jonatan emg ngeselin tapi kok w mellow liat doi kek ga ada passion gitu.. hes clearly still struggling benerin mental tp ayo aja diajak AG krn meski kemungkinan dibully lbh parah lagi, presensinya bikin journey lebih mudah buat alwi dan ubed :')
pls jo bangkit. lu belum habis.
Aku juga pernah mikir, mungkin aku harus "beres" dulu sebelum bisa serius sama siapa pun.
Harus stabil dulu, harus gk overthinking dulu, harus gk punya luka dulu. Tapi makin dewasa aku sadar, manusia mana sih yang bener bener tanpa luka...
NYOMAN PAUL ARO pernah masuk radar TIMNAS INDONESIA U19 untuk persiapan Piala Dunia U20.
Paul berposisi sbg bek tengah, dengan kaki kiri sbg kaki terkuat. Postur 180 cm. Timnas waktu itu emang kekurangan LCB, jd cukup masuk akal klo Paul jd salah satu yg dipantau STY.
Sudah dihubungi oleh Nova Arianto. Udah diminta kirim CV & video pertandingan jg.
Waktu itu Paul masih main di klub Swedia. Krn pembicaraan itu, dia lalu balik ke Indonesia, niatnya buat persiapan klo nanti dipanggil gabung TC Timnas.
Tp sayang, di pengumuman resmi pemusatan latihan timnas, nama Paul ternyata gak pernah ada di dlm skuad.
Entah krn akhirnya gak terpilih sama STY atau emang ada kendala lain. Ya waktu itu lg repot2nya pandemi jg kan.
Setelah itu, Paul coba lanjutin karir sepakbolanya di Indonesia. Lagi2 pandemi bikin sulit. Jalannya liga jg gak tentu.
Sampai akhirnya Paul tiba2 banting setir ke dunia musik. Ikut Indonesian Idol, hingga akhirnya dpt penghargaan AMI Award sbg Pendatang Baru Terbaik.
Ya, namanya jg takdir. Jalan hidup gak ada yg tau 😄
📷Barito Putra, Okezone
If we get on the wrong bus, the most logical thing to do is to get off immediately
The BoP is fundamentally flawed, colonialist, unrepresentative, and inherently undemocratic. The credibility loss of remaining in such ridiculous institution could outweigh those of leaving.
AFC Futsal 2026
AET : Indonesia 5-3 Jepang
⚽ Samuel Eko
⚽ Ardiansyah Nur
⚽ Firman Adriansyah
⚽ Reza Gunawan
⚽ Dewa Rizki
Indonesia lolos ke final, Indonesia lolos ke final, Indonesia lolos ke final 👊😭😭😭🇮🇩🔥
Ngeliat berita tentang mendiang Lula Lahfah, gue miris. Gue tau orang Indo kebanyakan ngebet jadi yang paling A1 soal info. Tapi ini berita duka.
Nggak perlu sampai nyebarin foto mendiang, apalagi bikin asumsi soal penyebab meninggal A, B, atau C. Belum lagi surat kematian lengkap dengan data diri yang disebar tanpa sensor.. ya Allah.
Sebagai penerima informasi, sebenarnya kita cukup tahu satu fakta: yang bersangkutan telah meninggal dunia.
And that’s that.
Deep condolences. Rest in peace.
Memantau crita Aureli. Kalo kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini ke anak di bawah umur korban kekerasan seksual, maka kamu bagian dari kekerasan itu sendiri.
“Anaknya juga mau kok.”
“Anaknya terlalu dewasa untuk umurnya.”
“Dia kelihatan genit dari kecil.”
“Posting fotonya kayak orang gede.”
“Dia kan nggak nolak.”
“Sama-sama menikmati.”
Dan masih banyak lagi contoh kalimat lain.
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah alat kekerasan.
Karena dengan mengucapkannya, kamu:
1. Menghapus fakta bahwa anak tidak pernah bisa memberi consent,
2. Mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban,
3. Menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak—yang seharusnya dilindungi, bukan diadili.
Dampaknya jauh lebih berat ketika kalimat-kalimat ini datang dari orang dewasa yang punya otoritas: orang tua, guru, tokoh agama, aparat, atau figur publik.
Di titik itu, kekerasan tidak lagi berhenti pada pelaku pertama.
Ia berlanjut lewat bahasa. Lewat pembenaran. Lewat “logika” yang terdengar masuk akal, tapi aslinya kejam.
Pedofilia, grooming, maupun statutory ra--pe tidak pernah soal pakaian anak.
Bukan soal sikap anak. Bukan soal apakah anak melawan atau diam.
Semua itu SELALU tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa.
Dan setiap kali seseorang memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, dia sedang berpihak pada kejahatan.
Kalau ada pemilihan pemimpin lagi di masa depan, tolong jangan kufur nikmat. Dikaruniai Tuhan akal sama hati nurani tolong dipakai. Itu kan, yang buat kita berbeda dengan hewan?
Kebodohan dan tidak kompeten sudah membunuh banyak orang.
The Indonesian government allowed foreign companies to destroy entire forests to replace them with palm oil plantations and now an entire region is in danger of environmental collapse as one million people have been displaced and over 900 people are gone.
Ada pak Anies yang pakai rompi relawan dan ngedongeng buat anak-anak, ada Komeng yang pakai rompi relawan PMI dan ngelawak ngehibur korban bencana juga.
Ga perlu poster dengan muka segede gaban.
Bertingkah laku sewajarnya orang waras gini kan ga susah, ya?