Emang IHSG ga boleh naik.
Lagi bagus2 nya hajar sama windfall tax🤣🤣🤣🤣🤣
remuk lah semua remuk ke jurang dalam,lihat itu tins sampe ARB🤣🤣🤣🤣 ga perlu MSCI FTSE atau asing asing atau Trump kita sendiri bisa kok rusak IHSG 🤣🤣
12 JUTA ORANG NANGGUNG PAJAK 248 JUTA JIWA.
INI FAKTA ATAU LEBAY?
Faktanya lebih kompleks
dan lebih bikin sesak dari yang kamu kira.
Total penduduk Indonesia: 278 juta jiwa (2025).
Yang lapor SPT pajak penghasilan orang pribadi: sekitar 12 juta orang.
Artinya hanya 4,3% dari total penduduk yang aktif bayar dan lapor PPh orang pribadi.
Dari 278 juta orang, kenapa yang lapor cuma segitu?
Karena orang dengan gaji di bawah Rp 4,5 juta per bulan memang tidak wajib bayar PPh sama sekali.
Dan kenyataannya, mayoritas penduduk Indonesia masih ada di angka itu. Jadi memang bukan 12 juta yang lolos pajak
tapi 12 juta yang penghasilannya memang kena pajak.
Yang terdaftar sebagai wajib pajak orang pribadi sebenarnya ada 80 juta lebih
naik drastis karena NIK sekarang otomatis jadi NPWP.
Tapi punya NPWP ≠ bayar pajak.
Yang benar-benar punya penghasilan kena pajak dan aktif bayar?
Ya sekitar 12 juta itu.
TAPI APAKAH KELAS MENENGAH SAMA SEKALI TIDAK DIBANTU?
INI YANG SERING SALAH KAPRAH.
Total insentif + subsidi + bansos yang dikucurkan pemerintah tahun 2025 mencapai
Rp 827 triliun. Dan yang menikmati paling besar justru bukan orang miskin — tapi kelas menengah ke atas.
Rinciannya bikin melongo
Kelas atas (desil 10) menerima manfaat Rp 142,5 triliun per tahun
mayoritas dari insentif PPN senilai Rp 91,9 triliun.
Kelas menengah (desil 9) menerima Rp 96,8 triliun
dari insentif PPN Rp 41 triliun dan subsidi energi Rp 38,5 triliun.
Insentif PPN itu artinya apa? Setiap kali kamu beli rumah, tiket pesawat, jasa keuangan, kendaraan pemerintah "nombokin" pajaknya.
Siapa yang beli barang-barang itu? Ya kelas menengah ke atas. Bukan si miskin.
Subsidi BBM pun ternyata 80% dinikmati rumah tangga mampu, bukan yang miskin.
JADI SIAPA YANG PALING RUGI?
Kelas menengah memang terasa paling sengsara dan ada benarnya:
✅ Bayar pajak penghasilan
✅ Tidak dapat bansos tunai
✅ Tapi ikut nikmati subsidi BBM, listrik, dan insentif PPN
❌ Tidak dapat PKH, sembako, BLT
Tapi kelas menengah tetap menikmati subsidi energi, sekolah negeri gratis/murah, BPJS bersubsidi, jalan tol yang dibiayai APBN, dan berbagai insentif pajak yang nilainya puluhan triliun.
Yang benar-benar tidak dapat apa-apa?
Justru kelas menengah rentan yang penghasilannya di atas batas bansos tapi jauh dari kata sejahtera. Terlalu "kaya" buat dapat PKH, terlalu "miskin" buat ngerasain insentif pajak properti.
12 juta pembayar PPh , benar.
Menanggung 278 juta jiwa sendirian , setengah benar.
Tidak dapat apa-apa dari negara , ini yang perlu diluruskan.
Masalah sesungguhnya bukan
"si kaya nombokin si miskin."
