ini bukan endorse LG
Setetes hawa nafsu dapat merusak lautan ilmu, bagaimana bila ilmu yang dimiliki hanya setetes namun hawa nafsunya seluas lautan.
(Habib Jindan bin Novel)
Historically, 1 year after the halving, altcoins go parabolic.
The most important thing now is to buy before the pump.
Many say 'buy the dip' but no one explains how.
Not me... Here's a mega-thread on how to buy the dips 🧵👇
8/➮ So, the overall strategy would look like this:
✧ Checked if we are in dip buying season.
✧ Checked if the alt is still undervalued.
BTC drop by 5% = buy for $100
BTC drop by 10% = buy for $200
BTC drop by 15% = buy for $300
BTC drop by 20% = buy for $400
4/➮ Now let's talk about where to start if you have $0:
- Farm testnet/zero-cost airdrops
- Web3 job
- Ambassador programs
These are all free activities that can help you make your first $1-5k
Kapan lagi bisa ngajak Jensen Huang, si manusia Rp2000 triliun, nongkrong di Blok M dan makan gultik. Founder dan CEO NVIDIA ini juga ngobrolin banyak soal AI di Mata Najwa.
Nonton ya Mata Najwa bareng Jensen Huang, si “Taylor Swift”-nya teknologi.
SEGERA di YouTube Najwa Shihab dan website Narasi.
| Mata Najwa
#MNJensenHuang #MataNajwaJensenHuang #NVIDIA
Sdr @gibran_tweet, membuka pos pengaduan diktr Wapres itu gaya walikota atau bupati yang tak percaya kinerja anak buahnya. Karena Anda sdh dilantik sbg WAKIL PRESIDEN maka berpikirlah lbh besar dan bertindaklah lbh taktis. Mis, buat KPI yg jelas dan terukur pada setiap kementerian lalu hukum sesuai kewenangan Anda klu tak tercapai. Ngga lucu khan klu setengah rakyat Indonesia datang mengadu? Saya gak tahu apakah Anda sadari rakyat penuh dgn masalah saat ini dan butuh pertolongan negara. Terutama soal keadilan hukum dan ekonomi. @prabowo@DPR_RI
Menarik :)
Kata Menteri Pertanian, potensi ekspor komoditas pertanian Rp 600 triliun per thn.
Kalau diolah lagi via pabrikasi, nilai tambah ekspornya meningkat 20 kali, setara Rp 12.000 triliun per thn.
Rupiah bs menguat tajam jd Rp 5000.
Keren sekali pak :)