Pelajaran kali ini, jangan terlalu gegabah menilai ikatan pertemanan. Ternyata, setiap hubungan adalah jembatan yang dibangun dari dua sisi. Sebesar apa pun usaha dari satu pihak, ia tak akan pernah sampai bila sisi yang lain ternyata tak pernah ada.
Ada dahan yang lelah menantikan hujan setelah berkali-kali kehilangan daunnya. Pada waktunya Ia kering dan rapuh dengan sendirinya. Asanya yang jatuh ke tanah memupuk akar pohon tempatnya bernaung dulu, agar supaya kepergiannya tak pernah sia-sia.
Burung yang biasa terbang tinggi itu kini hanya menapak di atas rumput, memandang langit yang dulu akrab dengan riuh sayapnya.
Barangkali bukan langitnya yang berubah, hanya dadanya yang sedang terlalu lelah untuk percaya pada tiupan angin.
yo life ain’t supposed to move in perfect sync. Folks always gon’ have a different angle, questioning the road you take. Don’t waste time complaining, get used to it. That’s just how life be.
Semoga cahaya pagi menemukan jalan ke tubuhmu,
menghangatkan sudut-sudut yang lelah,
hingga gelap perlahan belajar pergi tanpa pamit.
memulihkan terangmu menuntun jalanku.
aku merindukan pohon rindang tempatku berteduh, yang menjatuhka buahnya tepat di ubun-ubunku saat aku terlelap dan menjulurkan ranting agar aku terjaga. meski sakit, aku tahu pohon itu hanya memastikan perutku terisi dan hari-hariku tak terlewatkan. ❤️🩹
Selayaknya lukisan selalu memiliki makna, kanvasnya paham betul setiap tatapan yang ia rekam dalam tiap goresan.
Ia tak bertanya tentang apa semua ini,
hanya menerima setiap warna yang jatuh padanya, baik yang lahir dari keyakinan maupun yang tercipta dari keraguan.
Awalnya hanya seperti rakit yang kulepaskan ke laut tenang, sekadar menemani dan mengarungi tepi.
Namun ombak kecil itu diam-diam belajar menjadi pasang, arusnya menarik semakin dalam menari.
hingga kusadar: ombak yang kulalui telah menjelma samudra yang menuntun untuk berlayar
seperti pohon tua di tepi jalan,
akarnya menahan tanah agar tak runtuh, daunnya memberi teduh dari terik, batangnya setia menyangga arah angin.
Namun yang diingat hanya
saat ia berbuah, dan ketika musim kering tiba, tak ada yang bertanya seberapa dalam akar itu pernah berdarah.
nikmati saja waktunya
benar salah itu ada masanya
selalu ada semesta
yang mencatat segalanya
kita hanya singgah bentaran
belajar merasakan, lalu kehilangan
karena tak semua yang singkat itu selalu keliru,
dan tak semua yang lama, berakhir benar selalu