Saya punya teman yang anaknya kuliah di Universitas Binus. Dia cerita kalau di Binus ada aturan: ketahuan mencontek, mahasiswa di-DO.
Wow! Saya terkesima.
Lalu dia menambahkan: jika ada alumni Binus tertangkap korupsi, maka namanya akan dihapus dari daftar alumni Binus.
Wow! Wow! Wow! Saya triple terkesima.
Saya jadi mikir, kenapa kampus PTN tidak mengajarkan integritas seperti itu ke mahasiswanya?
Itu adalah sebuah aturan, sekaligus pelajaran, yang menurut saya sangat penting untuk "memperbaiki" bangsa ini. Sebuah langkah dasar dalam membentuk mental anak didik mereka.
Kenapa cuma Binus yang melakukan kebaikan itu? Kenapa cuma Binus yang punya niat untuk membina nusantara ini menjadi lebih baik?
--
Catatan: silakan share jika ada kampus lain juga yang mengajarkan integritas seperti itu.
Akun-akun pembenci Jokowi seperti ini jelas anonim. Mereka memproduksi hoax tanpa henti. Sekali lagi: MEMPRODUKSI.
Lalu keliling ke akun-akun orang menebarkan cacian, makian, dan kata-kata kotor.
Dan Anda mengira akun-akun seperti ini nggak ada yang bayarin? Ah naif sekali.
Mereka ini ada sejak Jokowi "masuk" Jakarta. Bermimpi bisa menjatuhkan Jokowi di tengah jalan mulai 2014. Tapi alih-alih bisa menjatuhkan, mengalahkan Jokowi secara resmi di tahun 2019 pun gagal.
Bahkan sampai Jokowi sudah turun pun, kebencian itu tidak mereda.
Apakah Anda juga ingat ketika La Nyalla pernah mengakui dia memproduksi hoax tentang Jokowi yang katanya tidak muslim? Produsen hoax itu memang ada.
Ijazahnya palsu, Jokowi Kristen, Jokowi keturunan tionghoa, Jokowi keturunan PKI, Jokowi nggak lulus SMA, sudahlah... Anda mau hoax seperti apa saja, tinggal tanya ke La Nyalla dulu ordernya ke siapa.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Guys, Bahlil Lahadalia baru ngobrol panjang di Total Politik dan ada banyak hal yang dia sampaikan yang menurut gue penting untuk dibedah.
Bukan karena semua yang dia bilang benar.
Tapi karena dia ngomong dari posisi yang sangat unik Menteri ESDM, Ketum Golkar, dan orang yang mengaku dekat dengan dua presiden sekaligus.
Soal krisis energi ini yang paling faktual dan paling serius.
Bahlil buka dengan angka yang bikin gue diam sejenak.
Indonesia butuh 1,6 juta barel minyak per hari.
Lifting kita sekarang cuma 605.000 barel per hari. Artinya kita impor hampir 1 juta barel per hari.
Dan 20-25% dari kebutuhan itu melewati Selat Hormuz yang sekarang sedang bermasalah.
Untuk LPG kita butuh 8,4 juta ton per tahun.
Produksi dalam negeri cuma 1,6 juta ton.
Kita impor 7 juta ton lebih.
Hampir 75-80% dari kebutuhan LPG kita.
Bayangkan dengan kondisi geopolitik yang seperti sekarang.
Dolar naik, barang langka dan 20% kebutuhan energi kita dari Selat Hormuz.
Kabar baiknya solar sudah tidak impor.
Ini yang jarang disorot.
Bahlil bilang setelah kilang Balik Papan rampung dan program B50 jalan Indonesia sudah tidak lagi impor solar.
Itu pencapaian nyata yang perlu diakui.
Tapi bensin masih impor sekitar 20 juta kiloliter per tahun.
Dan LPG masih sangat bergantung impor.
Soal harga BBM yang tidak naik ini logikanya:
Asumsi APBN: $70 per barel.
Harga aktual sekarang: $110-140 per barel.
