Foto ini layak menjadi kandidat photo of the year. Imo. Kuat sekali. Presiden kudu marah ke kementerian terkait dan kepala daerahnya. Kog sekolah rusak tidak segera diperbaiki? Ini malah nuding jurnalis Londo Ireng. Media sdg lakukan tugas kontrol sosial kog. Harusnya Presiden terbantu cc @dewanpers@FJPINDONESIA
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Hari ini dalam sejarah, 9 April 1961, Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Reaktor Nuklir TRIGA-Mark II di Bandung. TRIGA singkatan dari Training, Research, Isotopes, General Atomics.
Dalam pidatonya, Soekarno menegaskan bahwa pembangunan reaktor itu ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus sebagai pijakan awal bangsa Indonesia agar tidak tertinggal dalam revolusi sains dan teknologi, khususnya atom dan antariksa.
“Tadi telah diterangkan oleh Pak Siwabessy (Direktur Jenderal Lembaga Tenaga Atom), diterangkan oleh Pak Kosasih (Rektor ITB Prof. Raden Otong Kosasih), bahwa ilmu tenaga atom hendaknya dipergunakan untuk kesejahteraan manusia. Ya memang Indonesia demikian tekadnya. Tidak menghendaki yang tenaga atom itu dipergunakan untuk destruction of mankind, kehancur-leburan daripada kemanusiaan ini. Tetapi saudara-saudara mengerti manakala kita bertekad demikian bagi bangsa kita sendiri, kita harus, tidak boleh tidak harus pula ikut-ikut dalam usaha atom, di dalam usaha outer space (antariksa) ini,” kata Soekarno.*
🔗https://t.co/eYWOPyUKyj
🔗https://t.co/psyGUUioVh
📷Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Reaktor Nuklir TRIGA-Mark II di Bandung. (Upuleru, Memoar G.A. Siwabessy, dan https://t.co/zsMYMCbILC).
Ada kawan pernah bertanya: Mengapa media tempat kamu bekerja seolah tdk pernah memuji keberhasilan pemerintah?
1. Media bukan humas.
2. Ketika pemerintah menggembar-gemborkan programnya berhasil, tugas media adalah menguji klaim itu.
3. Media melakukan liputan berdasarkan fakta di lapangan, bukan klaim sepihak.
4. Ketika memberitakan kebijakan yg baik, media menulis dgn tone positif. Krn pers mesti independen (tidak sama dgn netral), ia tak boleh dicap sebagai corong atau sebaliknya, oposisi.
Tempo sempat memuat opini yang intinya mempertanyakan perlu tidaknya pemerkosaan dijadikan bahan berita pada waktu itu.
Gua dulu sempet bahas soal opini itu di blog lama gua yg skrg udah down tapi kalo minat baca bisa ke link ini yg waktu itu gua ijinin repost >> https://t.co/HlNi5zoRqY
Bismillah, ini Ririe istrinya Ibam, baru recover akun ini 🙏🏼
Terimakasih doa & support untuk Ibam sekeluarga yang sedang berjuang melewati masalah hukum saat ini..
Berikut cuplikan video cerita Ibam, perkenankan juga aku sebagai istri cerita soal yang keluarga kami alami..
📝
Aku mengenal Ibam sejak 2010 ketika dia sedang kuliah beasiswa di Eropa. Setahun kemudian kami menikah dan nekat memulai hidup baru dari nol di Belanda.
Di awal pernikahan kami, Ibam bekerja sebagai software engineer di perusahaan AI logistik di Rotterdam, sementara aku lanjut kuliah S2 di Tilburg pada tahun 2013.
Jujur, kami memulai pernikahan dengan penuh keterbatasan. Akad nikah dan resepsi kami juga sederhana di rumah supaya bisa berhemat.
Sesampainya di Belanda, we had to build everything on our own karena keluarga kami bukan yang bisa "menyuntik" dana kapanpun kalau kami ada kekurangan.
Ketika aku mulai kuliah, kami pindah ke kota kecil, Dordrecht. Di sana kami berbagi satu rumah kecil mungil dengan keluarga lain. Semua demi berhemat uang untuk bayar kuliahku.
Tapi alhamdulillah, atas izin Allah, di tengah keterbatasan itu, aku lulus S2 dan kami dikaruniai kehamilan anak pertama.
Dari masa-masa sulit itu, aku mengenal satu hal pasti tentang suamiku: Ibam adalah pekerja keras dengan integritas tinggi. Dia sangat detail, perfeksionis, dan selalu berjalan lurus sesuai aturan. Ngga pernah neko-neko.
Tahun 2016, kami berada di persimpangan jalan. Sahabatnya mengajak Ibam pulang ke Indonesia untuk membantu Bukalapak. Berat sekali rasanya meninggalkan Belanda yang sudah nyaman. Tapi setelah diskusi panjang dengan keluarga, kami memutuskan untuk pulang.