Masalahnya adalah sistem yang bocor di tengah
uang pajak yang harusnya efisien, habis di birokrasi, program salah sasaran, dan kontrak-kontrak yang janggal.
Kamu yang bayar pajak bukan cuma nombokin orang miskin.
Kamu juga nombokin sistem yang belum beres.
Share kalau kamu juga ngerasa jadi kelas menengah yang paling kena getahnya.
Bayar tiket harganya sama. Capek kerja seharian juga sama.
Tapi kenapa kalau laki-laki duduk di kursi reguler sering dianggap nggak punya hati?
Baru banget gw pulang kerja naik kereta jakarta-bogor terus ada Laki-laki duduk tenang, di depannya ada perempuan berdiri.
Terus si mbaknya pasang muka sinis, atau sengaja mepet-mepet biar si cowok merasa bersalah. Padahal itu bukan kursi prioritas.
Di satu sisi, ada stigma "Laki-laki harus ngalah".
Di sisi lain, laki-laki juga manusia yang bisa capek kerja 8-10 jam. Kalau dia ngalah, dia makin tumbang. Kalau nggak ngalah, dianggap nggak punya etika.
Akhirnya, banyak yang milih pura-pura merem atau main HP padahal hatinya nggak tenang.
cc:threads
Hari ini baca timeline isinya ngeri, karena gue sendiri juga ASN. Ada dosen PNS yang diancam pecat gara-gara ngritik kebijakan. Terus ada istri PNS diteror buzzer sampai WA-nya diserang karena bikin utas yang dianggap ngeluhin kebijakan. Abdi negara sekarang definisinya jadi hamba sahaya penguasa kah? Buka suara dikit langsung mau dikarungin.
(1) Siang tadi hawanya lagi lumayan nyengat (meski sekarang mendung). Habis sholat Zuhur berjamaah, gue milih ngemper dulu di pelataran masjid. Niatnya nunggu agak adem dulu.
Di sebelah gue ada Pak Trisno, tetangga beda blok yang baru pensiun. Tumben mukanya kusut.
"Tumben Pak belum balik, nunggu agak ademan ya?" gue iseng buka obrolan. Dia cuma narik napas panjang, tangannya pelan-pelan mijit lutut kirinya yang kelihatannya mulai sering sakit karena faktor u.
(2) "Panasnya nyengat betul. Tapi kepala saya rasanya lebih panas dari ini, Mas," balasnya pelan. Lalu sunyi lumayan agak lama.
"Anak saya si Rini, semalem nelepon," dia mulai cerita. Rini ini baru sekitar setahun lalu sujud syukur abis lolos CPNS guru SMP di sebuah kabupaten pinggiran Jateng yang berbatasan dgn Jabar.
Gue langsung benerin posisi duduk biar lebih enak dengerinnya.
(3) "Dia cerita soal atap sekolahnya. Gentengnya udah bocor sebagian, balok kayunya keropos. Rini takut kalau pas lagi ngajar, atapnya ambruk nimpa anak murid di kelas," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Gue ngangguk pelan. "Loh, kan tinggal lapor ke dinas atau minimal di-videoin aja biar viral, Pak. Sekarang kan eranya gitu," kata gue santai nyoba ngasih solusi.
Pak Trisno senyum kecut dengernya, persis kayak orang yang lagi nahan getir melihat realita hidup orang kecil.
(4) "Itu dia masalahnya, Mas. Rini pengen banget ngerekam terus di-upload ke medsos. Tapi dia takut ngeliat berita brlakangan ini."
"Ada istri PNS yang cuma bahas kebijakan pemerintah di medsos, menurutnya standar aja, eh nomor WA-nya diserang, suaminya ikut diancam. Apalagi lihat dosen yang mau dipecat itu."
Pak Trisno benerin kopiahnya. "Kepala sekolahnya juga udah wanti-wanti, nyuruh diem aja biar Pemda nggak malu. Nanti SK PNS seratus persennya malah bisa ditahan sama orang dinas lho."
