Udah lama denger Majid Irsan Al-Kilani dari kepala sekolahku, tapi baru hari ini namanya kudengar dalam kultum tarawih Dr Adian.
Dulu ga gagas, tapi ada sumber lain yang mulai sebut.
Sangat layak digunakan ini sistem pendidikannya
@semangatvee @SAIBdelvi This, khusus yang persoalan agama ini harusnya kalau salah ya memang salah.
Meskipun tetap perlu ngeliat lagi argumen dan situasinya gimana
Soalnya ada yang ngaku islam tapi aslinya naturalis materialis, ada yang ngaku islam tapi sering syirik. Kalo dah begini baru sulit.
Beda pendapat itu wajar. Ga perlu ribut kalau paham penyampaiannya.
Respectful:
- "Saya ada sudut pandang lain."
- "Kali ini saya kurang setuju."
Disrespectful:
- "Lulusan S2 kok mikirnya ga logis?"
- "Muslim kan? Kok mikirnya gitu?"
Put subjectivity aside & things are ok.
Menteri Agama menggunakan private jet Embrarier Legacy 600 dalam kunjungan kerja ke Bone baru-baru ini.
Private jet berarti:
Biaya mahal
Boros emisi
Gaya pejabat elite
Tepat setahun nganggur. Udah lelah dan malas cari kerja lagi, eh dapat offer full-time employment yang bagus. Ga ngelamar, ga ditanya CV sama sekali, dicolek langsung sama ceo-nya. 3x interview dan 1x paid home test.
Luck nongol karena saya sering publish karya di internet 😃
Interview lo udah oke, tapi tetap ga lanjut. Bukan karena recruiter lupa, mereka cuma sibuk. Tugas lo adalah tetap muncul di radar mereka dengan cara yang tepat.
Menurut gw, follow up yang efektif itu punya ritme. Ga terlalu sering, tapi cukup untuk nunjukin kalau lo serius dan profesional. Tiga momen ini biasanya paling aman.
1. Sehari setelah interview
Tujuannya sederhana: appreciation. Pesan kayak gini udah cukup:
“Thank you for the opportunity to speak with you today. I really enjoyed our conversation and learning more about the role and the team. Let me know if you need any additional information from my side.”
Kalimat ini bikin lo terlihat engaged dan respectful.
2. Seminggu setelah interview
Ini reminder halus. Lo nunjukin kalau lo masih on track dan siap ngebantu prosesnya. Misalnya:
“Hi, just wanted to check in and let you know that I'm still very interested in the position. If there’s anything else you need from me, documents, references, or further details, I’m happy to provide them.”
Nada tetap ringan, ga maksa.
3. Dua minggu setelah interview
Wajar banget kalau di titik ini lo nanyain update. Cara paling aman biasanya seperti ini:
“Hi, I hope you’re doing well. I wanted to follow up and ask if there are any updates regarding the recruitment process. I’m still excited about the opportunity and would appreciate any information you can share.”
Jelas, sopan, dan tetap profesional.
Intinya: follow up itu bukan ngejar. Ini seni menjaga ritme komunikasi supaya nama lo tetap ada di kepala recruiter tanpa bikin mereka risih.
Apakah presiden @prabowo punya rencana dalam mengelola negara ini?
Apakah presiden gak tahu bahwa mengambil dana pendidikan dan kesehatan untuk program MBG itu masuk kategori pelanggaran HAM?
Utusan istanapun mingkem.
tau gak kenapa dalam Al Quran ada ayat yg berbunyi “istri istri kalian adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka”?
salah satu maknanya adalah kita dgn pasangan saling menutup aib dan menjaga marwah (harga diri) & kehormatan masing masing.
ini tuh dzolim ya guys. semarah apapun, ga sepatutnya istri memperlakukan suami kayak gini dan begitupun sebaliknya, apalagi ini di publik.
jgn sampai kita merendahkan harga diri pasangan di hadapan org banyak.
tau ga? org akan memperlakukan kita/pasangan sbgmn kita memperlakukan satu sama lain loh :)
Akhirnya bikin banyak banget game di https://t.co/XiNcxQcqiT 😆
Mau nambah 50 game lagi? Tinggal prompt “bikin lagi donk 50”
Si AI bot akan mikir sendiri game apa yang cocok, dan langsung deploy ke production
Santri Yatim Usia 15 Tahun yang Hafal 7 Juz Jadi Korban Sotomi Oleh Oknum Aparat ....
bantu viralkan tangkap hingga dihukum guys!
Sumber: advokatmohammad
Belakangan ketemu bbrp kawan baik usia 30an. Ada yg profesional, pebisnis dsb.
Kondisinya sama:
- makin pilah2 utk ketemu orang, krn udah capek dijadiin batu pijakan, dimanfaatin aja atau cuma jadi crowdnya orang lain.
- lebih mikirin cost-benefit analysis. Ga selalu available.
Belakangan ini cukup sering belajar & speak up soal “Build Presence”, kenapa? Karna sepenting itu, apalagi buat jobseeker atau yang cari project-an.
Misal gini, kita punya Core Competency yang skillful, tambah jago English.
-> Core Skill + Bahasa = Opportunity
Tapi gimana orang tau skill & value kita, kalau kita gak Build Presence?
Bisa aja, tapi apa gak capek buat apply terus-terusan? Gpp sih, tapi enak juga kalau orang datang sendiri ke kita kan? 🙂
Build presence in your industry:
✅ Share your achievements
-> bukan buat pamer, tapi buat proof of work.
✅ Document the learning journey
-> share apa yang lagi dipelajari
✅ Showcase your portfolio:
-> buat naikin value kita
Caranya?
Share aja di social media.
1. Bikin tuh tulisan di Linkedin.
2. Share juga di Threads & X.
3. Kalau bisa bikin short video di IG/Tiktok/YT? Why not?
Banyak medianya.
Pokoknya…
Kalau lagi learning something? Share aja.
Atau abis achieve something? Masa gak dishare 🙂
Kan enak kalau bisa low friction networking, inbound opportunity, dan buat building trust.
Pokoknya, share your skill.
Coba reply/quote post yang pernah dapat kerjaan atau project karna build presence 🙂