Terima kasih sudah meneruskan, mendetailkan, dan memperkaya diskusi terkait kepastian hukum ini. Semoga makin banyak yg ikut mendorong diskusinya, agar bisa bergulir dan menjadi kesadaran yg lebih luas utk perbaikan.
Buat yg belum sempat baca, tulisan opini lengkap saya juga bisa dibaca lewat tautan di bawah ini ya. Tentang kepastian hukum dan mengapa ketiadaannya bisa memaksa kita hanya berencana pendek. Silakan disimak.
https://t.co/aXvW8Owxa7
Pembodohan Publik tentang Desil dan Orang Kaya
Pemerintah mewacanakan pembatasan Pertalite untuk desil 9–10 dengan menyebutnya “orang kaya”.
Ranking administratif dipelintir demi melegitimasi pencabutan subsidi ini layak Ini disebut sebagai pembodohan publik.
Kenapa?
Narasi “desil 9 = kaya” dan “desil 10 = elite” bermasalah sejak definisinya.
Desil pada DTSEN adalah peringkat relatif kesejahteraan, bukan kelas sosial absolut.
D1 = 10% terbawah
...
D9 = persentil 81–90
D10 = 10% teratas.
Sekarang bandingkan dengan distribusi kesejahteraan BPS September 2024:
• miskin: 8,57%
• rentan miskin: 24,42%
• menuju kelas menengah: 49,29%
• kelas menengah: 17,25%
• kelas atas: 0,46%
Artinya 82,28% penduduk bahkan belum masuk kelas menengah, sementara kelompok yang dikategorikan kelas atas hanya 0,46% populasi.
Kalau distribusi ini dipetakan ke persentil:
P1–P8,57 = miskin
P8,58–P32,99 = rentan miskin
P33–P82,28 = menuju kelas menengah
P82,29–P99,54 = kelas menengah
P99,55–P100 = kelas atas (kaya)
Kalau didistribusikan ke desil:
D1: 85,7% miskin + 14,3% rentan miskin
D2: 100% rentan miskin
D3: 100% rentan miskin
D4: 29,9% rentan miskin + 70,1% menuju kelas menengah
D5: 100% menuju kelas menengah
D6: 100% menuju kelas menengah
D7: 100% menuju kelas menengah
D8: 100% menuju kelas menengah
D9: 22,8% menuju kelas menengah + 77,2% kelas menengah
D10: 95,4% kelas menengah + 4,6% kelas atas
Jadi D9 praktis tidak memiliki kelompok kelas atas atau orang kaya sama sekali.
Kelas atas baru muncul sekitar P99,55, atau hanya setengah persen paling ujung dari distribusi.
Desil 10 mencakup 10% penduduk.
Kelas atas menurut BPS cuma 0,46%.
D10 sendiri juga sangat heterogen.
P91, P95, P99, dan P99,9 memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.
World Inequality Report menunjukkan:
• top 10% menerima 46,2% pendapatan nasional
• top 1% sendiri menerima 17,6%
Untuk kekayaan:
• top 10% menguasai 59,4%
• top 1% sendiri menguasai 19,9%
Jadi konsentrasi kekayaan di bagian paling atas sangat besar. Memasukkan profesional mapan, pengusaha, eksekutif, dan konglomerat ke satu kelompok lalu menyebut semuanya “elite” menghapus struktur distribusi yang sebenarnya.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan pembodohan publik dengan menyederhanakan struktur kesejahteraan seenaknya.
Ketika kelas menengah, affluent, dan kelompok superkaya dicampur dalam satu label, kebijakan yang lahir dari kategorisasi itu sangat mudah salah sasaran.
Mourinho: "Abramovich’s Chelsea, my Chelsea, the Chelsea we built and lasted for many years was a winning club. It was winning everything with me and then with Ancelotti, with Conte and with Tuchel. Chelsea was a winning machine. Every season, Chelsea was winning.
Then there was a big change with crazy investment and a period of a few years where it looked like they lost direction with too many players, too many millions, accumulation of players and a team without a clear philosophy. For a couple of years, it was hard. For one that loves the club, it was hard."
BAD NEWS
All TIME HIGH, Utang Indonesia menyentuh titik tertinggi dengan nilai Rp10.293 triliun, atau sekitar 41% dari PDB Indonesia.
Dikombinasikan dengan fisikal yang terus defisit
Dikombo lagi 2 proyek dengan utang jumbo, kopdes dan kereta cepat yang ditanggung APBN
Ada konten di ig, kopdes bersebelahan cuman bbrp meter, tengahnya ada sawah.
Emang terang-terangan ugal-ugalan ini program.
Kalau masih mau bilang “idenya bagus, awasi implementasinya” matamu suwekkkkk…
Bahwa negeri ini hancur karena tidak diserahkan kepada ahlinya sudah menjadi pengetahuan umum.
Tapi apa yang dilakukan Prabowo terakhir ini mengenai perbukuan sungguh di luar nalar.
Sebagai orang yang banyak bersinggungan dengan dunia perbukuan, ada beberapa hal yang mau kukatakan.
1. Dalam dekade terakhir, ada perbaikan yang cukup signifikan dalam dunia perbukaan kita, lewat inisiatif dari SIBI dan GLN. Beberapa teman terdekat saya terlibat di sana. Saya sangat khawatir ini semua akan diacak2 oleh Prabowo.
2. Seperti halnya di tempat lain, Prabowo sepertinya juga akan merusak apapun yang ia pegang. MBG, Kopdes, Danantara, sebutlah semua. Dan dunia pendidikan kita yang memang sudah tidak baik2 saja mau lebih dirusak lagi? Ini sungguh di luar nalar.
3. Semua tindakan Prabowo ini impulsif. Hanya dengan kunjungan sesaat langsung mau mengubah seluruh ekosistem perbukaan? Mbok ya duduk bareng dulu dengan para pemangku kepentingan. Tapi saya kira itu memang gak ada dalam kamus Prabowo yang one-man-show, dan dikelilingi oleh para pemandu sorak di sekelilingnya
mantan ketua MK, Arief Hidayat cerita pengalamannya ngobrol dgn hakim dari negara skandinavia saat kongres MK sedunia di Madrid
👴🏻: "negara anda 98% ateis, kok gada korupsi?"
👨🏻⚖️: "urusan dunia diselesaikan sebaik-baiknya di dunia"
👴🏻: "saya terpukul krn negeri saya 98% religius tapi justru rusak kyak sekarang ini"
UEFA, AFC, CONCACAF rilis surat bersama. Minta pertanggungjawaban Infantino dan, yang dahsyat, mulai membahas rencana menggelar turnamen sendiri tanpa FIFA.
Tulisan opini saya naik cetak di @hariankompas hari ini. Tentang kepastian hukum, mengapa kerusakannya hanya bergerak satu arah dan bergeraknya dari pucuk, serta apa yg terjadi pada bangsa ketika semua orang terpaksa berhitung pendek. Silakan disimak.
https://t.co/W25aKFRYOg
An 8-year-old boy walked through those doors. A man walks out. Dream lived. Purpose fulfilled. To every academy player at Chelsea: keep believing. Your time will come. Never give up. 💙
After 18 years, it’s time to say goodbye to Chelsea. I arrived as a nine-year-old with a dream, and I leave as a man who’s lived that dream in ways I never imagined. This journey tested me, lifted me, and strengthened me. To every teammate, coach, staff member, and supporter, thank you for shaping me. I gave everything I had, and I’m proud of the person this club helped me become. To the young players: the path won’t always be smooth. But stay ready, stay positive, and keep your faith. God’s timing is always right. Thank you all, truly, with love and gratitude.