Andie Peci dan Rumah yang Akhirnya Ia Wariskan
Ada satu adegan dalam Invictus yang selalu saya ingat: Nelson Mandela memilih rugby β dulu simbol kekuasaan kulit putih Afrika Selatan β sebagai alat rekonsiliasi. Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia bahasa yang menyatukan orang-orang yang saling curiga, asal ada nilai yang sama-sama diperjuangkan.
Andie Peci paham bahasa itu. Hari ini, Jumat 10 Juli 2026, ia pergi untuk selamanya.
Saya dan Andie tidak selalu sependapat. Tapi cara pandang kami soal tata kelola sepak bola Indonesia selalu punya tempat untuk singgah bersama β itulah yang membuat kami satu barisan saat revolusi PSSI di era Nurdin Halid. Bukan karena benci Nurdin secara personal, tapi karena muak dengan nilai yang dibawa dia dan genk-nya: korup, tertutup, menolak dikoreksi. Dari sana lahir "Korupssi" dan "aku berlindung dari godaan Nurdin yang terkutuk"β olok-olok sekaligus perlawanan. Andie punya konsistensi soal ini, saya juga, meski dari sudut yang tak selalu sama. Barangkali di situlah pelajaran terbesarnya: solidaritas sejati tidak butuh kesepakatan total, hanya nilai yang sama-sama dipertahankan sampai titik tersulit.
Nama aslinya Andy Kristiantono, lahir di Madiun, pindah ke Surabaya sejak 1996. Ia dikenal sebagai Presidium Arek Bonek 1927, di garda depan sejak Persebaya diperlakukan tidak adil oleh PSSI pada 2010 β dari orasi di Taman Bungkul hingga Kongres Luar Biasa PSSI β hingga status klub pulih dan kembali ke kasta tertinggi pada awal 2017. Di luar tribun, ia aktivis buruh di Kasbi, jejak yang menjelaskan mengapa ia mengorganisir Bonek secara disiplin dan terstruktur, bukan sekadar kerumunan emosional. Ia bahkan membawa luka fisik β bekas sayatan pisau di siku kiri β akibat menentang mafia dan milisi sepak bola.
Namanya kembali mencuat setelah Tragedi Kanjuruhan 2022, ketika ia mengimbau Bonek tidak menggelar konvoi kemenangan sebagai penghormatan bagi korban yang mayoritas Aremania β ini jadi fondasi rekonsiliasi Bonek-Aremania yang selama puluhan tahun terjebak rivalitas keras.
Ada warisan Andie yang jarang disebut eksplisit: pola suporter turun ke jalan untuk isu kerakyatan yang lebih luas β bukan cuma bola β sedikit banyak ia yang memulai. Ia mengubah massa yang dulu dicap sekadar "bondo nekat" menjadi kekuatan sipil yang tahu mengorganisir diri dan menekan kekuasaan secara terstruktur. Karena itu pula, pulangnya Persebaya 1927 ke pangkuan PSSI pada 2017 bukan sekadar kemenangan Bonek. Itu pembuktian bahwa sepak bola memang alat perjuangan, bukan hanya sekedar hiburan akhir pekan.
RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya jadi tempat terakhirnya, setelah berbulan-bulan sakit yang tak banyak diketahui orang. Jenazahnya rencananya dimakamkan di Manisrejo, Madiun β kota kelahirannya, sebelum Surabaya dan Persebaya menjadi rumah kedua yang lebih ia perjuangkan.
Rumah yang ia perjuangkan selama tujuh tahun kini menjadi rumah abadi baginya. Selamat jalan, Cak Peci.Sudut pikiran dan pandang yang tidak selalu sama denganku, tapi selalu berlabuh di nilai yang sama, adalah warisan yang jauh lebih berharga dari sekadar kesepakatan.
Maaf ditulis dengan terburu-buru, kamu layak mendapatkan orbituari yang lebih baik dari ini Bung, atau setidaknya @persebayaupdate dan Bonek bisa memberikan moment one minute silence sebagai penghormatan terbaik.
