لن تجد المحبة الاولى مرتين كما لن تجد صدق مرتين
Seperti halnya kamu tidak akan pernah menemukan cinta pertama dua kali kamu juga tidak akan pernah menemukan ketulusan terulang dua kali.
-omar al qodiri
لا شيء أسهل من الكراهية، أما الحب فهو يحتاج نفسًا عظيمة.
Tak ada yang lebih mudah dari kebencian, sedangkan mencintai itu membutuhkan jiwa yang mulia.”
— Syams Tabrizi
لا تَحكم على خُطى الآخرين…
فلربما يسيرون إلى الله
من دربٍ لم تعرفه، ولم تَطأه قدمك يومًا.
Jangan menghakimi langkah orang lain...
Mungkin saja mereka menuju kepada Tuhan melalui jalan yang tak pernah kau kenal, dan tak pernah kakimu injak sekalipun.
أَنْ تَرْفُضَ مَا لَا يُنَاسِبُكَ جُزْءٌ مِنِ احْتِرَامِكَ لِنَفْسِكَ.
"Berani menolak hal yang tidak cocok untukmu merupakan salah satu bentuk menghargai diri sendiri."
Mungkin, kamu tidak butuh waktu lebih lama untuk pulih. Bisa jadi, yang kamu butuhkan hanyalah mencoba hal-hal baru untuk meyakinkan pada dirimu bahwa kenyataan tidak selalu sesuram dulu.
و عقوبة الدنيا لا تتمثل في بلاء عاجل يحل
بالإنسان، و إنّما تتمثل في انغلاق العقل،
و قسوة القلب.
“Hukuman di dunia tidak selalu berupa musibah yang segera menimpa seseorang. Justru hukuman itu bisa berupa tertutupnya akal dan mengerasnya hati”.
قليل من الحب بالعقل الصريح ينفع
وكثير من الحب بالجهل الغميض يصرع.
Sedikit saja dari rasa cinta dengan akal yang cerdas itu akan lebih bermanfaat dan banyak rasa cinta dengan kebodohan yang membabi buta itu akan banyak membawa petaka.
-omar al qodiri
PENDAPAT 4 MAZHAB TENTANG HUKUM IBU HAMIL/MENYUSUI MENINGGALKAN PUASA (QADHA/FIDYAH?)
Abu Hanifah an-Nu'man bin Tsabit
HUKUM = Wajib Qadha saja (mengganti puasa di hari lain).
ALASAN = Kondisi hamil dan menyusui disamakan dengan orang yang sedang sakit. Mereka boleh berbuka demi keselamatan diri atau anaknya namun cukup menggantinya dengan puasa tanpa perlu bayar denda (Fidyah).
DALIL = HR. An-Nasa'i No. 2274 ("Sesungguhnya Allah meringankan puasa bagi musafir... dan juga bagi ibu hamil serta menyusui").
RUJUKAN = Kitab Bada'i ash-Shana'i (Karya Imam Al-Kasani).
Malik bin Anas
HUKUM = Ibu Hamil: Qadha saja. Ibu Menyusui:
Wajib Qadha + Bayar Fidyah.
ALASAN = Hamil dianggap sebagai sakit yang melekat pada tubuh (alami), sedangkan menyusui dianggap sebagai beban tambah luar yang bisa diupayakan cara lain (sep mencari ibu susuan).
DALIL = QS. Al-Baqarah: 184 (Kewajiban membayar fidyah bagi yang berat menjalankan puasa).
RUJUKAN = Kitab Al-Mudawwanah (Karya Imam Sahnun).
Imam Asy-Syafii Muhammad bin Idris asy-Syafi'i
HUKUM = Wajib Qadha + Fidyah (jika khawatir pada anak saja). Jika khawatir pada diri sendiri, cukup Qadha saja.
ALASAN = Jika ibu berbuka karena takut kesehatan bayinya terganggu (bukan karena ibunya sakit), m ia wajib membayar "utang ganda" yaitu puasa da memberi makan orang miskin.
DALIL = Riwayat Ibnu Abbas & Ibnu Umar (Menjelaskan bahwa ibu hamil dan menyusui yang khawatir pada anaknya harus membayar fidyah).
RUJUKAN = Kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (Karya Imam An-Nawawi).
Ahmad bin Hlanbal
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Shaibani
HUKUM = Wajib Qadha + Fidyah (jika khawatir pada anak saja).
ALASAN = Sama seperti Syafi'i, Fidyah diwajibkan sebagai tebusan karena membatalkan puasa demi kemaslahatan orang lain (si bayi), sedangkan Qad adalah kewajiban dasar.
DALIL = QS. Al-Baqarah: 184 (Tentang kewajiban ki orang yang berat menjalankannya untuk membayar fidyah).
RUJUKAN = Kitab Al-Mughni (Karya Imam Ibne Qudamah).
BAB KE 101-102
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقُتٌ تَشْهَدُ فِيْهِ وُجُودَ فَاقَتِكَ ، وَتَرُدُّ فِيْهِ إِلَى وُجُودِ ذِلَّتِكَ
Sebaik-baik waktumu adalah ketika kau menyadari betapa tergantungnya dirimu kepada Allah dan betapa hinanya dirimu.