Di Indonesia, Ibam mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun tim engineering di sana. Dia selalu semangat kalau cerita soal ketemu pelapak dan gimana mereka terbantu pakai aplikasi yang timnya bangun.
But, as his wife, aku juga melihat ada harga yang harus dibayar: kesehatannya.
Ibam memang punya riwayat jantung bawaan dari Ibu dan Kakeknya. Jantungnya selalu berkerja ekstra keras, detaknya selalu di atas 105 bpm walau sedang istirahat. Yang tadinya di Belanda ngga pernah sakit-sakitan, sejak balik ke Indonesia setiap tahun selalu saja ada penyakit berat yang datang dan perlu macam-macam operasi dan rawat inap.
Puncaknya di tahun 2023, tubuhnya seakan kasih sinyal mau kolaps. Siang hari ketika sedang kerja, Ibam tiba-tiba muntah-muntah dan oleng tidak bisa jalan. Kami segera bawa Ibam ke UGD. Alhamdulillah, kondisinya bisa distabilkan.
Beberapa bulan kemudian setelah di MRI, ternyata Ibam kena stroke ringan yang merusak saraf vestibularnya. Sejak itu aktivitasnya mulai terhambat. Belum lagi, setahun sebelumnya dia juga didiagnosa diabetes, yang juga turunan dari keluarganya.
Jujur, aku tidak paham apakah semua penyakit ini saling berkaitan atau tidak, karena aku bukan dokter. Yang jelas, as someone closest to him, I can see that Ibam has not been physically well for the past few years.
Mundur sedikit ke Desember 2019. Waktu itu Ibam dapat tawaran dari Facebook di Inggris. Setelah bolak-balik wawancara ke London, he got the offer. I still remember how happy he was when he told me about it.
Sebagai istri yang waktu itu sedang hamil anak kedua, aku sudah membayangkan akan melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di sana.
Tapi di saat bersamaan, Ibam dihubungi tim yang sedang bantu-bantu Kemendikbud. Mereka punya visi besar soal aplikasi untuk pendidikan Indonesia. Ibam galau. Tapi setelah ngobrol dengan mereka, dia cerita ke aku:
"Kalau Facebook, 5-10 tahun lagi insya Allah masih ada. Tapi kesempatan bantu pemerintah dan pendidikan lewat teknologi kayak gini, langka banget rasanya. Ilmuku bangun aplikasi insya Allah bisa lebih bermanfaat buat banyak orang dengan kita tetap di Indo dan bikin aplikasi buat pendidikan Indonesia."
Dan yang bikin kami lebih yakin, tim itu bilang semua biaya konsultan ditanggung sebuah yayasan dan ngga akan membebani negara sama sekali.
Dengan bismillah dan istikharah, kami menolak London. Meski penghasilan jadi turun, kami yakin rezeki sudah diatur Allah. We said goodbye to London.
Tahun berganti. Ibam bekerja sebagai konsultan eksternal kementerian sejak Januari 2020. Setelah kondisi kesehatannya makin nurun pasca stroke ringan, Ibam curhat ke aku kalau dia ingin resign. Dia ingin bangun startup sendiri sama temannya supaya bisa kerja sambil bedrest dari rumah.
Di Juli 2024, setelah nabung dan kumpulin modal, mimpi sederhana itu akhirnya dimulai. Dia resign dan bikin startup AI yang support kesehatan mental.
Tapi mimpi itu ngga bertahan lama. Tanggal 23 Mei 2025, hidup kami berubah drastis.
Hari itu, ngga ada angin ngga ada hujan, rumah kami digeledah oleh APH (Aparat Penegak Hukum). Seumur hidup, belum pernah aku gemetar ketakutan seperti itu. Melihat petugas berseragam loreng hijau dan tim penyidik ada didalam rumah kami dengan jumlah yang ngga sedikit. Dengkul rasanya mau copot.
Apa yang mereka tuduhkan terhadap Ibam? Tindak Pidana Korupsi yang merugikan negara.
Rasanya seperti disambar petir. Ini kaya mimpi! Mustahil Ibam korupsi. Aku istri yang selalu bisa akses semua rekeningnya. Tidak pernah ada "uang kaget" atau dana ghaib masuk. Semua murni dari gajinya.
Rasanya saat itu juga aku ingin langsung menyodorkan mutasi rekening kami ke para penyidik dan bilang, "Silakan cek, Pak!" Tidak ada yang kami tutupi.
Lagipula, kalaupun Ibam dituduh merugikan negara, di bagian mana dia punya wewenang untuk ambil keputusan? Ibam selalu serahkan keputusan ke kementerian, he never had any authority to decide.
Juli 2025, mimpi buruk itu menjadi nyata. Ibam ditetapkan sebagai tersangka. Aku menangis sejadi-jadinya, membayangkan nasib anak-anak kami.
Coba bayangkan. Ibam itu posisinya cuma konsultan eksternal. Bukan pejabat, bukan PNS, apalagi pengambil keputusan. Tapi anehnya, dia malah dituduh "mengarahkan pengadaan" oleh para pejabat.