Terima kasih
FIN
Kang Gilang Mahesa | KGM
Seperti kalimat pada banner favorit Cak Andie bertuliskan "Mendendangkan Persebaya Selamanya," saat ini giliran kami yang mendendangkan namamu, merawat juangmu, selamanya... π₯
Kalo hari ini sering liat suporter turun ke jalan (dg ragam cara, bendera & metode) dlm isu2 kerakyatan: di situ Andi Peci (sedikit banyak) yg memulai.
Baliknya Persebaya 1927 ga cuma kemenangan Bonek, tapi ttg: sepakbola emang alat perjuangan.
Malah budhal disek kon iku, Cok!
Setiap diskusi apapun ama @AndiePeci gua selalu nyambung, kecuali diskusi tentang Serie A.
pernah kena tegur Iwan Bule (saat itu beliau masih jadi Kapolda Metro Jaya) saat gua diam-diam kasih akses ke Andie dkk untuk ngejebol ke ruang Kongres PSSi di Ancol utk menuntut pengembalian Persebaya dan meminta Persebaya versi Gede Widiade/Haruna dilarang ikut Kongres.
Kalimat itu akan selalu kami ingat, hari ini, esok, dan sampai kapan pun.
Selamat jalan, Mas Peci. Terima kasih telah mengajarkan arti ketulusan, persaudaraan, dan perjuangan tanpa lelah. Kepergianmu meninggalkan duka yang dalam, tetapi semangatmu akan terus hidup di setiap langkah kami.
#PersebayaABG
April, 13 tahun yang lalu, Andie Peci dibacok dan dipukuli sekitar 12 orang berbadan besar.
Peci dianiaya beberapa saat setelah ia mengikuti aksi damai mendukung Persebaya Surabaya 1927 yang tak diakui eksistensinya oleh PSSI.
Karena sepak bola, pria2 beringas itu hendak menculik Peci. Namun Peci menolak, melawan, dan menangkis sabetan2 celurit pelaku. Tangan Peci berdarah, beberapa bagian tubuhnya lebam. Di rumah sakit, Peci menerima 29 jahitan pada tangannya.
Teror itu tidak pernah menghentikan Peci. Dia bersuara semakin lantang, semakin aktif turun ke jalan. Sampai hari ini, para pelaku pembacokan itu tidak pernah terungkap. Siapa otak di balik penyiksaan itu tidak pernah tersingkap.
Hari ini, Peci meninggal dunia, meninggalkan jejak kenangan berupa keberanian dan idealisme pilih tanding.
Peci, sebuah kehormatan bisa mengenalmu. Selamat jalan. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.
salah satu tokoh penting yg berjasa mengembalikan Persebaya setelah dibubarkan paksa, agaknya sangat tidak berlebihan jika matchday Anniversary besok kita berikan persembahan dan tujukan kepada Almarhum atas jasa yang begitu besarnya.
kita doakan semoga Surga tempat barunya π₯
Selamat jalan Cak Andie βPeciβ Kristianto. Nama Anda akan abadi bagi kami, keluarga besar Persebaya.
Teriakan Anda, orasi Anda, keberanian Anda, menjadi salah satu energi utama, sehingga Persebaya kembali ke kancah sepak bola tanah air.
Kami yakin, setiap langkah Persebaya, kebaikan-kebaikan yang mengiringi perjalanan Green Force, akan senantiasa menjadi amal jariyah Cak Andie.
Sugeng tindak Cak Andie, suwargi langgeng, aminβ¦.
Nek negoromu ancur yo peno katut gak isok ndelok balbalan, mosok gak nutut pikirane. Maringono jare gak oleh gowo embel-embel Bonek/Persebaya nang politik, nek Alm Mbah Pamoedji sek orep sido beliau uwong nomer siji seng ngamuk-ngamuk nang uwong seng nggacor koyok ngono.
Mustahil jika menjauhkan supporter dari isu sosial, isu politik, perlawan dan perjuangan, karna pada dasarnya Sepak bola di Indonesia lahir sebagai alat Perjuangan & Perlawanan politik terhadap penjajahan Belanda.