(5) Gue refleks mijit pelipis. Niat baik mau nyelamatin nyawa murid malah dipelintir jadi tindakan pembangkangan. Kejujuran ternyata mahal harganya.
"Saya bingung, Mas. Dari Rini kecil, saya selalu ngajarin buat jujur. Tapi pas udah jadi abdi negara, kejujuran malah bikin dia terancam kehilangan kerjaan," suaranya makin pelan.
Angin siang yang lewat di pelataran masjid bukannya bikin adem, malah kerasa makin pengap dan rasanya nyekik leher.
(6) Gue ngeraih air mineral di sebelah gue, neguk isinya yang mulai anget. Tenggorokan ikutan kering denger curhatan bapak ini.
"Bapak nggak salah ngajarin kejujuran. Rini juga nggak salah. Sistemnya aja yang udah kebolak-balik, Pak," jawab gue pelan mencoba menenangkan pikirannya yang lagi kalut.
Sebagai sesama ASN, gue paham betul posisi Rini. Terjepit antara nurani dan urusan perut. Kadang milih diam itu bukan pengecut, tapi kalkulasi yang realistis demi bisa bayar tagihan.
(7) "Terus Rini baiknya gimana, Mas? Kalau dibiarin, itu nyawa anak orang bisa melayang ketimpa genteng lho," tanyanya penuh harap menatap gue.
Gue mikir bentar nyari celah aman. "Paling bener pakai jalur whistleblower aja, Pak. Rini fotoin diem-diem kondisinya dari akun anonim aja."
"Atau kirim datanya ke akun publik yang biasa nerima aduan warga. Biar viralnya dari luar, bukan dari tangan Rini langsung. Jejak digital Rini bersih dan posisinya di sekolah tetep aman."
(8) Pak Trisno manggut-manggut denger saran gue. Wajahnya lumayan mendingan dikit sekarang.
"Bener juga ya, Mas. Biar orang luar aja yang ributin. Kasihan anak saya kalau harus maju ngelawan birokrasi pemda. Gaji PNS pertama Rini itu harapan besar buat keluarga kecilnya."
Loyal ke negara mestinya ngelindungin rakyat, bukan nutupin aib pejabat. Tapi nyatanya, abdi negara selalu dipaksa merem tiap ada kebobrokan di depan mata mereka demi karir yang aman.
(9) Kalau ketahuan bersuara di medsos, langsung dikerahkan barisan pendengung buat nyerang personalnya. Nomor keluarga diteror, dituduh macam-macam tanpa bukti.
Ujung-ujungnya, pilihan paling masuk akal buat pegawai rendahan ya cuma diem. Nahan mual tiap ngantor demi bawa pulang beras buat nyambung hidup anak-istri.
Azan Asar masih lama. Pak Trisno perlahan berdiri, nepuk-nepuk sisa debu yang nempel di sarung kotaknya sambil tersenyum pait ke arah gue.
(10-End) "Saya duluan ya. Mau ngabarin ibunya Rini biar nggak kepikiran terus. Anak itu mending saya suruh ngajar biasa dan jadi peniup peluit aja, biar aman karirnya," ucapnya getir.
Gue cuma ngangguk dan diam ngeliatin punggung bapak tua itu yang pelan-pelan menjauh.
Matahari siang tadi emang cukup terik ngebakar kulit. Tapi ngeliat kejujuran abdi negara yang gampang dibungkam pakai teror picisan, rasanya negeri ini malah lagi di titik tergelapnya.
cc:threads papaforplanet
Guys, 9 Februari 2026 Thomas Djiwandono resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026-2031.
Dan ada satu hal yang perlu lo catat dari hari pelantikan itu: kurs rupiah saat itu masih di Rp17.000-an per dolar.
Sekarang akhir April 2026 rupiah sudah di Rp17.335 per dolar.
Dalam kurang dari tiga bulan sejak pelantikan rupiah melemah lebih jauh.
