I am constantly reminded of the story of the 1908 and 1928 generations in our nation’s history. If we think about it, many of those who fought in 1908 and 1928 never saw the independence of Indonesia. While those who did had to wait either 37 years or 17 years.
Year after year, they might have been asked, “Where is the independent Indonesia that was dreamed of and promised?” Yet, we know that the struggles of 1908 and 1928 laid the foundation and prepared Indonesia to seize its freedom in 1945. We gained independence because they didn't give up.
Never give up on loving and fighting for Indonesia. We may not see the results we hope for right away, but our efforts are essential to push the momentum toward change, helping it grow and strengthen for a brighter future.
Yahya Sinwar provides a new perspective for the west about Hamas.
Why are they called terrorists?
The newly martyred leader was born into genocide and expelled from his home.
He was raised in a refugee camp amidst war.
He spent over 20 years in Israeli prison studying his faith and how to liberate his people.
How can we be so arrogant as to call his actions anything else than self-defense?
Why is our image of a terrorist a man dressed in a keffiyeh with an ak-47 instead of a suit and a nuclear code?
Perhaps we have been tricked.
Perhaps the people responsible for brainwashing us with media are the same ones currently committing genocide.
Perhaps the real terrorists are at home.
I wanna congratulate the Israeli government for detailing the play by play of Sinwar’s death.
Showing that he fought alongside his men, wasn’t hiding in a bunker.
That you tried to kill him multiple times with tanks and drones and he continued to fight until he *finally* did.
That you’re so incompetent you didn’t even know it was him until afterward.
That you decided it was a good idea to show drone footage of him fighting for his people to the last minute even with one arm after it was blown off.
Congratulations, you made him look incredibly fucking cool and heroic.
This isn’t the win you think it is, ding-dongs 😂
Israel made the mistake of publishing footage of Yahya Sinwar's last moments.
Wearing a kufiyyeh and severely injured, he threw a stick at the drone filming him – a final act of defiance against the Zionist occupation.
In his death, he became a legend.
Recently, I have the opportunity to visit the city of Jakarta to experience first-hand how its transit works. As with other cities, there's the good and the bad of Jakarta.
This is a thread 🧵
“Gue cape2 kuliah tapi ga kepake pas kerja”
RIP:
🪦 problem solving approach
🪦 pemikiran sistematis & runtut
🪦 skill research suatu hal yg kita ga tahu
🪦 critical thinking skill
A gym rat won't judge you for working out.
A millionaire won't judge you for starting a business.
A billionaire won't judge you for dreaming big.
A person with high standards won't label you as obsessed.
It's always the low-life losers who have something to say.
Menurut data, di Indonesia:
1) Laki-laki perokok itu 70%, jadi P(tidak merokok) = 0.3
2) Pengkonsumsi kopi itu 79%, jadi P(tidak ngopi) = 0.21
3) Mancing, gak ada data, tapi anggaplah 10%, soalnya tidak terlalu lazim, jadi P(tidak mancing) = 0.9,
4) Ada survei yang bilang 29% respondennya kurang tidur, kita generalisasi aja, jadi P(tidak begadang) = 0.61,
5) Main game, ini banyak, ada survei bilang 94.8%, jadi P(tidak main game) = 0.052
***
Jadi P(tidak semuanya) = 0.3*0.21*0.9*0.61*0.052 = 0.0018
Jadi kalau ketemu 10,000 orang cowok, yang memenuhi kriteria di atas adalah kira-kira 18 orang
Definisi:
"Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri"
Apa alasanku belajar shalat lagi di umur 33th?
krn menyadari ternyata gerakan shalat tuh mirip yoga
Jadi motivasiku buat belajar shalat lebih khusyuk
✅ perhatiin napas
✅ khidmat baca bacaan dengan mengetahui artinya dalam hati
✅ shalat dalam keadaan berserah dan melepas ego
Kita Bicara Data tentang Umat Islam Indonesia (1)
Kita sepakat bahwa shalat 5 waktu hukumnya wajib. Meninggalkannya dengan sengaja adalah dosa besar. Tapi apakah seluruh umat Islam di Indonesia sudah menunaikannya?