INI DIANGGAP WAKTU terbaik karena pada waktu ini kau meras hadir dengan Tuhanmu. Kaupalingkan pandanganmu dari segala media, sarana, dan sebab-sebab yang membuatmu semakin ja dari-Nya. Lain halnya ketika kau merasa kaya dan mulia, mala itu adalah waktu terburuk bagimu.
Dikisahkan dari 'Atha as-Silmi bahwa ia, selama tujuh hari, tidak mencicipi sedikit pun makanan dan tidak bisa melakukan apa-apa Namun, hatinya bahagia mengalami hal itu. Ia berkata, "Tuhanku"
sekiranya Engkau tidak memberiku makan tiga hari lagi ke depan, aku akan shalat menyembah-Mu sebanyak seribu rakaat."
Diceritakan pula bahwa suatu malam, Fatah al-Mushili pulang ke rumahnya. Ia tidak mendapati hidangan makan malam, lampu penerang, dan tidak pula kayu bakar, la tetap memuji Allah dengan mengucap alhamdulillah seraya beribadah kepada-Nya. Ia berdoa, Tuhanku, dengan sebab dan wasilah (perantara) apalagi agar Engkau memperlakukanku seperti memperlakukan para wali-Mu?"
Demikian pula yang terjadi pada Fudhail bin Iyyadh. la berkata, Dengan amal apa lagi supaya aku layak mendapatkan hal ini dari-Mu agar aku terus mengalaminya?"
Banyak kejadian serupa yang terjadi pada orang-orang yang dekat dengan Allah. Oleh sebab itu, Ibnu Atha illah berkata, "Kebutuhan adalah hari raya para Murîd."
102
مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ
Apabila Allah telah membuatmu jemu dengan makhluk, ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan untukmu pintu kemesraan dengan-Nya.
DI ANTARA CONTOH Sikap jemu terhadap makhluk adalah merasa muak ketika melihat perilaku manusia, merasa lelah menyembu nyikan rahasia dari mereka, atau merasa bahwa mereka tidak da pat mencukupi kebutuhanmu sama sekali. Dengan perasaan jem ini, Allah hendak membukakan pintu kedekatan-Nya denganmu Jika Dia telah membuka pintu itu dan menyerumu dengan pang gilan-Nya, kau akan menjadi milik-Nya sendirian sehingga kau akan membenci selain-Nya.
Ini seperti yang dialami Abu Yazid. Dikisahkan bahwa ia men dapatkan berbagai keajaiban dan keistimewaan. Kepadanya di-tanyakan, "Apakah semua itu membahagiakanmu?" Dia menjawab, "Saya tidak sedikit pun merasa bahagia dengan ini semua." Ke. mudian, kepadanya dikatakan, "Kau benar-benar hamba Allah yang sejati
"كل حبٍ لا يقودك إلى الله، ليس حباً... هو تعلق."
𝐒𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐛𝐮𝐝𝐚𝐤𝐚𝐧.
-𝐬𝐲𝐚𝐦𝐬 𝐚𝐭𝐭𝐚𝐛𝐫𝐢𝐳𝐢
شمس التبريزي
BAB KE 94
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian
مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ وَمُقْبِلْ
بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ
Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya.
KETIKA MEMBERIMU, ALLAH menampakkan sifat-sifat kebaikan Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, ka sih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperka dakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan saan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan keti-menghendakimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa mem-beri pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita dikenal oleh orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedua cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang dituntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan coba-an-cobaan-Nya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberian-Nya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun dengan sifat-sifat kuasa-Nya.
“Segala sesuatu yang terasa berat bagi jiwa, adalah penghapus dosa.”
Dalam hal ini, Syekh Abdur Razzaq al-Badr pernah mengingatkan kita:
Setiap rasa sakit yang engkau alami adalah penggugur dosa, baik yang kecil maupun yang besar. Setiap luka yang tak terlihat, setiap sesak yang hanya engkau simpan sendiri, atau pikiran yang mengganggumu sampai engkau tak mampu lagi menceritakannya ke siapa pun.
Bahkan, sesederhana senyuman yang dibalas dingin, ketulusan yang tak dihargai, pandangan yang diabaikan, atau omongan di belakang yang menyakitimu.
Ketahuilah, sekecil apa pun itu, tidak ada yang sia-sia di mata Allah.
Maka bersabarlah. Sebab, bisa jadi luka yang kau simpan dalam diam itulah yang justru paling banyak menghapus dosamu.
—Ahadits al-Akhlak
كلّ ما تُحبّه هو أنت،
هو صورةٌ مُّصغرة عنك،
فاختر ما يليقُ بك.
Semua yang kamu cintai itu adalah bagian dirimu, ia gambaran kecil darimu maka pilihlah yang baik untukmu.
-jalaluddin arrumi
Fakhruddin ar-Razi:
“Tujuan doa bukanlah untuk memberitahu Allah tentang kebutuhanmu. Sebab, Dia sudah mengetahui semuanya. Sebaliknya, tujuan doa adalah untuk mengungkapkan kerendahan hati dan kerapuhanmu, serta mengakui bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah.”