Dan ini bukan angka yang bisa diabaikan.
Tapi sebelum bicara soal rupiah siapa Thomas Djiwandono dan kenapa pengangkatannya kontroversial sejak awal:
Thomas Djiwandono adalah keponakan Presiden Prabowo Subianto.
Sebelum dilantik sebagai Deputi Gubernur BI dia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Dan ketika namanya muncul sebagai calon Deputi Gubernur BI Thomas sendiri yang mengakui secara terbuka bahwa dia tidak punya pengalaman di bidang kebijakan moneter dan fiskal bank sentral secara langsung. Dalam kata-katanya sendiri dia akan belajar di sana.
Belajar.
Di posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Lembaga yang mengendalikan suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan 270 juta orang.
Sekarang lihat datanya dan ini yang paling mengerikan:
Rupiah bukan hanya melemah terhadap dolar Amerika.
Mata uang kita melemah terhadap mata uang yang secara historis dianggap jauh lebih lemah dari rupiah.
Dalam satu tahun terakhir rupiah kehilangan 9,6% nilainya terhadap Zimbabwe Gold.
Negara yang pernah punya inflasi miliaran persen sampai harus mencetak uang senilai 100 triliun dolar Zimbabwe yang tidak ada nilainya sama sekali.
Rupiah kehilangan 6,6% terhadap Yemeni Rial. Mata uang negara yang sedang dalam kondisi perang saudara bertahun-tahun dan ekonominya hampir runtuh total.
Rupiah kehilangan 17,7% terhadap Nigerian Naira. Mata uang Nigeria yang setahun lalu juga sedang dalam krisis depresiasi besar yang membuat masyarakat Nigeria menjerit.
Biarkan itu meresap sebentar. Mata uang Indonesia negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, penghasil nikel terbesar dunia — dalam satu tahun terakhir kalah dari Zimbabwe, Yaman, dan Nigeria.
Ini bukan serangan kepada Thomas secara personal ini kritik terhadap sistem yang menghasilkan keputusan ini:
Masalahnya bukan semata-mata Thomas sebagai individu. Mungkin dia cerdas. Mungkin dia pekerja keras. Mungkin dia bisa belajar cepat.
Masalahnya adalah: mengapa posisi sekritis Deputi Gubernur Bank Indonesia diisi oleh orang yang mengakui sendiri tidak punya pengalaman di bidang itu?
Bank Indonesia bukan tempat magang. Bukan tempat belajar sambil jalan. Setiap keputusan yang salah di level itu tentang suku bunga, tentang intervensi nilai tukar, tentang kebijakan makroprudensial dampaknya dirasakan langsung oleh ratusan juta orang yang membayar harga barang lebih mahal, yang cicilan kreditnya membengkak, yang tabungannya tergerus inflasi.
Dan satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa seseorang tanpa pengalaman di bidang kebijakan moneter bisa mendapat posisi itu adalah karena dia adalah keponakan presiden.
Soal pelemahan rupiah konteks yang perlu jujur:
Gue perlu jujur: pelemahan rupiah bukan semata-mata kesalahan Thomas atau BI saja. Ada faktor global yang besar dolar Amerika menguat karena kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi, konflik di Timur Tengah yang mengguncang harga minyak dan sentimen risiko global, dan outflow asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Tapi ada juga faktor domestik yang tidak bisa diabaikan: defisit APBN yang sudah di atas 3% GDP secara annualized, kepercayaan investor yang terguncang oleh berbagai kebijakan yang dianggap tidak konsisten, dan ya sinyal bahwa posisi-posisi krusial di lembaga strategis diisi berdasarkan kedekatan keluarga bukan kompetensi.
Kepercayaan adalah salah satu faktor terpenting dalam nilai tukar. Dan ketika pasar melihat bahwa Bank Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang posisinya lebih berdasarkan koneksi daripada track record itu adalah sinyal negatif yang sangat nyata.