Mari perhatikan data yg diambil dari Indonesia Moslem Report 2019 yg diterbitkan oleh Avara Research:
1. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan selalu dilaksanakan secara berjamaah baru mencapai 2% saja.
2. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan sering berjamaah baru mencapai 7,7% saja.
3. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan kadang-kadang berjamaah mencapai 29,2%.
4. Umat Islam di Indonesia yg sering shalat 5 waktu mencapai 33,8%.
5. Umat Islam di Indonesia yg kadang-kadang shalat 5 waktu mencapai 26,8%.
6. Umat Islam di Indonesia yg tidak pernah shalat 5 waktu mencapai 0,4%.
Sehingga, dapat kita ambil kesimpulan bahwa umat Islam di Indonesia yg selalu melaksanakan shalat 5 waktu baik sendirian atau pun berjamaah baru mencapai 38,9% atau 4 dari 10 orang saja. Sisanya masih 'sering' dan 'kadang-kadang' saja shalat 5 waktunya atau 6 dari 10 orang masih 'bolong-bolong' shalatnya.
Ditinjau dari sisi usia/pembagian generasi, semakin dewasa maka cenderung semakin tertib dalam melaksanakan shalat 5 waktu baik sendirian maupun secara berjamaah. Namun, kondisi ini berlawanan dengan generasi yg lebih muda, khususnya Gen Z dan Younger Millenial, semakin muda maka semakin 'bolong-bolong' shalatnya.
Maksud saya menyajikan ini adalah, diambil dari satu Rukun Islam -yaitu shalat lima waktu saja yg sifatnya wajib dan mutlak bagi seluruh umat Islam, kita masih punya pekerjaan rumah yg begitu besarnya. Masih ada 61,1% saudara kita yg harus kita rayu, ajak, motivasi untuk bisa menunaikan kewajibannya.
Siapa yg akan melakukannya? Ya, seluruh komponen dari kita semua. Baik itu tradisionalis, modernis, atau pun yg fundamentalis. Yg tradisionalis, modernis dan fundamentalis menyentuh lewat jalur pendekatan kultural hingga prosedural dengan 'bahasa' yg dipahami oleh masing-masing cluster masyarakatnya.
Percayalah, jika kita sibuk dengan menyelesaikan problematika umat Islam di Indonesia terkait BAB SHALAT 5 WAKTU ini saja, kita tidak ada waktu dan energi untuk berdebat, saling caci, saling hina. kita bahkan sibuk duduk bersama, membuat pemetaan dakwah. Yg tradisionalis dakwah di mana, yg modernis dakwah di mana dan yg fundamentalis dakwah di mana. Targetnya dibuat, misal tahun 2025 ini yg bolong-bolong shalat 5 waktunya harus berkurang minimal 5 dari 10 atau 50%-nya sudah bisa diajak shalat baik sendirian maupun berjamaah. Atau menaikkan prosentase orang yg sudah shalat 5 waktu dari sendirian menjadi kadang-kadang berjamaah atau menjadi sering berjamaah. Serius, sibuk kita. Tak sempat buang-buang waktu dan energi untuk saling membenci. Yg ada adalah saling berkolaborasi.
Nah, jangan-jangan kita tidak punya prioritas dakwah dan tidak tahu data umat Islam di Indonesia potretnya bagaimana. Sehingga sebagian dari kita berdakwah secara sporadis, tanpa rencana. Padahal, gagal dalam berencana adalah merencanakan kegagalan.
Eit, ini baru bab shalat 5 waktu. Nanti kita buka data umat Islam di Indonesia terkait bab Membaca Al Quran misalnya. Beuh, asli tambah tidak ada waktu yg sia-sia.