Membaca dengan seksama perbedaan mendasar antara karakteristik yang pemilih dan yang terluka. ada garis merah yang untaiannya sama namun karena simpulnya kusut, butuh waktu yang sangat lama untuk mengetahui
Baru kepikiran tentang betapa nyeselnya si juara kedua ketimbang juara ketiga. iya baru ngeh selama ini ga kepikiran kalo yang bikin sesek bukan kegagalannya, tapi hampirnya
kutipan bagus, sering diselipin apalagi biasanya di film-film. kalo ada dua konflik internal sama eksternal yaudah nanti aja, prioritasin buat selesein yang eksternal. gausah nyerang dari dalem. lagian mau lebaran masih aja ribuat perkara dari dalem lah, sunnii-siah lah tai kali
Bagus kata katanya kalo emosi bukan sebuah alasan atas suatu tindakan, namun hanya sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, teleologi
semakin komplek arsitekturnya, semakin harus meningkatkan pengetahuan fundamental. Karena hasilnya akan lebih parah kalau hanya modal bernostalgia tanpa melihat kembali why didalamnya
menulis adalah menjawab kegelisahan, apapun yang ditulis setidaknya yang paling penting adalah buat diri sendiri. terserah mau orang ikut nimbrung tau maksudnya apa atau kaga
ga untuk menghakimi atau cari pembelaan. Namun saat mabuk miras, orang jadi jujur! beda dengan ketika mabuk agama, orang jadi pembohong. penekanan yang hanya akan dilihat dari simpul yang mudah diduga
emang itu yang dijauhin. seakan hanya beberapa orang tertentu dari manusia yang bisa mengalami pengalaman spiritual padahal nyatanya esensinya dikita sendiri, kita yang makhluk spiritual terlepas dari dogma kehidupan tentang makhluk sosial. perkara mengalami kehidupan bak manusia