Pola yang lebih besar dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Thomas bukan satu-satunya.
Di awal pemerintahan Prabowo ada Jumhur Hidayat sebagai Menteri Tenaga Kerja tanpa latar belakang yang relevan. Ada Hanif Faisol sebagai Wamenko Pangan.
Ada berbagai posisi yang diisi berdasarkan pertimbangan balas jasa politik dan kedekatan bukan berdasarkan kompetensi teknis yang dibutuhkan.
Di Kemenkeu ada keponakan. Di BI ada keponakan. Polanya sangat jelas.
Dan masalahnya bukan hanya soal moral atau nepotisme sebagai konsep abstrak. Masalahnya adalah: Indonesia sedang menghadapi tekanan ekonomi yang sangat serius.
Rupiah di Rp17.335. APBN tertekan. Daya beli masyarakat melemah. Suku bunga tinggi menekan investasi dan konsumsi.
Di kondisi seperti ini yang dibutuhkan adalah orang-orang terbaik di posisi yang paling kritis. Bukan orang-orang yang "akan belajar di sana."
Rupiah yang melemah terhadap Zimbabwe, Yaman, dan Nigeria bukan pencapaian yang perlu dirayakan. Itu adalah sinyal yang harus membuat kita semua bertanya dengan sangat serius:
apakah orang-orang yang memegang kendali kebijakan ekonomi kita benar-benar punya kapasitas untuk menyelamatkan rupiah dari tekanan yang sedang terjadi?
Karena kalau jawabannya diragukan yang menanggung konsekuensinya bukan mereka yang dilantik dengan sumpah di hadapan Mahkamah Agung. Yang menanggung konsekuensinya adalah rakyat yang setiap hari harus bayar harga barang yang makin mahal dengan rupiah yang nilainya makin tipis.
Guys, ada screenshot yang beredar diduga dari akun anak Purbaya yang merespons komentar soal Sri Mulyani.
Komentarnya: "Srimulyani ga segininya dulu hmm
Jawaban yang diduga dari akun tersebut:
Ya jelas, dulu nurut sama asing. Sekarang mah kita harus mandiri.
Toh koreksi cuma bentar terus balik lagi.
Atau lo mau naikin pajak biar makin ancur?
Dan gue mau bedah narasi ini secara jujur karena ada beberapa hal yang sangat tidak konsisten di sini.
Klaim "dulu nurut sama asing, sekarang harus mandiri" mari kita cek faktanya:
Kalau yang dimaksud mandiri adalah tidak bergantung pada rekomendasi asing lalu bagaimana kita menjelaskan bahwa:
Presiden Prabowo adalah kepala negara yang paling sering keluar negeri dalam beberapa bulan pertama jabatannya ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia mencari investasi asing, meminta kerjasama asing, menawarkan proyek ke investor asing.
Kalau itu bukan "nurut sama asing" lalu apa namanya?
BYD masuk Indonesia — perusahaan China. Diminta investasi. Diterima dengan tangan terbuka. Lalu regulasi pajaknya berubah mendadak yang membuat BYD sendiri harus angkat bicara minta kepastian regulasi.
Danantara — lembaga investasi yang salah satu tujuan utamanya adalah menarik investasi asing masuk ke Indonesia.
Pinjaman luar negeri — jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun. Semuanya kepada kreditor asing.
Jadi "mandiri" yang dimaksud itu mandiri versi apa?
Soal "koreksi cuma bentar terus balik lagi" ini klaim yang sangat perlu diverifikasi:
Rupiah sekarang di Rp17.300 per dolar.
Dari Rp15.000-an di awal 2024.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Moody's dan Fitch sudah downgrade outlook Indonesia dari stable ke negatif.
Prof. Feri Latuhihin ekonom yang setahun lalu sudah prediksi dolar tembus Rp17.000 sekarang memperingatkan potensi resesi dan dolar bisa ke Rp25.000.
