Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Putusan MK sangat jelas: “partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu..” Tapi lucunya DPR akrobat sedemikian rupa untuk menganulir Putusan MK. Logikanya sederhana: masak partai yg tidak punya kursi bisa mencalonkan, sementara partai-partai yg punya kursi harus mencapai minimal 20%-30% utk bisa mencalonkan di pilkada. Saya ngga paham lagi deh 🤪
Dinasti Politik atau Nepotisme memang samakin marak kita temui baik di level daerah sampai tingkat pusat. Tetapi ia tetap lah suatu budaya politik yang buruk, lazim terjadi tidak lantas menjadikannya baik & benar.
#DinastiPolitik#TotalPolitik#AsianValue#HumanRight
Jadi teringat kata Prof. Jimly Asshiddiqie dalam bukunya “Oligarki & Totalitarianisme Baru” ; budaya feodal & tradisi kerjaan sangat kuat pengaruhnya dalam kebudayaan politik masyarakat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan sampai sekarang.