Di tengah kerumunan roh dan makhluk gaib di desa yang tersembunyi dalam dimensi lain, suara Cahyo menggema.
"Danan!"
Aku menoleh cepat. Cahyo muncul dari tengah kerumunan, menerobos barisan makhluk-makhluk yang semakin padat. Malam telah begitu larut, dan aku kehilangan jejak waktu, terpaku oleh pementasan yang terus berlangsung di hadapanku. Mungkin, di dunia manusia, fajar akan segera menyingsing.
"Panjul? Gimana Galang?" tanyaku cepat, mencari kepastian.
"Kami dihadang Ki Suro," jawab Cahyo, napasnya masih tersengal. "Tapi saat pertarungan semakin sengit, tiba-tiba dia memilih mundur..."
"Mundur? Kenapa? Apa kalian sudah menemukan sukma Tiwi?"
Cahyo tersenyum tipis. "Tenang saja. Mereka punya takdir ceritanya sendiri. Tugas kita hanya memastikan makhluk-makhluk busuk itu tidak mengganggu mereka."
Aku mengerutkan dahi. Jawaban Cahyo tidak sepenuhnya memuaskanku, tapi aku mengenalnya cukup baik untuk tahu bahwa dia tidak akan meninggalkan mereka jika keadaan masih berbahaya.
"Yang lebih penting…" Cahyo menatap ke kejauhan, matanya menyipit tajam. "Aku merasakan kekuatan besar berkumpul di satu tempat."
Mungkin itu sebabnya Cahyo lebih memilih menghampiriku terlebih dahulu.
"Sudah akan dimulai, ya…" gumam Wiralaya, yang sejak tadi diam mengamati situasi.
Langkah berat terdengar mendekat. Sosok Badut Pak Suradirja muncul dari bayangan, melepas topengnya sejenak, lalu menepuk bahu kami berdua.
"Kalian berada di sini karena takdir," ucapnya dalam nada datar. "Tapi kali ini, jangan ikut campur dalam pertempuran ini. Peran kalian bukan di sini."
Aku menatapnya tajam. "Bukan? Tapi kami tidak mungkin diam saja!" protesku. Aku tahu betapa mengerikannya tragedi yang akan terjadi.
Pak Suradirja menghela napas. "Kalian bukan berasal dari sini. Bahkan, kalian bukan dari alam ini. Jika kalian ikut campur, keadaan bisa semakin buruk. Lagipula, kalian tidak bisa memihak siapa pun di sini."
"Tentu saja kami akan memihak yang baik!" Cahyo bersikeras. "Keraton lelembut menjaga keseimbangan alam gaib di gunung ini. Itu jelas!"
Pak Suradirja menggeleng pelan.
"Kalian lupa… Hitam dan putih harus tetap seimbang. Rwa Bhineda harus terjaga. Putih tak selamanya baik, hitam tak selamanya jahat.
Perbuatan baik bisa berakibat buruk, dan perbuatan buruk bisa saja berakhir baik. Alam ini memiliki dua kekuatan yang bertentangan dan harus selalu seimbang.
Biarkan kami yang bagian dari alam Merapi melakukan tugas kami. Dan pastikan, kalian mendapatkan apa yang kalian butuhkan."
Aku terdiam, bingung. "Apa yang kami butuhkan?"
Pak Suradirja menunjuk dadaku dan Cahyo. "Kalian berhasil menutupinya, tapi bagi mereka yang pernah merasakan energi benda itu, mereka akan sadar bahwa sesuatu yang sakral bersemayam di tubuh kalian."
Jantungku berdegup kencang. Aku dan Cahyo saling berpandangan, panik. Selama ini, kami berusaha menekan kekuatan pusaka tanah danyang di dalam tubuh kami, menyembunyikannya dari makhluk-makhluk gaib. Tapi ternyata Pak Suradirja menyadarinya.
"Kalian akan menemukan petunjuk di sini," suara Wiralaya memecah keheningan. "Karena di sinilah pusaka para dewa diciptakan, jauh sebelum Jamurdwipa dipindahkan ke tanah ini."