Kalau "koreksi cuma bentar" data ekonominya belum memperlihatkan itu.
Yang terlihat adalah tekanan yang terus meningkat bukan koreksi sementara.
Dan ini yang paling ironi soal Purbaya sendiri yang bilang mandiri:
Purbaya adalah Menkeu yang mengakui sendiri di forum publik:
Dua Dirjennya dicopot karena dianggap sabotase internal.
Dokumen perpajakan beredar tanpa sepengetahuannya.
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya — ada indikasi dilindungi oknum dari dalam Kemenkeu.
Pegawainya bilang "siap pak" tapi tidak dikerjakan tiga bulan.
Dan yang paling telak dokumen kebijakan MBG yang menyebutkan aliran dana keluar dari Kemenkeu tanpa Purbaya tahu.
Kalau Menkeu sendiri tidak tahu ada dana sebesar itu yang keluar dari institusinya narasi "mandiri dan tidak nurut asing" itu mandiri dari siapa dan untuk siapa?
Soal "atau lo mau naikin pajak biar makin ancur" ini argumen yang sangat lemah:
Tidak ada yang bilang solusinya hanya naikkan pajak. Itu strawman argument membuat argumen palsu lawan untuk lebih mudah dibantah.
Yang ditanyakan bukan soal pajak naik atau turun. Yang ditanyakan adalah soal konsistensi kebijakan, transparansi fiskal, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor.
Sri Mulyani di eranya dikenal sebagai Menkeu yang konsisten, transparan komunikasinya dengan pasar global, dan punya kredibilitas yang diakui lembaga-lembaga internasional.
Bukan karena dia "nurut sama asing." Tapi karena kebijakan yang dia keluarkan bisa diprediksi, bisa diverifikasi, dan punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan investor baik lokal maupun asing dibangun dari konsistensi itu. Bukan dari slogan mandiri.
Dan soal siapakah yang sebenarnya "nurut sama asing":
Sri Mulyani memang bekerja dengan IMF dan World Bank. Dia ikuti banyak rekomendasi mereka soal kebijakan fiskal.
Tapi Purbaya sendiri marah-marah ke World Bank ketika mereka memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%.
Feri Latuhihin bahkan berkata: "4,7% sudah bagus. Saya khawatir bisa 0%."
Menolak data dari lembaga internasional bukan berarti mandiri. Itu bisa juga berarti menolak cermin yang memperlihatkan kondisi yang tidak nyaman.
Mandiri yang sesungguhnya adalah kemampuan mengelola ekonomi sendiri tanpa bergantung pada utang luar negeri yang terus bertambah bukan hanya menolak kritik dari luar.
Narasi "dulu nurut sama asing, sekarang harus mandiri" adalah narasi yang kedengarannya gagah tapi tidak konsisten dengan fakta di lapangan.
Presiden ke luar negeri minta investasi asing itu bukan mandiri. Utang luar negeri ratusan triliun jatuh tempo tahun ini itu bukan mandiri.
Rupiah di Rp17.300 dengan modal asing terus keluar itu bukan tanda kemandirian yang berhasil.
Dan Menkeu yang tidak tahu ada dana besar keluar dari institusinya itu bukan tanda pengelolaan fiskal yang mandiri dan kuat.
Mandiri yang sesungguhnya diukur dari hasil bukan dari narasi.
Buat para people pleaser, saya menemukan kutipan yang bagus banget dari Quora.
"Jangan terlalu menimbang rasa sungkan.
Hingga ubi yang kau tanam di ladangmu sendiri enggan kau nikmati demi menjaga perasaan seekor babi."
Salah satu tanda seseorang punya mental yang sehat adalah tahu dengan siapa dia harus dekat. Bukan karena merasa lebih baik dari orang lain, tapi karena dia paham bahwa tidak semua orang membawa pengaruh yang baik dalam hidupnya. Memilih teman bukan soal sombong, tapi soal menjaga energi, batasan, dan kedamaian diri.