Padahal dari awal Ibam kasih masukan tertulis untuk Windows juga, bukan cuma Chromebook. Dan sudah wanti-wanti kalau mereka mau pakai Chromebook ada risiko yang mereka perlu pastiin dulu.
Tapi wanti-wantinya ngga didengar. Pejabat tetap jalan dengan keputusan mereka sendiri. Dan ketika jadi perkara, malah Ibam yang disalahin.
Logikanya, kalau ada niat jahat untuk mengarahkan, kenapa mesti wanti-wanti soal risikonya? Ibam sudah berbuat layaknya seorang konsultan, kasih masukan objektif lalu serahkan keputusan ke pejabat.
Yang lebih bikin nyesek, namanya dicatut di dalam SK dan kajian yang Ibam sendiri nggak pernah lihat wujudnya sampai kasus ini meledak. Di kajian itu ada kolom tanda tangan banyak orang dan kolom Ibam jelas-jelas kosong, tapi dia tetap dituduh yang nyusun kajiannya.
Sekarang, Ibam jadi tahanan kota karena kondisi jantungnya yang rentan. Kami kehilangan segalanya. Ibam kehilangan pekerjaan, startup-nya berhenti dan harus layoff semua karyawan, dan keluarga kami kehilangan sumber nafkah. Tabungan kami sekarang hampir habis.
Aku yang hanya ibu rumah tangga sekarang harus berdiri tegak mencari keadilan, termasuk mencari kuasa hukum yang sebisa mungkin pro bono karena kami ngga sanggup bayar pengacara Tipikor yang biayanya selangit.
However, I truly believe there will always be a silver lining in everything, and Allah’s plan is always the best. Mungkin ini cara Allah mau menaikkan derajat Ibam di sisi-Nya. Di balik status tersangka ini, aku tahu integritas suamiku tak pernah berubah sejak kami susah payah di Belanda dulu.
Aku memohon doa dan dukungan dari teman-teman semua untuk membagikan dan menyuarakan ketidakadilan ini.
Semoga Ibam diberikan kebebasan dan keadilan. Semoga kami dan anak-anak bisa kembali hidup normal, dan badai ini segera berlalu. Allahumma aamiin.
PEMERKOSAAN MASSAL 1998 itu adalah FAKTA bukan RUMOR. Ada laporannya, dokumennya bisa dibaca dan diakses SEMUA ORANG.
Kita JANGAN DIAM perihal ini, ini menunjukkan kalau Negara BISU terhadap KEJAHATAN yang sistematis, terstruktur, dan masif.
https://t.co/62VTDh93NX
Inilah pentingnya ajaran guru saya ketika SMP: "Biasakan melakukan yang benar, bukan membenarkan yang biasa". Jangan sampai terjadi normalisasi sesuatu hanya karena "biasa begitu", "yang lain juga begitu", "dari dulu sudah begitu".
Aku lagi baca Future of Jobs Report untuk 5tahun kedepan buatan World Economic Forum. Isinya insightfull bgttttt.
Bukan centang biru tapi aku pengen share ringkasan isinya pake bahasa bayi 👇��
A thread
Baru menyadari kalimat dari orang tua “sekolah yang tinggi, biar gampang dapet kerja”,
Artinya sesungguhnya, bukan kalo kita sekolah yang tinggi atau kuliah lebih gampang dapet kerja, tapi itu sebuah pesan tersirat supaya kita belajar terus supaya bisa survive di kehidupan dewasa secara berdikari.
Sebagai antropolog, saya tak berusaha menjawab apa santet itu ada atau tidak. Saya lebih akan menelusuri kenapa dia dipercaya dalam konteksnya atau, bahkan lebih spesifik, situasinya. Dalam situasi yang tepat, dia dipercaya, bahkan oleh mereka yang mengaku tidak percaya.
Karena religiusnya Indonesia banyaknya ya sebatas ritual.
Kenapa sholat? Kalo gak sholat nanti dimarahin orang tua/guru
Kenapa puasa? Kalo gak puasa nanti malu sama temen-temen
Jadi moral sama etikanya amburadul. Makanya kelakuan pemerintahnya jg sama aja.
Sepakat 🤜🤛 2016-2024, uda cukup mencekik dengan:
- PPh Progresif, pake TER pula
- PPN dari 10% 👉 11% 👉 12% (2025 rencana)
- Materai 6000👉10.000
- Pajak Natura yg ga masuk nurul, terutama bagian asuransi yg dianggap “kenikmatan”.
Sementara penggunaan pajaknya 🥲
Ada masanya aku iya iya aja dengan kampanye “sex work is work” karena full membacanya dari perspective “barat”.
Sampai kemudian aku ikut penelitian tentang TPPO ke perbatasan Kalimantan.
Ngobrol sama perempuan lokal yang “memilih” jadi PSK.
And wow… did it changed me.