Logika normalnya: naikkan harga BBM untuk kompensasi selisih.
Tapi Prabowo memerintahkan: jangan naikkan. Berpihak pada rakyat.
Bahlil bilang kalau ICP rata-rata di akhir tahun 90-100 dolar subsidi tambahan yang dibutuhkan sekitar Rp150-200 triliun.
Dari mana uangnya?
Bahlil bilang ada dua sumber: pendapatan negara dari sektor migas ikut naik karena harga naik (dari $10,8 miliar ke $17 miliar estimasi), dan optimalisasi PNBP dari sektor minerba lain.
Dan batas toleransinya: sampai ICP di $120 masih bisa ditanggung.
Di atas itu mulai berbahaya.
Soal kapal yang sudah dibeli tapi belok:
Ini yang paling bikin gue tertegun.
Kita sudah ambil dua kapal dari Singapura, sudah menang tender, sudah masuk wilayah Indonesia orang lain beli lebih mahal, kapal belok.
Di kondisi seperti ini ada uang belum tentu ada barang.
Punya kontrak belum tentu barang datang.
Ini bukan ilmu buku. Ini ilmu lapangan yang sangat keras.
Soal LPG dan "revolusi melon":
Bahlil setuju framing Rocky Gerung soal revolusi melon kalau gas melon langka, emak-emak yang pertama turun.
Dan masalah LPG ini bukan baru.
Transformasi dari minyak tanah ke gas dilakukan sejak 2005-2006 tapi tidak pernah ada roadmap untuk membangun industri LPG dalam negeri.
22 tahun berlalu kita masih impor 75%.
Bahlil tidak menyalahkan siapapun secara eksplisit. Tapi dia bilang ada bisnis rente yang sangat menguntungkan di balik ketergantungan impor LPG ini.
Sekarang Danantara sedang dimasukkan untuk mengerjakan DME dari batu bara substitusi LPG dari dalam negeri. Tapi ini butuh waktu.
Soal batubara dan market power yang belum dipakai:
Ini yang paling gue ingat dari seluruh wawancara ini.
43% dari suplai batubara yang diperdagangkan di dunia totalnya 1,3 miliar ton itu dari Indonesia.
Kalau harganya kita tidak bisa atur ya gobloknya kita aja.
Saya tidak mau dibilang menteri goblok.
Indonesia adalah price maker untuk batubara global bukan price taker.
Tapi selama ini kita bertindak seperti price taker.
Dan Bahlil bilang dia tidak mau itu terjadi di masanya.
Soal Prabowo dan Jokowi dan orang yang sok tahu:
Bahlil lugas di bagian ini.
Jangan ada narasi yang memisahkan Pak Prabowo dan Pak Jokowi.
Mereka berdua tokoh bangsa.
Dan hubungan mereka hanya mereka berdua yang tahu.
Jangan ada yang sok tahu.
Dan ini yang paling gue suka dari seluruh obrolan Bahlil:
Dia orang Papua.
Lahir dari keluarga bukan orang kaya.
Tidur dari musala ke musala waktu jadi aktivis di Jakarta.
Tidak pernah bermimpi jadi menteri apalagi ketum partai besar.
Allah terlalu banyak kasih privilese kepada saya.
Saya syukuri aja.
Ilmu kampung saya jangan lupa kebaikan orang lain kepada kita, sekalipun kecil.
Dan jangan ingat-ingat kebaikan kita kepada orang lain, sekalipun besar.
Gue tidak setuju dengan semua kebijakan Bahlil.
Tapi kalimat itu gue simpan.
Doain perangnya cepet selesai.
Serius.
@marrooenn gua disruh gadai BPKB motor sendiri, dia mau pinjam sya dkasih sejuta dia 15 jutaan nnti dia yg cicil kan sedangkan utang lmanya gak dbayar" anjeng memang kwan bgitu cut langsung 🤣🤣
Enak banget nyimak paparan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ini. Terlihat sangat menguasai persoalan.
Sangat wajar jika disebut" salah satu menteri terbaik Kabinet Indonesia Maju.