Aku mengingat kisah itu—tentang dua empu pembuat pusaka keramat yang berakhir tragis, tertimpa gunung yang dipindahkan para dewa. Legenda itu masih berhubungan dengan apa yang terjadi sekarang?
Aku menarik napas dalam. "Baiklah."
Aku menoleh ke Cahyo, meminta persetujuannya. Dia mengangguk mantap.
"Namun jika ada kejadian yang mengancam alam manusia, kami akan bertindak," tegas Cahyo.
Pak Suradirja tersenyum tipis. "Tentu."
Lambat laun, pementasan mencapai puncaknya. Penampilan wayang orang malam itu menjadi penutup megah dari rangkaian pertunjukan.
"Kita pergi," perintah Pak Suradirja.
JALUR MATI ALAS MERAPI
Part 6 - Pusaka Merapi
Mereka terpisah sejak kecil, satu tinggal di alam manusia dan satu tinggal di sisi gaib hutan merapi..
#bacahorror@bacahorror
PENUNGGU PABRIK GULA
Pementasan Tak Kasat Mata
- a horror thread -
Seharusnya aku tak berada di dalam pabrik tua ini saat matahari sudah tenggelam. Malam ini adalah malam mereka yang menghuni tempat ini...
#bacarhorror@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
JALUR MATI ALAS MERAPI
Pos 1 - Sukma yang Tertinggal
Tragedi di Merapi tahun lalu masih membekas di ingatan Galang dan yang lain. Mimpi yang sama terus muncul, dan kemunculan satu sosok membahayakan nyawa Tiwi.
Merapi memanggil kembali...
@bagihorror@IDN_Horor@bacahorror
Buat yang belum baca 2910 Mdpl bisa mampir ke sini ya :
2.910 Mdpl (Maut di Perbatasan Langit)
Part 1 : https://t.co/m1Ag8QPMxs
Part 2 : https://t.co/BCa62XySXz
Part 3 : https://t.co/ArNoXLuvqY
Part 4 : https://t.co/eAnCE5UF9o
Part 5 : https://t.co/ZUJeRt48bh
Di Balik Jejak Melati
- a horror thread –
Bau Melati yang semula menenangkan kini berubah menjadi isyarat kematian.
Sosok pendendam yang membawa ketakutan untuk warga desa. Ia tak akan tenang sebelum dendamnya terpuaskan.
#bacahorror@bacahorror
Dosen gw pernah bilang, mendesah, orgasme, itu semua bagian dari reflek. Itu bukan respon yg bisa dikendalikan. Jd buat laki yg beropini "diperkosa tapi kok keluar, kok ndesah. Pasti diem diem menikmati juga", bgentot lu semua anjing
kisah nyata
"NIAT MERANTAU MAU KERJA, MALAH SETOR NYAWA"
Menurut cerita dari warga, dulu, di rumah itu pernah ada tragedi pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa orang dan di dalangi oleh adik kandung yang punya rumah. lalu dia berhasil di habisi dengan cara di sembelih tepat jam 12 malam di dalam kamar . Tapi sebelum dia meninggal, dia sempet bersumpah....
a thread horror
#bacahorror #asupanhorror @IDN_Horor
–Wanita tanpa kepala di Muara Baru–
Demi menghidupi tiga anaknya yang masih sekolah, Sinta Handiyana bekerja pergi-pulang dari Curug di Kabupaten Tangerang ke Penjaringan, Jakarta Utara. Namun nasib berkata lain. Pada Senin (28/10) ia dibunuh dan dimutilasi oleh teman dekatnya, Fauzan Fahmi (43). Jasad Sinta kemudian dibuang di Danau Muara Baru.
BANYU ABANG
Petaka Tumbal Muara Sungai Berdarah
- a horror thread -
Air sungai itu pernah berwarna merah dengan jasad yang mengapung bersama aliran sungai. Dosa mereka memupuk dendam yang mendalam.
#bacahorror@bagihorror@IDN_Horor